LANGIT JINGGA BUAT IBUNDA
OLEH : T.W. DEON BENK
("cerita ini hanyalah fiktif belaka, bila ada kesamaan nama tokoh tempat,tokoh,ataupun kesamaan cerita kami mohon maaf. tidak ada niat membajak ataupun sinisme dan menyebarluaskan pribadi/karya anda. ditulis untuk hiburan dan diambil nilai-niali mungkin yang terkandung" )
Siang itu berlalu dengan sederhana.
Tak ada pesta yang meriah, bahkan hanya sekedar dekorasi pun tak ada. Hanya ada
sanak keluarga,tetangga, dan seperangkat
petugas dari KUA. Meskipun demkian,pernikahan tetap berjalan hikmat. Walaupun
tidak ada seorang pun yang datang dari keluarga sang suami,Handrian Musya’ban
Prasongko. Terucap ijab dan kobul siang itu,dan sebuah doa untuk keluarga baru
ini,agar selalu dirahmati. Ucap selamat pun berdatangan,dari keluarga dan dan
tetangga. Meskipun tidak pernah ada restu dari sang ayah hingga hari ini. Dan
Ibunda Handrian hanya bisa mendoakan putra nya dari kejauhan. Handrian berusaha
menyembunyaikan kesedihannya sekuat hatinya. Dan di sisi hati masih berharap
satu atau dua orang keluarganya hadir hingga sebelum adzan duhur ter
kumandangkan hari ini.
Semua ini berawal dari sebuah
keinginan sang ayah,Anggoro Prasongko yang berniat memperjodohkan Handrian
dengan putri sahabatnya, seorang pengusaha pemilik perkebunan apel dari kota
Batu Malang. Namun Handrian menolaknya, dan lebih memilih seorang gadis kampung
yang ia jumpai sewaktu praktik kerja lapangan di bangku kuliah dulu,di sebuah
desa di pinggiran kota Pacitan. Gadis itu bernama Fitria Asmira Wardani,anak
seorang kepala desa. Memang tak ada ikatan kusus sebelumnya.hanya saja dia
pernah mengutarakan niatnya untuk meminang Fitria kepada pak kepala desa,
sewaktu ia menyelesaikan tugasnya dan hendak pulang ke Jogja dulu. Karena hal ini
kemelut begitu menyelimuti keluarga Prasongko. Ayah dan Handrian mulai menampakan
ke tak mau kalahnya. Setiap kali berkumpul membahas masalah ini selalu saja
terdengar suara dengan nada tensi yang tinggi. Setiap itu juga tercucurlah air
mata Tyas susanti Prasongko,ibunda
Handrian,dan juga Riana Adela prasongko,adik Handrian. Susana semakin
liar,jalan fikir ayah dan anak ini terang-terang berbeda. Hingga suatu hari
berujung sudah perbedaan itu. Kekerasan hati sang ayah membawa Handrian pada
pilihan yang berat untuknya. Malam itu selepas makan malam mereka kembali
membicarakan hal perjodohan lagi di ruang tengah tempat mereka kumpul pada
biasanya. Dan Handrian tetap kukuh dengan pendiriannya, tidak mau menikahi
putri sahabat ayahnya tersebut.
“Baiklah, sampai kapan pun kamu
tetaplah anak ku,.. tapi jika memang kamu mempertahankan kerasnya kepalamu
itu,berarti kamu tak tak lagi membutuhkan ayah. Dan kamu juga harus bisa membukti kan kalau kamu
bisa hidup tanpa Ayah,dan apa-apa yang telah ayah berikan. Kamu tahukan yang
Ayah maksutkan?”,.ya begitulah kurang lebih kata yang begitu sadis terlontar dari
bibir sang Anggoro Prasongko. Handrian terdiam,sambil menyangga dagunya pada
kedua tangannya. Hatinya mulai berat memutuskan,di tambah lagi air mata yang
selalu mebasuh pipi Ibu dan Adiknya. Semua berubah diam sekejab kala itu.
