Untuk saat ini, aku tak ingin menjadi siapa. Aku hanya ingin menjadi diriku. Yang hidup tapi mati. Yang mati tapi bernyawa. Tak perlu pujian, tak perlu juga cacian. Simpan saja semua untuk yang lain. Biarlah. Biarlah aku mati dalam hidupku. Aku tak mau apa-apa. Aku tak miliki apa-apa. Dan tak pula akan hilang apapun dariku. Jika harus ada, aku ingin ada di antara para angin. Melintas dimanapun tanpa ada batasan. Tak berwujud tapi ada, tak berwujud namun terasa. Aku adalah sukma. Yang tak beraga namun mendiktemu.
Kehampaan telah datang. Menyelusup bersama kabut hitam.dan hilang seiring pagi menjelang. Menuju poros arah, lalu haripun terlanjur siang. Diam. Diamlah. Aku tak ingin mendengar apapun. Aku tak ingin mendengar dia atau dia. Aku tak mau tahu lagi tentang wanita. Dengan segala indah buruknya, ataupun tempat-tempat rahasia dari lutut hingga ujung rambut. Pada saatnya, semua hanyalah hal-hal yang tak pernah memberimu arti akan sebuah kepuasan.
Apa ada yang lebih pasti dari bicara soal kenyataan. Apa yang ada lebih keren dari pahit getir kerja keras. Memang mimpi bisa kita bentuk sesuka hati. Tapi mimpi tanpa sebuah kenyataan hanya membuat hati onani. Satu yang pasti akan menenggelamkan seribu harapan yang dipertaruhkan atas kekecewaan.
Kasian betul yang namanya "ASU". Seberapakah hina mereka. Hingga namanya disebut-sebut tak layak diucap dalam hal-hal yang "dihormatkan". Sementara nama-nama lonte bebas birsinggahan di telinga-telinga mereka yang merasa suci dan terhormat.
Sedang apa yang diketahui manusia. Selain sebuah kesadaran yang baru saja mereka membaca kebohongan, ketidak tahuan, atau kesamaan. Persepsi akan mewarnau dunia ini melebihi pelangi.
(benk wd)
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 11 Maret 2015
0 komentar:
Posting Komentar