In memoriam 10 april 2005
Filed Under :
#madiundisaster #aremania #salamsatujiwa #onelove #onepride
by tri widhiono
Senin, 10 April 2017Kebanggaan. Nama besar. Kehormatan. Menjadi sebuah bomerang yang liar. Bisa saja menjadi kekuatan bisa menjadi pengundang bahaya. Bahkan kematian. Semua tak bisa terelakan. Sebuah harga yang harus dibayar mahal. Lebih-lebih melibatkan idealis dan prinsip hidup ribuan bahkan jutaan manusia. Itu tak akan menjadi mudah. Sesuatu yang serius yang tak cukup dan tak bisa diselesaikan dengan kata-kata naif.
Memang benar, tak ada satu kemenangan apapun yang sebanding dengan nyawa. Namun tak lantas itu menjadi alasan kuat untuk melabeli saudara-saudara kita dengan bandrol murah, kampungan, bodoh atau lainnya. Karena ini menyangkut kehormatan, idealisme dan prinsip jutaan jiwa.
Madiun disaster, 10 April 2005. Hari itu lebih dari sekedar tragedi. Rivalitas sudah naik kelas. Naik level yang lebih mengerikan. Menjadi pemikiran kuat yang tak akan patah dengan kata-kata naif penguasa dan orang-orang sombong yang merasa paling berotak, Atau media-media yang haus akan popularitas dan bintang penyiaran. Segel-segel kekuatan besar dari setiap jiwa hancur. Menjadikan sulit membedakan antara naluri membunuh dan bertahan hidup.
Orang-orang bijak berebut mencari benar-salah. Sementara mereka tak terlibat langsung dilapangan. Sisana, ditengah hujan
Sejarah rivalitas garis keras di negeri tak tercipta ada begitu saja. Ada api penyulut yang membuat pelaku sejarah tak mudah melupakan dan memaafkan. Lebih lagi melibatkan jumlah yang tak sedikit. Puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan individu.
Hujan batu, bom molotov, dan aura membunuh yang kuat, keadaan menjadi sulit. Tak ada manusia yang lahir lalu bercita-cita menjadi kriminal. Keadaan memosisikan setiap individu sulit membedakan. Antara bertahaan hidup dan membunuh. Keadaan dilapangan tak bisa diteorikan. Tak selesai dengan mediasi naif yang terkesan diada-adakan. Terpaksa lebih tepatnya.
Intinya, kalian-kalian yang selalu bicara soal perdamaian, "diamlah". Pikirkanlah cara yang lebih real untuk keadaan yang dicita-citakan semua makluk di alam raya itu. Jangan cuma melempar kata-kata "berdamailah". Itu hanya akan menambah rasa sakit yang membuat dendam semakin kuat. Betapa tidak, saudara-saudara kita harus kehilangan orang terkasih atas idealiame yang diusung turun-temurun. Lalu tiba-tiba kalian datang dan tak tahu apa-apa dengan gaya yang memuakan. Menjadi orang yang menganggap diri paling benar, suci dan berotak. Sebelum rivalitas berevolusi menjadi permusuhan awalnya semua teman. Dan itu sebuah evolusi. Menyelesaikannya pun tak akan menjadi mudah. Butuh pemikiran matang dan kehati-hatian. Salah satu kalimat saja akan membuat dendam semakin dalam.
Semua mencita-citakan kedamaian. Dendam tak akan selesai dengan kata-kata orang yang tak tahu apa-apa. Semoga tak ada lagi yang dirampas hak-hak dan kemerdekaan individunya seperti yang terjadi pada sam abdul rochiem, mat togel dan sebaris nyawa lainnya. Semoga kedamaian bersama mereka dialam sana.

0 komentar:
Posting Komentar