Hingga akirnya Handrian mengangkat dagunya dan mengangguk-angguk kepalanya,
“ Baiklah, aku tahu maksut ayah,. Dan
aku tahu jalan yang harus aku ambil untuk hidup ku di kemudian hari,. Tapi
maaf, sekali lagi maaf, aku tetap ngga’ bisa menikahi gadis itu yah, aku ngga’
bisa”,..perkataan Handrian memecah kediaman hari yang kian malam di
rumahnya,sekaligus mebuat semakin deras
air mata yang tersiram dari mata Ibunda dan Adiknya. Mendengar jawaban
sang kakaknya Riana pun berlari
meninggalkan ruang tengah kala itu,sambil membukam mulutnya menahan tangis yang
kian meledak. Mendengar jawaban anaknya yang demikian Ayah Handrian pun tak
terpuaskan hatinya.
“Baiklah, Silahkan berkemas malam ini,
hanya bawa pakaianmu saja,ijzah dan semua sertifikat termasuk gelar sarjana mu itu biar tetap
tinggal di rumah ini. Semoga sukses tuan Handrian,”,kata Ayah Handrian dengan
nada Sinis dan menahan luapan emosinya.
“ terlalu lama aku menunggu pagi di
rumah ini,toh esok pagi belum tentu melihat terang untuk ku,malam ini juga aku
takan lagi tinggal,biar aku cari jawaban tentang apa arti hidupku di luar sana
malam ini juga.dapatkah aku bertahan atau mati termakan terik matahari jogja
esok.”Handrian malah semakin liar malam itu. Kekecewaan ayahnya,kesedihan ibu
dan adiknya, akan menjadi bekal ia berkelana malam itu juga. Tanpa berfikir
panjang betapa beratnya menembus kota Jogja tanpa apa-apa yang ia punya.
Handrian pun bagaikan bayi yang harus menitih langkah menerjang debu jalanan
Jogja tanpa siapa-siapa,
Malam kota Jogja makin gemerlap dengan
bintang-bintang kota malam itu. Bersanding dengan hiruk pikuk malam yang kian
menawan. Dan ruang tengah di keluarga Handrian pun mulai kosong. Handrian sudah
mengemasi sejumlah pakaian di lemarin kamarnya. Tak ada lagi yang di bawa
selain pakaian dan sejumlah tabungan yang iya kumpulkan diam-diam selama kuliah
dulu. Selesai berkemas Handrian duduk di tempat tidurnya. Kepalanya tak sanggup
lagi menatap langit-langit kamarnya. Tertunduk
tersangga tangannya mengepal menghadap langit. Tampak masih berat
meninggalkan semua, tapi tak ada jalan lain. Saat seseorang tak mendapat apa yang di mau di
suatu tempat, maka akan mencari tempat lain yang menjajikan mimpinya. Lehernya
seakakn lagi tak kuat menompang beban yang memenuhuni kepalanya. Matanya terpejam
sejenak menahan getir hati yang ia rasakan. Tanpa ia sadar sang bunda berdiri
menahan langkahnya di samping putranya. Berlahan dengan lembut ia membelai
rambut putranya,dan duduk di samping putranya. Pandangan bunda kosong menatap
dinding kamar yang kian kusam. Dan bibirnya mulai tergerak berlahan hingga
merangkai sebuah kata ungkapan hatinya sambil dipeluknya anak laki-lakinya itu.
“Handrian,.., Bunda tahu,kamu udah
dewasa. Tapi ingatlah nak, Bunda selalu mengajari mu sesuatu dari kecil sampai
kau benar-benar memahaminya. Dan seandainya kau tak pernah kembali lagi esok
Bunda juga yakin kau bisa selalu dalam kebenaran. Sejak kecil Bunda selalu
mencoba memberikan yang terbaik buat mu nak, mungkin hanya ini yang sanggup
Bunda bekalkan untuk menghadapi kerasnya dunia di luar sana. Semoga dapat
membantu mu mendampingimu menantang kejamnya debu jalanan…”,..kemudian bunda
berhenti berbicara takngisnya tertahan menutupi kerongkongan hingga tiada lagi
kata yang terucap sejenak. Handrian mualai mencoba menutupi kesedihannya di
hadapan bundanya meski tak bisa. Hingga terucap kata dari bibir Handrian.
