Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

27 Pebruari 2016

Sebenarnya terlalu banyak hal mengecewakan belakangan ini. Satu, dua dan lebih lagi. Tak seperti yang saya harapkan sebelumnya, semua tak menjangkau standar harapan saya yang sebenarnya cukup sederhana. Saya tak tahu, apa memang kualitas diri yang memang tak standar. Atau cara berpikir saya yang tak mampu mereka cerna dan uraikan. Entahlah, saya tak akan merubah pola pikir saya hanya untuk membuat mereka bisa seperti yang saya harapkan. Itu lebih sampah dari pada lebel sampah yang mereka berikan pada saya. Satu hal yang saya mengerti, saya harus belajar jahat. Tak melulu memberi pengorbanan pada orang-orang yang tak bisa menilai arti sebuah pengorbanan. Saya harus bisa egois. Sudah itu saja.

14 Pebruari 2016 (sebuah penjelasan)

14 Pebruari.


Kita bercanda kala senja di hari itu. Tertawa diantara urusan dewasa yang kita bincangkan. Masa depan dan harapan. Diantara dunia yang palsu, akupun memupuk harapan sisa satu saja kemurnian. Dan dirimu mengisi.

Lazuardi berpulang. Tenggelam diantara orange dan hitam. Diantara kita yang masih enggan hengkang. Mencerita tentang sebuah perasaan yang tak berperasaan. Kekasih, tahukah engkau?, terlalu naif kalau aku bilang jatuh hati padamu. Terlalu shitt, kalau aku kata "aku mencintaimu dalam tatapan mata kita yang waktu itu". Kita terlalu dewasa untuk mendewakan cinta. Bukankah terlalu mereka-reka kita dipertemukan lalu jatuh hati?. Iya, ku rasa engkaupun sadari itu.

Sambutlah kekasih, sambutlah kelingking ini sebagai simboklik sebuah komitmen. Karena usia kita tak lagi bangga bicara soal cinta. Komitmen akan hari-hari esok dan selebihnya akan mengantarkanmu pada peluk kerinduan ini. Sebuah hubungan terlalu sulit di logika berlandaskan sesuatu yang abstrak bernama cinta. Karena dirimu bukanlah angin yang hanya bisa kurasa. Bagiku, engkaulah kecantikan. Sebuah citra estetika indrawi. Bagiku, engkaulah gambaran kisah yang akan kutulis dalam dongeng hidupku. Soal perasaan?, perasaan itu naluri. Masukan dirimu dalam sekotak kardus lalu tutuplah rapat-rapat, dan aku masih bisa saja mencintamu. Tapi, untuk sebuah hubungan, kau telanjang sskalipun tak membuatku mudah mengartikan, apakah layak untuk kita untuk saling memperjuangkan. Beri aku alasan, untuk selalu memperjuangkanmu. Itu saja.

Sampai langit menjadi gelap,aku masih mengaggumimu dalam bayangan. Engkau yang masih tanda tanya, datanglah kapan saja kapan kau suka. Sementara, hati ini biar sendiri dulu sampai kau datang.

Berhentilah mengkhwatirkan perasaanmu.

Benk_wd

Dalam malam yang kian, yang terjeda bincang-bincang ringan diantar

05 Pebruari 2016

Masih duduk bersama rintik hujan. Di Jumat pagi, minggu pertama bulan Pebruari. Apakabarmu pagi ini.

Tak dapat kubayangkan, bagaimana rasanya berada pada posisimu. Sejak kecil aku hidup ditengah orang-orang yang menyayangiku. Terkadang, aku sempat beranggapan kalau aku berada pada zona yang tak layak. Tapi semakin dewasa, semakin kumengerti. Mungkin tak ada satu keluarga pun yang tak mengalami peristiwa berbincang dengan nada tinggi yang oktaf nya melebihi Gita. Diikuti gestur yg agresif penuh kejutan. Lebih mengagetkan 17X lipat dari kejutan yg pernah diberi kekasihmu. Tapi semakin kesini, semua itu menjadi titik wajar dalam sebuah himpunan bernama keluarga. Sangat wajar, sampai orang bijak bilang kalau itu adalah sebuah bumbu rumah tangga. Tapi, tetap saja, tak semua orang pandai memasak.

