Hujan yang turun tak mampu
sembunyikan apa yang tersimpan di balik dinding hati. Setiap rintiknya yang
menghantam atap rumahmu, dedaunan dan permukaan jalan itu semakin keras
meneriakan apa yang sedang kamu rasakan. Manusia selamanya mungkin akan selalu
menjadi makhluk yang berpura-pura. Termasuk, mereka berpura-pura tak mengerti
kalau orang lain memahami betul kalau dia sedang berpura-pura. Seolah segala
sesuatunya menjadi “sah” kalau terucap dengan lisan. Sedang bahasa hati lebih
lembut dari apapun. Dia menembus segala yang absolut. Menyampaiakan perasaanya
pada semesta yang mendengarkan.
Kebahagian itu tak terbantah. Senyum
dan tawamu adalah legalitasnya. Namun bolehkah aku mendengar sedikit kejujuran
lisanmu sebagaiamana terlebih dahulu hatimu mengatakannya padaku? Sesuatu telah
mengganggu hati dan pikiranmu saat suara-suara itu menjadi tiada. Kamu tak
pernah kesepian. Menutup telinga dan hati dari bisingnya pertanyaan-pertanyaan
yang kau sendiri tak mau mendengarnya. Dan kau akan tetap mendengarnya. Sepanjang
malam hingga pagi tiba. Di sela tidurmu yang tersentak dan terbangun. Kau terus
bepikir akan hal itu.
Seandainya saja kau turunkan
sedikit mau-maumu itu, tentu kau akan mendengarnya. Dan kau pun akan mengerti,
bahwa kau tak pernah sendiri. Aku dan jutaan orang di sana merasakan hal yang
sama. Kita sama-sama terjebak pada suatu posisi yang sulit untuk kita urai
secepat ini. Butuh waktu. Butuh luka untuk terjatuh-jatuh dan berdarah dulu
mula-mulanya. Andai saja, waktu tak serapat rintik hujan, aku ingin bertukar
kata itu. Biar apa-apa yang sama diantara kita terlegitimasi oleh lisan. Sebelum
akhirnya kita setuju kalau kita ini sejatinya sama saja.
Dunia ini lebih gaduh lagi dari
rintik hujan yang membabi-buta menabrtak segala. Manusia-manusia dipaksa
menjadikan pikiran diatas hatinya. Menjumlahkan dengan rumus yang tak bisa
diganggu-gugat. Harus satu ditambah satu sama dengan dua.
Rasa syukur kehadirat Sang Maha
Pencipta. Berkehendak pada ciptaannya dengan tidak seperti cara berpikir
makhluknya. Dunia ini terlalu kecil bagi Dia. Sedikit saja kemurkaannya sejati
lebih dari cukup untuk meluluh-lantahkan segala kedurhakaan makhluk-makhluknya.
Rasa syukur yang berikutnya
adalah kesempatan yang diberikan padaku untuk mengenalmu. Terlepas dari
masing-masing yang sibuk berkelahi dengan usia, tapi harus ku akui, kau adalah
pribadi yang menarik dan mengajarkan aku banyak hal. Segala persoalan yang
serba paradoks menghinggapi kepala hingga ke inti-intinya. Di satu sisi ada
yang tak bisa aku lakukan sedang seharusnya aku lakukan. Di sisi yang lain aku
harus mengerti suatu hal yang tak bisa aku mengerti. Betapa luasnya hidup ini. Betapa
Agung kekuasaannya yang telah mengatur sesuatu yang luas ini. Sampai di titik
itu, aku Cuma bisa percaya. Akan segala sesuatunya yang terjadi, baik yang baik
dan buruk semuanya akan baik-baik saja. Segala rasa sakit dan bahagia itu pada
akhirnya mematangkan jiwa-jiwa manusia yang mengalaminya. Suka atau tidak suka,
segala yang musti terjadi maka terjadilah.
Malam-malam menyimpan ketakutan
pada gelapnya. Mereka bercerita akan merengutmu dariku. Mengambil segala
tentangmu tanpa sedikitpun yang tersisa untukku. Seyogyanya manusia, ingin rasanya
aku genggam dirimu. Dan tidak membiarkan siapapun menyentuh apalagi membawamu. Walau
itu Cuma sekedar angin sepoi yang mendetakan jantungmu. Tapi aku juga menyadari
betul. Kau membutuhkan udara itu untuk bernafas. Sebagai kecintaan kau harus
tetap hidup. Karena bagaimana mungkin aku hidup dan baik-baik saja ketika yang
menjadi arah perjalananku hidup musnah?
Sederhananya, aku hanya ingin
bercerita banyak hal denganmu. Aku ingin mendengar yang serupa darimu. Aku ingin
membagi udara untuk bernafas denganmu. Melewati hujan dan kemarau bersamamu. Kau
sudah mengajarkanku banyak hal. Bersamamu, mungkin aku beranikan diri berharap
untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Entah kita melalui hujan dengan sebuah
payung atau basah kuyup. Entah kita tertidur berdua karena perut kenyang atau
lapar. Segalanya aku serahkan pada langit. Termasuk ketika kau berpikir akan
satu jalan yang lain. Memaksamu untuk tetap tinggal terlalu menyakitkan.
Kalaupun waktu meluangkan dirinya,
aku tidak lagi ingin memintamu berpendapat tentang diriku. Aku tak ingin
memaksamu mengucapkan hal-hal yang menyenangkan padaku. Atau soal perasaanmu. Kita
sudah cukup dewasa untuk tidak lagi berbicara di ranah itu. Aku ingin kita
berbicara sesuatu yang lebih umum. Tentang hidup ke depan atau gagasan luar
biasamu. Tentang peluang-peluang. Tentang jurang yang secara telanjang terlihat
mustahil dilewati dan bagaimana caranya melewati. Aku hanya ingin merdeka dari
segala yang emosional. Dari sesuatu yang berdasar sedikit saja pada perasaan :
kesenangan.
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 14 September 2021
0 komentar:
Posting Komentar