“Bund, maafin Handri ya,.. Handri ngga’
bisa menerima semua ini. Ini masalah masa depan handri Bund,..ngga’ munkin
dong,menikahi gadis yang ga pernah aku temui sebelumnya bund. Walaupun Bunda
selalu mengajari ku,kalau seorang istri tak harus cantik,pintar,apalagi kaya.
Bunda selalu bilang agar kelak aku mencari Istri yang mengerti,nerimo,dan nurut
suami, soal aqlak dan tingkah laku, itu tugas suami untuk mendidik Istrinya
pada jalan yang benar,..begitu kan Bund,tapi maaf kali ini aku benar-benar
ngga’ bisa ,..maasin ya Bund,..”kata handriasn pada sang Bunda kala itu.
“ Memang nak kau selalu paham dan
mengerti yang selalu bunda ajarkan kepada mu, Bunda ngga’ akan nyalahin
siapa-siapa dalam masalah ini. Jujur Bunda awal ngga’ mengerti kenapa ayah
begitu ngotot dengan perjodohan ini. Tapi kemarin Sahabat ayahmu menjajikan
perkembangan Batik kita jika kamu mau mendampingi Putrinya. Bunda juga
mempermasalahkan ini,jauh sebelum ayah mu mengatakan ini pada mu nak.
Tapi,ayah mu tak pernah mau mendengar permintaan kacil bunda untuk mu nak.
Apadaya bunda…kamu tahukan,Bunda selalu mendidik anak-anak Bunda untuk Menjadi
Suami yang dapat mendidik istrinya,dan menjadi seorang Istri yang patuh pada
suaminya,apapun keadaannya,.mungkin itu yang ingin bunda lakukan sekarang.
Menjadi seorang istri yang patuh sepenuhnya pada suaminya..”kata bunda
meneguhkanhati putranya.
“Semoga saja Alloh selalu melimpahkn
rahmatnya untuk bunda. Handrian janji Bund,apa Bunda ajarkan pada kami akan
selalu ku pegang teguh,terimakasih ya Bund,udah ngajarin Handrian dari
ngaji,baca tulis, Hingga masalah kompleks kehidupan dan syara’,..dan mungkin
ini saanya buat handrian memakainya meski tak di samping Bunda. Maaf
Bund,Handrian harus pergi”kata handrian.
“ Pergilah nak,Bunda selalu berdoa
untuk mu,.. dan bawalah ini,di dalamnya,ada sedikit bekal untuk mu,dan ada juga
alamat saudara tiri Bunda yang selama ini tak pernah kalian tahu.”kata bunda
sambil memberikan sebuah bingkisan pada putranya
Diciumnya sang bunda,dan
dimantapkannyaniatnya,dan dibelakanginya semuanya,dan melaju pergi. Sesekali
dia menoleh,namun tak mungkin menelan lidahnya sendriri. Dan Handrian pun pergi
malam itu juga.
Setiadaknya hal itulah yang
mengantarkan Handrian pada hari ini. Sebuah hari yang memastikan berakirnya
masa lajangnya. Melabuhkan cinta kasih sayangnya pada seorang gadis.
Waktu berlahan berlalu, Handrian masih
saja termenung setelah terucapnya ijab dan kobul hari itu. Bayangannya masih
berharap kerabatnya ada yang datang pagi ini. Paling tidak saudara tiri sang
Ibunda yang telah ia temui kemarin. Detakan jarum semakin kencang di drngar
Handrian. Seakan ia menghitungi setiap waktu yang mulai bergulir. Hingga hari
semakin terpanasi mentari Handrian mulai membuka senyuman kecil di bibirnya
yang semula masam. Dari pintu yang terbuka tampaklah sebuah mobil hitam
berhenti di depan rumah. Dan mobil itu yang pernah ia jumpai di rumah paman nya
kemarin. Tampak pintu depan mobil terbuka. Terlngkah kaki bersepatu kulit turun
dari mobil itu. Tidak lain adalah pamannya yang ia jumpai kemarin. Melihat yang
demikian Handrian pun bergegas keluar menemui sang paman. Ditemuinya sang
paman,lalu beradulah tatap keponakan dan pamannya.
