hari ke-enam, maret.
selamat siang manisku, apa kabar?, sudah makan siang?. lekaslah. kesehatan itu nomer satu. jadi jaga-jaga baik-baik.
masih berada disisa-sisa uforia yang semalam. tsunami kebahagian dari seantero Malang raya, seantero Jawa timur, bahkan dari setiap penjuru negeri. kususnya mereka-mereka yang bangga melekatkan nama Arema di dadanya. betapa tidak, di laga semi final piala presiden Arema berhasil memastikan melaju ke final. menjadi kandidat juara selain PBFC, Borneo. siapa sangka, sempat kalah agregat hingga 3-0, Arema mampu membalikkan keadaan. unggul agregat 5-3 atas Semen Padang. luar biasa. sebuah pertandingan yang begitu menguras emosi. Gonzales memborong lima gol untuk Arema.
seperti biasa. ada pujian ada hujatan. "Habis Predikat terbitlah Respect". salah. "terbitlah iri dan dengki". di salah satu belahan dunia media sosial belakangan melabeli Aremania dengan "Suporter Rasis". karena kata-kaya "Dancuk" masih sering terdengar. senaif itulah lebel itu diberikan.
dunia seporter itu luas. ini menyangkut prinsip puluhan ribu bahkan jutaan jiwa. munculnya golongan "NAIF" dikalangan suporter malah kulihat sebagai suatu pemerkeruh hubungan antar suporter. kata-kata damai yang mereka sebarkan seakan sudah paling benar. mentah. mereka menyederhanakan masalah suporter sekelas permasalahan perselisihan anak sekolah. mereka mungkin sudah merasa paling bijak dengan bicara perdamaiam. tapi tetap saja, yang mampu menyelesaikan permasalah suporter adalah dari kalangan dalam suporter itu sendiri. butuh waktu lama dengan proses yang tak mudah. yang telah lama dirintis namun rusak karena tiba-tiba ada orang naif yang mendikte "berdamailah".
bukan, bukannya aku setuju dengan hal buruk yang selama ini kerap terjadi di kalangan suporter. semua menginginkan perdamaian. tapi, pahamilah dulu. masalahnya tak sesederhana berseteru dan berdamai. ini lebih. memadikan pemikiran puluhan ribu bahkan jutaan nyawa. tak akam selesai dengan kata-kata "berdamailah".
terlebih kususnya masalah antara Malang dan Surabaya. yang notabennya bukan sekedar sepak bola. lihat baik-baik sejarah awal mulanya, baru bicarakan solusinya. jangan hanya koar-koar kata "damai" saja. itu malah terdengar seperti mengatakan mereka tak pecus menjaga perdamaian, tukang rusuh, atau predikat buruk lainnya. bukankah itu lebih terlihat tak pecus mendamaikan mereka. orang-orang naif merusak usaha dari kalangan aremania yang sudah mengupayakan kata-kata "misuh" dari chant yang selama ini. alasan mereka lebih bisa diterima publik Aremania, dengan mengatakan ada Aremania licek (kecil) di stadion. tapi, lagi-lagi golongan naif seperti malah mendikte. Aremania itu bukan segelintir orang, Aremania tak akan dapat dikekang oleh siapapun. karena yang dapat mengendalikan singa hanyalah jiwa singa itu sendiri.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 06 Maret 2017