Tidak satupun yang
pernah meminta terlahir sebagai apa, di jaman yang kapan, di keadaan yang
bagaiamana. Semua terjadi begitu saja. Seketika.
Sebagian orang merasa
bersyukur karena terlahir dari keluarga yang “berada”, terpandang dan
berpendidikan tinggi. Sebagian orang bersyukur karena terlahir di tengah
lingkungan masyarakat yang humanis, harmonis dan humoris. Sebagian
orang bersyukur karena dianugerahi pikiran yang aktif. Walau itu sering menimbul
gesekan dengan orang-orang lain di sekelilingnya, namun apakah ada kemewahan
yang melebihi cara berpikir seseorang? Rasa-rasanya dilahirkan sebagaia apapun,
selalu ada sisi yang terus-menerus membuat seseorang merasa paling beruntung.
Keberuntung besar di dalam
hidup adalah memiliki kesadaran akan kehidupan. Tentang perjalanan yang
dituliskan baginya. Segala sesuatu itu adalah suratan yang bermandikan rahmat
serta berkah yang tanpa ada umpamanya. Menembus batas-batas kubah dogmatik dari
orang-orang sebelumnya.
Waktu akan terus
berjalan. Dan pikiran manusia terus-menerus mengembang. Menjadi “orang aneh”
sangatlah mungkin bagi kamu yang percaya terhadapa isi hati dan kepalamu., di
tengah orang-orang yang “ho’a-ho’o” saja
dengan apa yang terjadi. Menjadi orang sesat sangatlah mungkin, ditengah
orang-orang yang menyakini diri sebagai makhluk yang mewarisi pikiran Tuhan. Dimana
pendapat-pendapatnya dimutlakkan dalam sebuah “kesepakatan paksa”. Tiada misteri
baginya. Karena segala rahasia yang tak mampu dia baca dianggapnya tiada. Manusia
hanya sebuah titik dari lautan aksiran pekat. Pengetahuannya tidaklah mungkin
kecuali Cuma sedikit.
Cara yang paling sedehana
untuk mengetahui kehidupan adalah dengan mengakui bahwa tidak semua dari apa
yang ada di dalam hidup ini sanggup diketahui. Demikian juga cara mereka
mengenal Tuhan adalah dengan mengakui tidak sanggup mengetahuinya. Maha Suci
Dia yang mengijinkan Makhluknya mengenalnya dengan cara tidak mengenalnya. Maha
Benar Dia dengan Iman yang ditanamkan pada setiap dada makhluk-makhluknya.
Dengan demikian dunia
menjadi sangat relatif. Tidak satupun standar yang bisa membentuk karakter
seseorang menjadi yang bagaimana. Semuanya murni atas kehendak mereka sendiri. Dipengaruhi
atau tidak adalah pilihan mereka sendiri. Tidak ada kebenaran mutlak di muka
bumi. Tidak pula sebuah dosa melekat pada jiwa manusia kecuali diberikannya
pintu-pintu pengampunan yang selebar-lebarnya.
Siapapun yang mengklaim
dirinya sebagaia pemimpin dunia sejatinya tidaklah benar-benar tahu tentang dunia.
Pemimpin-pemimpin itu lahir secara alami. Bukan sesuatu yang “diada-adakan”. Bukan
sesuatu yang disengajakan atas kehendak diri. Mereka yang telah dipilih
tidaklah punya kesanggupan menolaknya. Bukankah begitu juga yang telah ditetapkan
pada setiap garis hidup makhluk-makhluk di muka bumi. Tidak satupun orang mampu
mempertahankan eksistensinya. Membolak-balikan keadaan adalah sesuatu yang amat
mudah bagi yang menciptakan. Lebih cepat dari daun yang gugur mencapai tanah,
lebih cepat lagi dari kedipan mata manusia. Semua itu teramat mudah bangiNya.
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 24 September 2021