“Terkadang aku berfikir, tak ada yang akan datang memenuhi hari sakral ku ini,…tapi terkadang aku juga yakin kalau setidaknya ada satu yang datang menyaksikan semua ini,meskipun terlambat.” Kata Handrian menyambut pamannya itu.
“Terkadang aku berfikir, tak ada yang akan datang memenuhi hari sakral ku ini,…tapi terkadang aku juga yakin kalau setidaknya ada satu yang datang menyaksikan semua ini,meskipun terlambat.” Kata Handrian menyambut pamannya itu.
“Tak ada yang dibiarkan dari keluarga
kami menempuh jalan tanpa dukungan kami. Dan tek akan terlewatkan hari
kebahagian putra kami tanpa hadirnya kami. Dan prasangkamu tak pernah setajam
kami,lihatlah tidak hanya seorang yang datang. Kami sekeluarga dan seorang yang
istimewa buat kamu nak,”kata paman Handrian sambil merentangkan tangannya
menunjuk ke arah keluarganya.
“seorang yang istimewa?,.. maihkah ada
yang istimewa hari ini paman,selain paman sekeluarga.”.kata Handrian
“ Kemarin seorang gadis datang ke
rumah paman…”kata paman terpotong.
“Lalu apa yang istimewa paman, mungkin
itu hanyalah hal yang biasa,”kata Handrian memetong
“Bagaimana kalau gadis itu Riana Adela
Prasongko??”.kata pamanya.
Handrian terbelalak kaget
mendengarnya. Dia tak menyangka masih ada yang datang dari kediaman keluarga
Prasonggko. Pandangannya mulai tajam menatap. Mencari-cari sosok gadis yang tak
kunjung keluar dari mobil pamannya. Terus di tatapnya, hingga tampak pijakan
kaki manusia keluar dari pintu belakang mobil sang paman. Dan mualai tampak
sesososk gadis anggun berkerudung ungu dari mobil itu. Yang tiada laiin adalah
Riana Adela Prasongko, adik semata wayang yang ia tinggal pergi beberapa bulan
silam. Riana berdiri di samping mobil, menahan langkahnya yang tak sabar lagi
memeluk kakak yang ia rindukan selalu. Hingga akirnya air matanya mendahului
langkahnya melepas kerinduan dalam keharuan harinya. Dilangkahkan kakinya
pelan-pelan mendekati kerinduan yang telah ia pendam. Dipeluknya sang kakak,
dan terpecahlah sudah kerinduan yang membatu di hatinya. Keharuan muali
terkucur dari tetes air mata keluarga ini. Tak ada yang bersuara sejenak,
kecuali isak tangis lirih pengobat rindu. Hingga rasanya mentari pun enggan menugur mereka,yang menginjak teriknya
tanpa lalu.
Melihat situasi ini mertua handrian
mendekati menantunya dengan pelan. Ditepuknya pundak sang menantu dengan
lembut,dan dikatakanya dengan lirih:
“Nak,.. janganlah kou biarkan
kerinduan mu terpecah dalam lelah dan terik yang kian sangat.,ajaklah masuk
saudara kita ini,kasian jika mereka harus bertahan di luar ter lalu lam.”kata
pak kepala desa.
Mendengar yang demikian Handrian
bergegas mengusap air metanya,
“Baik pak,”kata Handrian sambil
menoleh bapak mertuanya itu.
Lalu diajaknya masuk orang-orang
tercintanya itu ke dalam kediaman pak kepala desa. Sesampai di ruang tamu
mereka masih saja diam, seakan saling enggan memulai pembicaraan. Hingga
akirnya pak kjepala desa yang memulai, pembicaraan orang tua bersama paman
handrian. Hingga akir nya susuana menjadi stabil kembali.
Satu,dua,dan tiga, seakakan seperti
seperti itulah detik berlalu kala itu. Mereka mulai telebur dalam keluarga yang
baru ini. Birbincang atau sekedar berjalan-jalan menimati keindahan kampung halaman
pak kepala desa. Saat itu tertinggalah Handrian dengan pamannya di ruang tamu.
Tampak merunding jalan keluar menelusuri lorong gelap masa depan.
