“Mental
Sosmed!!!”
Olokan-olokan itu masih terngiang
jelas. Dialamatkan pada mereka yang “banyak bacot” di Sosial media tapi jadi
kucing di dunia nyata. Sosial media yang bisa diakses cukup menggunakan ponsel
tentu tidak memberikan tekanan mental untuk orang-orang “berekspresi” dan lebih
seringnya “lepas kontrol” dengan apa yang dilakukan disana. Lain cerita ketika
seseorang saling bertatap muka, dimana perawakan, suara, dan wajah seseorang
sangat berpengaruh dalam menentukan arah pembicaraan. Jangankan untuk hal-hal
yang spontan, untuk sesuatu yang dipersiapkan sekalipun bisa seketika
berantakan. Mental dan kebijaksanaan seseorang baru akan benar-benar teruji. Mental
itu sendiri tidak cukup diartikan dengan keberanian. Orang bermental lain
ceritanya dengan orang nekat. Mereka yang bermental cenderung memiliki arah dan
sikap yang jelas. Sementara yang Cuma nekat lebih terkesan serabutan dalam
berpendapat. Pokoknya kemodalan wani sajalah.
Sosial media tumbuh besar terlalu
cepat. Ibarat memilihara seekor harimau, dia tumbuh besar jauh lebih dari yang
pernah diperkirakan. Sehingga menjadi hal sangat merepotkan bahkan cenderung
mengancam keselematan si pemelihara. Semestinya peliharaan semacam harimau itu
bisa dilakukan bertahap “keamanannya”, lha ini, yang mulanya sebesar seeekor
kucing rumahan yang dijadikan teman berlari-lari tiba-tiba jadi segede pedhet.
Hay modarlah.
Mungkin formula yang membuat
sosial media tumbuh diluar kendali salah satunya adalah “pemaksaan” digitalisasi
yang membabi-buta. Tidak peduli bagaimana kondosi seseorang, hari ini harus
memiliki handphone dengan spesifikasi tertentu yang bisa diinstal aplikasi
ini-itu. Setiap orang dianggap memeiliki piranti itu. Setiap orang dianggap
memiliki akses jaringan dan finansial untuk itu. Setiap orang dianggap bisa
mengakses sebuah server yang mumpuni dan anti-down. Dengan begitu setiap
orang memiliki akses ke siosial media dari beragam pehaman tentang sosial media.
Sebelum akhirnya keluar angka statistik yang dengan judul “antusias masyarakat
akan digitalisasi” atau “peningkatan melek digital”.
Tidak mungkin ini terus tumbuh
tanpa dukungan dari “raksasa-raksasa” di dalamnya. Entah berupa sesuatu yang di
atas meja atau di bawah sekalipun. Berupa argumentasi sop[an-santun hingga
narasi ala jalanan. Kalau ada orang yang menyoroti tentang alam digital yang
sakit maka satukan suara “ tidak usah pake teknologi digital, hidup saja di
hutan atau kembali saja ke jaman batu”. Distempeli sebagai orang aneh yang
membicarakan penyakit alam digital tapi masih menggunakan segala tetek-bengek
digital. Digital sudah menjadi ”Mahzab” yang tak boleh terbantahkan. Ini juga
yang kemudian melahirkan hukum-hukum baru diluar kebijakan dari platform aplikasi
tertentu. Dengan begitu akun sosial media sudah bisa di-identikan dengan
personal seseorang meskipun bukan “akun centang biru”. Yang oleh karena
kegiatan sosial medianya seseorang bisa saja berakibat hukum pidana. Yang semestinya
berakibat penghapusan konten, suspend, banned, penangguhan akun, pada akhirnya
harus ditulis diatas selembar kertas Berita acara pidana. Dan banyak diantara
kasus semacam ini berurusan dengan “ketersinggungan”. Bukan karena sebuah akses
ilegal atau pelanggaran hak cipta/publikasi.
Jaman berjalan, Era berganti. Mengantarkan
kita pada sebuah hal yang berputar-balik semudahnya, semaunya. Kalau dulu
banyak orang-orang yang distempeli “Mental Sosmed”, kini yang terjadi adalah
sebaliknya. Di sosmed banyak orang-orang yang....????? (apsih, rada kesulitan
memberikan istilahnya, heehee) pokonya sekarang banyak “akun” yang merasa
manusia. Sehingga membawa aturan yang begitu formal untuk bersosial media. Jadi
sudah tak heran, suatu postingan, konten, yang tidak kena penangguhan dari
pihat penyelenggara Platform tertentu tapi di adali di kantor-kantor
pengadilan. Minimal dimintai keterangan dan klarifikasi. Kan sekarang sudah
seperti menjadi tren, si klarifikasi itu.
Sosial media yang dulunya untuk
ajang pertemanan, hari ini sudah menjadi trek politik dan bisnis. Sehingga orang-orang
yang tak memiliki kecakapan dan kekuatan di dunia nyata, harus ekstra
hati-hati. Jangan-jangan apa yang di publikasikannya lewat akun-akunnya
menyinggung orang-orang yang jauh meiliki power diatas mereka. Harus sopan-santun.
Kalau perlu cukup “hahahihe” saja dengan alur sosial media yang mulai di dikte
oleh kelompok tertentu. Jangan menyanggah.
Tidak ada yang anti-digitalisasi. Tapi memilah dunia maya dan dunia nyata sebagaimana mestinya sedia kalanya kurasa sangatlah perlu. Rumusnya masih sama : Maya = tidak nyata. Disana hanya ada akun bukan personal seseorang. (kecuali akun yang sudah melaui verifikasi tertentu dan memiliki tanda tertentu : centang biru, misalnya)
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 15 Oktober 2021