Terlampau banyak diantara bangsamu,
Orang-orang bodoh yang bangga pada kebodohan.
Orang -orang sombong dan menindas.
Tak berani aparat memukul rakyat.
Tak berani pejabat minta tanah rakyat.
Jaman sudah berbeda.
Penindasan nyata adalah tentang tingginya harga.
Upah buruh murah dan Sistem kerja kontrak.
Serta aturan yang memihak pada pemodal.
Penguasa buta dan tuli adalah penguasa terburuk sepanjang masa. Demonstrasi tak lebihnya masalah persoalan sehari saja. Tak lebih rumit dari kelumrahan macet kota besar. Penguasa tuli tak terpengaruh orasi. Itu hanya soal polusi suara untuk satu waktu saja. Penguasa tuli tak butuh aspirasi. Telinga mereka ibarat mendung. Hanya ada saat menjelang uforia hujan suara. Memungut suara-suara dari langit. Suara rakyat suara Tuhan. Suara yang akan memberikan kuasa atas sesamanya. Penguasa buta tak akan melihat apa dan bagaimana rakyatnya. Mereka tak lebih takut kehilangan simpati rakyatnya ketimbang partai pengusungnya. Wadah-wadah cendikiawan telah berhianat. Mandul melahirkan pemimpin bijak. Mereka hanya peduli soal menang. Atau jatah dari para sekutu.
Negeriku tak lelag kau berjalan pada kenaifan. Kenaifan yang ditunggangi kemunafikan.
Negeriku aku cinta padamu, tapi tidak busanamu. Busana kotor yang menggunakan darah untuk melukisnya.
Ketika demokrasi hanya peduli soal kemenangan. Soal visi sebagian golongan. Ketika itulah air mata haram untuk sia
Sistem frustasi ini. Sistem yang menghianati sukmanya.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 08 Mei 2017
0 komentar:
Posting Komentar