Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

29 mei 2017

Selamat pagi bintang kecilku, apa kabar?.

Hari ketiga puasa tahun ini. Dimana saat mulut berhenti sejenak memamah tapi otak harus terus berputar. Permasalahan hidup terus berlanjut. Membual agar kita mencari solusi. Rindu ini pun sama, merasuk entah dari mana, mengacak-acak hati.

Hari ini aq nyaris membunuh orang sok yang baru saja lulus sekolah tahun lalu. Tapi tenang, itu baru perasaan ku saja. Kalau benar aku mau matilah orang itu.

Entah apa yang dibanggakan dengan orang-orang pengidap kanker jiwa itu. Selalu saja menyebrang agar di pandang. Memakai atribut agama lain, menimbul-nimbulkan logo partai terlaranglah, atau apa saja yang bisa membuat mereka diakui. Hanya itu hanya sekedar pengakuan. Mental-mental tai yang semestinya ditenggelamkan dan dimakan ikan.

08 mei 2018

Terlampau banyak diantara bangsamu,
Orang-orang bodoh yang bangga pada kebodohan.
Orang -orang sombong dan menindas.
Tak berani aparat memukul rakyat.
Tak berani pejabat minta tanah rakyat.
Jaman sudah berbeda.
Penindasan nyata adalah tentang tingginya harga.
Upah buruh murah dan Sistem kerja kontrak.
Serta aturan yang memihak pada pemodal.

Penguasa buta dan tuli adalah penguasa terburuk sepanjang masa. Demonstrasi tak lebihnya masalah persoalan sehari saja. Tak lebih rumit dari kelumrahan macet kota besar. Penguasa tuli tak terpengaruh orasi. Itu hanya soal polusi suara untuk satu waktu saja. Penguasa tuli tak butuh aspirasi. Telinga mereka ibarat mendung. Hanya ada saat menjelang uforia hujan suara. Memungut suara-suara dari langit. Suara rakyat suara Tuhan. Suara yang akan memberikan kuasa atas sesamanya. Penguasa buta tak akan melihat apa dan bagaimana rakyatnya. Mereka tak lebih takut kehilangan simpati rakyatnya ketimbang partai pengusungnya. Wadah-wadah cendikiawan telah berhianat. Mandul melahirkan pemimpin bijak. Mereka hanya peduli soal menang. Atau jatah dari para sekutu.

Negeriku tak lelag kau berjalan pada kenaifan. Kenaifan yang ditunggangi kemunafikan.
Negeriku aku cinta padamu, tapi tidak busanamu. Busana kotor yang menggunakan darah untuk melukisnya.

Ketika demokrasi hanya peduli soal kemenangan. Soal visi sebagian golongan. Ketika itulah air mata haram untuk sia
Sistem frustasi ini. Sistem yang menghianati sukmanya.