Sudah lama juga tak mengisi titik-titik #orakudukeren ini. Terlalu banyak hal pelik yang belakangan ini.
Selamat siang, manisku, apa kabar?. Entahlah apa yang ingin kutulis untukmu. Mungkin tak ada. Belakangan aku hanya ingin malaikat turun. Mengatakan apa-apa yang semestinya mereka lakukan.
Satu bulan sudah tak menemui orang-orang yang sering lalu lalang dihidupku. Satu bulan sudah aku mulai bertanya bagaimana kelak akan menghidupmu.
Jatuh terpuruk dan ditertawakan. Mungkin tak seharusnya aku hidup atas pilihanku. Bukannya malah mempertaruhkan segalanya untuk orang-orang sumbu pendek. Pemikiran lama dan pengalaman yang tua namun tak berisi. Imbasnya, mana peduli mereka pada apa yang aku hadapi. Orang yang mereka doakan terjatuh siang dan malam. Satu kali lagi, aku ingin melihat mereka tersenyum. Tertawa bahagia.
Apa manusia itu harus selalu begitu. Berdiri pada gengsi yang begitu. Menjadi orang bukankah jalan menuju kehancuran. Karena pada hakikatnya, yang paling benar hanyalah pemikiran kaum oportunis. Orang-orang yang bercita-cita menjadi Tuhan.
Manis, kutuklah apapun yang bisa kau kutuk. Jaman yang terkutuk ini atau apapun. Tapi ingatlah manisku, mengutuk itu hanya mengikuti pikiran sempit. Ingatlah semua yang hari ini terkutuk itu pernah tersenyum padamu. Pernah mengulurkan tangan saat kau terjatuh.
Tersenyumlah, manisku. Baik-baik disana.
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 23 Agustus 2017