Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

14 Pebruari 2016 (sebuah penjelasan)

14 Pebruari.


Kita bercanda kala senja di hari itu. Tertawa diantara urusan dewasa yang kita bincangkan. Masa depan dan harapan. Diantara dunia yang palsu, akupun memupuk harapan sisa satu saja kemurnian. Dan dirimu mengisi.

Lazuardi berpulang. Tenggelam diantara orange dan hitam. Diantara kita yang masih enggan hengkang. Mencerita tentang sebuah perasaan yang tak berperasaan. Kekasih, tahukah engkau?, terlalu naif kalau aku bilang jatuh hati padamu. Terlalu shitt, kalau aku kata "aku mencintaimu dalam tatapan mata kita yang waktu itu". Kita terlalu dewasa untuk mendewakan cinta. Bukankah terlalu mereka-reka kita dipertemukan lalu jatuh hati?. Iya, ku rasa engkaupun sadari itu.

Sambutlah kekasih, sambutlah kelingking ini sebagai simboklik sebuah komitmen. Karena usia kita tak lagi bangga bicara soal cinta. Komitmen akan hari-hari esok dan selebihnya akan mengantarkanmu pada peluk kerinduan ini. Sebuah hubungan terlalu sulit di logika berlandaskan sesuatu yang abstrak bernama cinta. Karena dirimu bukanlah angin yang hanya bisa kurasa. Bagiku, engkaulah kecantikan. Sebuah citra estetika indrawi. Bagiku, engkaulah gambaran kisah yang akan kutulis dalam dongeng hidupku. Soal perasaan?, perasaan itu naluri. Masukan dirimu dalam sekotak kardus lalu tutuplah rapat-rapat, dan aku masih bisa saja mencintamu. Tapi, untuk sebuah hubungan, kau telanjang sskalipun tak membuatku mudah mengartikan, apakah layak untuk kita untuk saling memperjuangkan. Beri aku alasan, untuk selalu memperjuangkanmu. Itu saja.

Sampai langit menjadi gelap,aku masih mengaggumimu dalam bayangan. Engkau yang masih tanda tanya, datanglah kapan saja kapan kau suka. Sementara, hati ini biar sendiri dulu sampai kau datang.

Berhentilah mengkhwatirkan perasaanmu.

Benk_wd

0 komentar:

Posting Komentar