Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

MENTAL SOSMED

“Mental Sosmed!!!”

Olokan-olokan itu masih terngiang jelas. Dialamatkan pada mereka yang “banyak bacot” di Sosial media tapi jadi kucing di dunia nyata. Sosial media yang bisa diakses cukup menggunakan ponsel tentu tidak memberikan tekanan mental untuk orang-orang “berekspresi” dan lebih seringnya “lepas kontrol” dengan apa yang dilakukan disana. Lain cerita ketika seseorang saling bertatap muka, dimana perawakan, suara, dan wajah seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan arah pembicaraan. Jangankan untuk hal-hal yang spontan, untuk sesuatu yang dipersiapkan sekalipun bisa seketika berantakan. Mental dan kebijaksanaan seseorang baru akan benar-benar teruji. Mental itu sendiri tidak cukup diartikan dengan keberanian. Orang bermental lain ceritanya dengan orang nekat. Mereka yang bermental cenderung memiliki arah dan sikap yang jelas. Sementara yang Cuma nekat lebih terkesan serabutan dalam berpendapat. Pokoknya kemodalan wani sajalah.

Sosial media tumbuh besar terlalu cepat. Ibarat memilihara seekor harimau, dia tumbuh besar jauh lebih dari yang pernah diperkirakan. Sehingga menjadi hal sangat merepotkan bahkan cenderung mengancam keselematan si pemelihara. Semestinya peliharaan semacam harimau itu bisa dilakukan bertahap “keamanannya”, lha ini, yang mulanya sebesar seeekor kucing rumahan yang dijadikan teman berlari-lari tiba-tiba jadi segede pedhet. Hay modarlah.

Mungkin formula yang membuat sosial media tumbuh diluar kendali salah satunya adalah “pemaksaan” digitalisasi yang membabi-buta. Tidak peduli bagaimana kondosi seseorang, hari ini harus memiliki handphone dengan spesifikasi tertentu yang bisa diinstal aplikasi ini-itu. Setiap orang dianggap memeiliki piranti itu. Setiap orang dianggap memiliki akses jaringan dan finansial untuk itu. Setiap orang dianggap bisa mengakses sebuah server yang mumpuni dan anti-down. Dengan begitu setiap orang memiliki akses ke siosial media dari beragam pehaman tentang sosial media. Sebelum akhirnya keluar angka statistik yang dengan judul “antusias masyarakat akan digitalisasi” atau “peningkatan melek digital”.

Tidak mungkin ini terus tumbuh tanpa dukungan dari “raksasa-raksasa” di dalamnya. Entah berupa sesuatu yang di atas meja atau di bawah sekalipun. Berupa argumentasi sop[an-santun hingga narasi ala jalanan. Kalau ada orang yang menyoroti tentang alam digital yang sakit maka satukan suara “ tidak usah pake teknologi digital, hidup saja di hutan atau kembali saja ke jaman batu”. Distempeli sebagai orang aneh yang membicarakan penyakit alam digital tapi masih menggunakan segala tetek-bengek digital. Digital sudah menjadi ”Mahzab” yang tak boleh terbantahkan. Ini juga yang kemudian melahirkan hukum-hukum baru diluar kebijakan dari platform aplikasi tertentu. Dengan begitu akun sosial media sudah bisa di-identikan dengan personal seseorang meskipun bukan “akun centang biru”. Yang oleh karena kegiatan sosial medianya seseorang bisa saja berakibat hukum pidana. Yang semestinya berakibat penghapusan konten, suspend, banned, penangguhan akun, pada akhirnya harus ditulis diatas selembar kertas Berita acara pidana. Dan banyak diantara kasus semacam ini berurusan dengan “ketersinggungan”. Bukan karena sebuah akses ilegal atau pelanggaran hak cipta/publikasi.

Jaman berjalan, Era berganti. Mengantarkan kita pada sebuah hal yang berputar-balik semudahnya, semaunya. Kalau dulu banyak orang-orang yang distempeli “Mental Sosmed”, kini yang terjadi adalah sebaliknya. Di sosmed banyak orang-orang yang....????? (apsih, rada kesulitan memberikan istilahnya, heehee) pokonya sekarang banyak “akun” yang merasa manusia. Sehingga membawa aturan yang begitu formal untuk bersosial media. Jadi sudah tak heran, suatu postingan, konten, yang tidak kena penangguhan dari pihat penyelenggara Platform tertentu tapi di adali di kantor-kantor pengadilan. Minimal dimintai keterangan dan klarifikasi. Kan sekarang sudah seperti menjadi tren, si klarifikasi itu.

Sosial media yang dulunya untuk ajang pertemanan, hari ini sudah menjadi trek politik dan bisnis. Sehingga orang-orang yang tak memiliki kecakapan dan kekuatan di dunia nyata, harus ekstra hati-hati. Jangan-jangan apa yang di publikasikannya lewat akun-akunnya menyinggung orang-orang yang jauh meiliki power diatas mereka. Harus sopan-santun. Kalau perlu cukup “hahahihe” saja dengan alur sosial media yang mulai di dikte oleh kelompok tertentu. Jangan menyanggah.

          Tidak ada yang anti-digitalisasi. Tapi memilah dunia maya dan dunia nyata sebagaimana mestinya sedia kalanya kurasa sangatlah perlu. Rumusnya masih sama : Maya = tidak nyata. Disana hanya ada akun bukan personal seseorang. (kecuali akun yang sudah melaui verifikasi tertentu dan memiliki tanda tertentu : centang biru, misalnya)