~ " Tidak masalah kita berteman dengan siapa saja. Tidak mengapa kita jatuh cinta pada siapa saja. Manusia dilahirkan untuk saling mengenal dan jatuh cinta. Bertemanlah dengan siapa saja. Jatuh cintalah dengan siapa saja. Karena dengan keduanya kita akan merasakan bagaimana menjadi manusia seutuhnya." ~
Cinta. Satu kata berjuta makna. Cinta adalah sebuah kekuatan yang mampu menguraikan hal-hal diluar logika. Yang selalu menggunakan logika akan lebih tampak cerdas. Tapi, yang bicara dengan cinta akan selalu mudah diterima sekalipun yang dibicarakan hal-hal yang tak masuk akal.
Cinta akan melahirkan seni. Dan seni akan melahir cinta. Begitupun keduanya, saling mencipta satu akan satunya hingga timbul keseimbangan. Seni, sebuah rangkaian unsur - unsur yang mewujudkan estetika. Dari seorang menjadi persahabatan. Dari kesendirian menjadi pasangan. Karena pada dasarnya, manusia, cinta, dan seni dilahirkan pada satu garis lurus.
Namun terkadang Cinta dikambing hitamkan dalam asmara. Menjadi "payung kuning" untuk saling melukai. Katanya, suatu hubungan sepasang manusia lahir karena saling mencintai. Lalu ketika ditanya; "bagaimana dengan orang tuamu?". Katanya; "itu juga cinta, cinta ada jenis-jenisnya". Shitt... Cinta itu bukan batu akik. Yang beraneka macam jenis batu dan namanya yang mempengaruhi kadar dan harganya. Cinta ya cinta. Sebuah perasaan ingin menyayangi dan melindungi. Cinta hanyalah istilah populernya saja. Intinya cinta itu ya kasih sayang. Tuhan, Orang tua, pimpinan, alam sekitar, sampai lawan jenis yang kamu harapkan bisa tidur bersama, kamu jatuh cinta pada mereka semua dalam perasaan yang sama dan satu. Kasih sayang a.k.a Cinta.
Waktu membawa kita pada kedewasaan. Mengenalkan botol pada tutupnya. Mengenalkan usb pada port-nya. Mengenalkan api pada asap. Mengenalkan siang pada malam. Mengenalkan kita pada lawan jenis. Yah, intinya pada pasanganya masing-masing. Lalu munculah Prioritas-prioritas yang menimbang-nimbang. Yang kadang prioritas inilah yang disebut-sebut cinta. Prioritas itu kebutuhan. Sesuatu sisi serakah kita pada gemerlapnya dunia. Sedang cinta itu naluri bukan keserakahan.
Ketika kita akan menjalin hubungan dengan lawan jenis, tak masalah memprioritaskan suatu hal dari dia. Tapi ingat, yang terpenting adalah keberanian dalam berkomitmen. Karena komitmen akan mengakar pada pondasi sebuah hubungan. Kalau mengutamakan prioritas?, hah sudahlah, sudah kubilang itu sisi keserakahan kita. Sudah pasti kita mengharap manusia yang seperti malaikat ataupun para Nabi. kita bukan dalang yang menjalankan arah pertunjukan wayang. Kita tak akan menjumpainya. Orang-orang yang kadar kemuliannya melebihi 24 karat mungkin sudah punah.
Ketika sepasang manusia berani berkomitmen dan mencoba saling memahami, saat itulah mereka akan saling merasa memiliki. Dua nyawa itu pun serasa menjadi satu. Dan tak ada yang berharap buruk terjadi pada dirinya. Begitupun pada pasangannya yang telah menjadi satu pada dirinya. Segala perselisihan yang terjadi, hanya karena tak mampu memahami. Tak mampu saling mengerti. Jika masih begitu pertanyakanlah lagi komitmenmu.
Prioritas hanya akan membesarkan ego, ego akan selalu menimbang-nimbang, mengambil keuntungan untuk dirinya sekalipun itu dalam sebuah hubungan. Hubungan bukan perdagangan, bukan soal untung rugi, tapi soal keberanian menghadapi dan melengkapi apa yang akan terjadi. Bahkan sebuah keberanian untuk jatuh bersama. Tak membiarkan pasangan kita merasa sendiri dan tak berkawan.
~ " Tidak masalah kita berteman dengan siapa saja. Tidak mengapa kita jatuh cinta pada siapa saja. Manusia dilahirkan untuk saling mengenal dan jatuh cinta. Bertemanlah dengan siapa saja. Jatuh cintalah dengan siapa saja. Karena dengan keduanya kita akan merasakan bagaimana menjadi manusia seutuhnya." ~
Benk_wd