Selamat malam, Manis,
Apa kabar?
Apa hujan juga turun seharian di situ?
Hari ini nyaris tak berjeda. Hujan. Ladang-ladang kering mulai tergenangi. Mulai bisa ditanami beberapa hari lagi.
Hujan. Tetesan air yang penuh misteri. Entah muatan apa yang terkandung di dalamnya, senyawa apa. Hingga setiap tetes mengalunnya membuat wajah manusia bereaksi rupa-rupa.
Ada yang merasa dingin. Sepi. Merasa menjadi makluk asing di planetnya sendiri. Duduk termenung, bercerita pada setiap tetes air yang turun. Tentang hari-hari itu. Hari indah yang penuh kebahagian. Tawa, senyum yang berselingan. Bergantian, berlarian bergandengan. Dunia yang senampak sempurna.abadi. Sebelum akhirnya luluh lantah oleh kenyataan. Dan kini, setiap tetes yang turun hanyalah kenangan. Kesedihan. Menyakitkan malah.
Ada yang merasa hangat. Menyederhanakan segala problema. Bersanding dengan belahan jiwa yang mengerti. Teduh namun hangat. Terus begitu hingga hujan reda. Hingga semua kembali nampak. Masalah-masalah antre berderet selayaknya halaman sekolah di senin pagi.
Banyak lagi. Banyak lagi yang hujan perbuat pada hati manusia. Yang pasti kulihat, bocah-bocah ceria berlarian diantara rinai. Diantara berserakannya material proyek jalan raya. Yang masih semrawut hingga kini. Padahal sudah setahun berjalan. Ditepi urug -urug magrok itu terdapat galian saluran air. Mungkin sekitar satu meteran. Nampak beberapa kabel optik yang teramuk alat berat. Hujan yang tanpa ampun telang menggenangi galian tadi. Hingga penuh meluber, mengalir di jalanan. Disepanjang jalan disekitar kecamatan, kearah utara, sekitar Widya 45. Disitu tadi segerombolan bocah berenang. Tak hanya sekali. Setelah pergi kembali lagi. Tepat diperempatan jalan menuju...,
ahh.. Jadi menurutmu,apa yang ada di dalam hujan?, apa yang hujan lakukan padamu?,manisku.