Akupun mulai keluar mencari perbandingan. Dari karakter teman-teman yang berbeda, mereka punyai latar belakang kehidupan keluarga yang juga sangat berbeda. Yang kebanyakan, menjadi titik berat dalam pembentukan karakter. Aku paham, terkadang aku meng"iri"kan sebuah kehidupan yang mereka tak inginkan. Pun sebaliknya. Yah, orang bijak bilang "Urip iku hamung wang sinawang".

Satu hal yang bisa kupetik dari semua hal tentanh keluarga ; " Keluarga itu adalah hal terpenting dalam pembentukan karakter individu". Karena itulah aku tak pernah main-main soal pandangan keluargaku kelak, soal menjalin hubungan dengan wanita, dan kesiapan pribadiku dalam menuju kesana.

Yah, hidup menurutku hanyalah menjalankan peran. Peran yang sudah ada dalam kondisi dan posisi kita. Menjalani dan bersyukur, begitu seharusnya. Kalau aku berada diposisimu, aku tak pernah tahu, apakah aku masih bisa ceria dan semangat seperti yang kulihat darimu. Dan satu hal yang juga bisa kau tahu, Ibuku kalau sudah mulai ngomel, rasa-rasanya aku ingin masuk dalam sebuah kubus kecil yg kedap suara.

Kalau kau merindukan beliau, pejamkan matamu. Lalu biarkan kerinduanmu semakin dalam. Rasakan dan rasakan lebih lagi. Sebuah keinginan besarmu memeluknya yang begitu erat. Dengan sebuah asumsi, hati seorang anak tercipta dari hati bapak dan ibunya. Betapun beliau, kurasa akan merasakan hal yang begitu besar kau rasakan. Biarlah rindu kalian saling berpelukan. Lalu tetsenyumlah, jangan membuat beliau sedih dengan wajah sedihmu. Setelah kau undangnya dengan kerinduan. Beri beliau senyuman, semangat dan sebuah harapan. Jika kini putrinya telah tumbuh dewasa dan layak untuk beliau banggakan.

Hey,.. You...
Jelek kalau nangis...
Senyumnya mana?,,..
Haahaa kau cantik, ceria dan penuh semangat. Selamat beliau bangga karena harapannya untuk putrinya telah kau wujudkan.

Tetap semangat, beri beliau kebanggaan lebih dengan prestasimu. Karirmu, pemikiranmu cerdasmu, dan laki-laki beruntung yang kau pilih. :D

Emm.. Bagaimana dengan kita?, haahaa

Have nice day,

03 Pebruari 2016

Pagi ini,Hujan masih turun sendari malam tadi. Entah sudah berapa satuan air yang tumbah. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda hujan akan reda.

Apa kabar kau pagi ini manis?, apa kabar sekolahmu pagi ini?, ingat, jangan tidur di kelas yag... Bentar lagi ujian..

Hari ketiga. Ditempat kerja baru. Masih tentang kesibukan lama. Hanya saja dengan subyek yang berbeda. Memang, disini tak seperti di batu, disini tak segaduh saat kau dan teman-temanmu menyapa. Sepi dari tawa-tawa gila yang beriring kekonyolan kira. Well, tapi ini bukan lagi soal suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman. Memang disemua terasa nyaman segala seperti menjadi mudah. Tapi, kenyamanan kadang hanya akan mempersepit ruang pikir kita. Dan kita harus berani keluar dari zona nyaman. Menjadi individu asing yang tak lelah beradaptasi.

Okey,.. Have nice day,