“Kamu ngga’ mungkin kan terus hidup
sepereti orang-orang di kampung ini kan,..,mungkin kamu ngga’ kan kuat Ndri,
menghabiskan waktu di ladang dan bukit-bukit kehidupan kampung ini. mereka yang
di sini semua pekerja keras dan orang yang hebat.”kata Paman Handrian di tengah
pembicaraan kala itu.
“ Entahlah ,.. aku terkadang
berfikir,aku bahagia dengan susana di sini man, nyaman benar terasa, tapi di
sisi lain aku harus bisa kembali ke rumah. Dan itu hanya bisa dengan sukses
lebih dahulu.”kata Handrian.
“Nggak menutup kemungkinan kamu bisa
mengawalinya dari sini. Tapi kamu bakal kesulitan memulai sendiri. Mau tidak
mau kamu harus berawal bekerja untuk orang lain. Tapi kalau kamu bekerja sama
orang, kamu ngga bawa apa-apa buat dapat pekerjaan yang mengandalkan
pemikiranmu. Masa iya kamu mau kerja kasaran.”kata Paman Handrian
“Itulah man,.. pikiran ku selalu saja
buntu di situ. Sementara mungkin aku akan hidup ala kadarnya mesyarakat sini,
berternak, bertani, atau berdagang kecil-kecilan. Mungkin aku bisa memulai
hidup dari sini Man,..”kata Handrian
“Itu Berarti kamu harus memendam asa
mu buat kumpul lagi sama bunda mu?”,kata Paman
“Gimana lagi, pikiran sedang buntu
buat menguraikan hidup ku saat ini. Mungkin beberapa waktu aku dapat jalan
terang dari lorong panjang ini, mungkin saja suatau nanti.”kata Handrian
“Okey,… sejak kecil paman memulai
hidup dengan keras. Ibu ku seorang yang malang kala itu. Katanya, dia ditinggal
suaminya saat tengah mengandung kakak paman. Tanpa keterangan yang jelas dan
dalam waktu yang lama. Hingga suatu hari ibu ku harus membesarkan putranya itu
sendirian. Sebelum akirnya ia bertemu dan menjadi istri ke dua kakek mu. Walau
harus beristri dua dan serumah mereka selalu rukun membangun pondasi kuat rumah
tangga. Aku sendiri terlahir dalam tahunyang sama dengan bunda mu. Kami hanya
selisih tiga bulan. Sehingga Aku dan ibumu besar dan memiliki karakter yang
hampir sama. Walaupun sudara tiri kami begitu dekat layaknya saudara kandung.
Ibu mu sesosok wanita yang paham betul tentang agama. Dan dari Ibunda mu juga
lah aku belajar. Hingga beranjak dewasa kami selalu kompak. Dua tahun sebelum
Ibu mu menikah kami sempat mencoba keberuntungan di bidang perdagangan dan
pendidikan. Setiap hari kami bekerja bergantian. Berdagang dan memberikan les
pelajaran hingga kursus ketrampilan. Dan hasilnya tidak mengecewakan, toko dan
Tempat Les kami selalu ramai hingga kami kewalahan meyani konsumen. Saat itu
lah kami memutuskan untuk mencari orang yang bisa membantu kami. Dulu kami di
bantu kurang lebih dengan delapan orang rekan kami. Hingga akirnya Ibu mu
menikah dan diboyong Anggoro ke Jogja. Jadi bukan salah besar jika kamu datang
ke kota ini. Di sini warisan yang di tinggal ibu mu masih cukup buat hidup mu
dan istri mu. Sekarang yang dulunya hanya tempat Les,sekarang sudah berjalan
sebagai yayasan pendidikan. Dengan pemilik atas nama paman mu. Dan juga ada koperasi
yang dapat kamu kelola dari hasil pengembangan toko yang kami dirikan dulu.
Kamu tinggal memilih mana yang kamu mau. Mendidik atau Berhitung,terserah
kamu,”cerita sang paman kepada Handrian.
“Sungguh tak pernah ku sangka. Sebuah
kisah besar disembunyi kan di balik
sosok bunda yang lembut dan selama ini hanya menampak kan sosok Ibunda dan
Istri yang baik saja.” kata handrian sambil meneteskan air dari matanya.
“ Ya, itulah Ibu mu nak. Di selalu
saja patuh pada suaminya dan bertanggung jawab
akan kewajibannya sebagai seorang bunda. Berbanggalah menjadi putranya”,
kata Paman
“ga ada alasan buat disesali
dibesarkan di tangan hebat Ibunda, sungguh, aku ingin secepatnya kembali dalam
kehangatan kasih sayayngnya.” kata handrian.
“Baiklah, untuk sementara kamu nikmati
dulu udara segar kota kami ini, selanjutnya kamu bisa hubungi paman.”kata paman
sambil memberikan sebuah kartu nama
“Anggito Putraning Sya’ban.,.. nama
yang bagus Paman, aku Pasti datang.”kata Handrian
“ya, itu karya kakek mu,.. o.iya ibu
pernah berpesan untuk tidak memberi tahukan hal ini, hanya kamu dan aku.”kata
paman
“ Siap pak, laksanakan,”kata Handrian.
Detik demi detik berlalu, dan langit
pun berlahan memudarkan warna birunya. Dan kebersamaan keluarga besar baru ini
harus ter- kembali kan akan kepentingannya masing-masing. Setidaknya hari ini
telah cukup buat mereka memperkenalkan satu sama lain. Menjadikan sebah ikatan
persaudaraan di antara mereka. Mungkin harus berat mereka berpisah, apalagi bagi kakak beradik
Handrian dan Riana.
“jaga baik-baik dir mu nak, paman akan
selalu menunggu kedatangan mu buat gabung sama paman.” Kata paman Handrian
sambil menepuk bahu Handrian.
“Baik man, secepatnya aku bakalan
ngasih kabar buat paman.” Kata Handrian menatap wajah sang paman.
“aku Pulang dulu kak, jaga diri kakak,
cepatlah pulang,semua merindukan mu” sekucap kata keluar dari bibir Riana.
“ Hati-hati di jalan… Sebentar lagi
Kakak Pasti pulang,dan berkumpul lagi sama kalian. Jaga Bunda baik-baik
ya,salam buat Beliau” kata handrian pada Adiknya.
“Pasti, Cepatlah perkenalkan
Menantunya ini pada Bunda, Bunda pasti senang melihat mbak Fitria”kata Riana sambil melempar senyum
iparnya yang berdiri di dekat kakak nya.
“Okey non,.. secepatnya,.. mau
langsung ke jogja apa ke rumah paman dulu?”kata Handrian.
“Mungkin aku dua atau tiga hari lagi
aku akan menghabiskan di kota ini”.kata Riana
Waktu semakin lalu, mereka pun melepas
kebersamaannya sejenak. Bibr manis Riana tertoreh senyum yang tertahan. Seakan
tak ingin lalu bersama kakaknya itu. Walaupun akirnya sosok sang kakak itu
pudar dari jendela mobil hitam milik si paman.
Hari indah itu berlahan kelam bersama
matahari kala itu. Di ujung sore itu sepasang pengantin baru itu tengah
duduk-duduk di teras rumah menunggu waktu magrib tiba. Tampak mereka berbincang-bincang
mengadaptasi pasangan baru mereka lebih mendalam. Maklumlah sebelumnya mereka
tidak pacaran begitu jauh. Tak seperti kebanyakan anak muda lainnya.sesekali
masih tamapak senyum malu-malu dari mereka. Asyik sangat terasa mereka berdua.
Mereka bercerita, sebuah masa yang pernah mereka lalui yang belum sempat
terceritakan sebelumnya. Hingga Fitria
mengeluarkan perkataan yang membuat Handrian terkejut.
“Mas, aku tak pernah meragukan kamu
sebagai seorang suami, mungkin itu satu alasan kenapa aku mau menjalani bahtera
rumah tangga jika suatu nanti mas" kata fitria
(BERSAMBUNG)....
Filed Under : by tri widhiono
Minggu, 25 Desember 2011
2 komentar:
terusane ndi pak???
emang udah baca,..?,lanjutanya ada, tapi postingnya masih lumayan lama
Posting Komentar