Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Bahasa Hujan

Hujan yang turun tak mampu sembunyikan apa yang tersimpan di balik dinding hati. Setiap rintiknya yang menghantam atap rumahmu, dedaunan dan permukaan jalan itu semakin keras meneriakan apa yang sedang kamu rasakan. Manusia selamanya mungkin akan selalu menjadi makhluk yang berpura-pura. Termasuk, mereka berpura-pura tak mengerti kalau orang lain memahami betul kalau dia sedang berpura-pura. Seolah segala sesuatunya menjadi “sah” kalau terucap dengan lisan. Sedang bahasa hati lebih lembut dari apapun. Dia menembus segala yang absolut. Menyampaiakan perasaanya pada semesta yang mendengarkan.

Kebahagian itu tak terbantah. Senyum dan tawamu adalah legalitasnya. Namun bolehkah aku mendengar sedikit kejujuran lisanmu sebagaiamana terlebih dahulu hatimu mengatakannya padaku? Sesuatu telah mengganggu hati dan pikiranmu saat suara-suara itu menjadi tiada. Kamu tak pernah kesepian. Menutup telinga dan hati dari bisingnya pertanyaan-pertanyaan yang kau sendiri tak mau mendengarnya. Dan kau akan tetap mendengarnya. Sepanjang malam hingga pagi tiba. Di sela tidurmu yang tersentak dan terbangun. Kau terus bepikir akan hal itu.

Seandainya saja kau turunkan sedikit mau-maumu itu, tentu kau akan mendengarnya. Dan kau pun akan mengerti, bahwa kau tak pernah sendiri. Aku dan jutaan orang di sana merasakan hal yang sama. Kita sama-sama terjebak pada suatu posisi yang sulit untuk kita urai secepat ini. Butuh waktu. Butuh luka untuk terjatuh-jatuh dan berdarah dulu mula-mulanya. Andai saja, waktu tak serapat rintik hujan, aku ingin bertukar kata itu. Biar apa-apa yang sama diantara kita terlegitimasi oleh lisan. Sebelum akhirnya kita setuju kalau kita ini sejatinya sama saja.

Dunia ini lebih gaduh lagi dari rintik hujan yang membabi-buta menabrtak segala. Manusia-manusia dipaksa menjadikan pikiran diatas hatinya. Menjumlahkan dengan rumus yang tak bisa diganggu-gugat. Harus satu ditambah satu sama dengan dua.

Rasa syukur kehadirat Sang Maha Pencipta. Berkehendak pada ciptaannya dengan tidak seperti cara berpikir makhluknya. Dunia ini terlalu kecil bagi Dia. Sedikit saja kemurkaannya sejati lebih dari cukup untuk meluluh-lantahkan segala kedurhakaan makhluk-makhluknya.

Rasa syukur yang berikutnya adalah kesempatan yang diberikan padaku untuk mengenalmu. Terlepas dari masing-masing yang sibuk berkelahi dengan usia, tapi harus ku akui, kau adalah pribadi yang menarik dan mengajarkan aku banyak hal. Segala persoalan yang serba paradoks menghinggapi kepala hingga ke inti-intinya. Di satu sisi ada yang tak bisa aku lakukan sedang seharusnya aku lakukan. Di sisi yang lain aku harus mengerti suatu hal yang tak bisa aku mengerti. Betapa luasnya hidup ini. Betapa Agung kekuasaannya yang telah mengatur sesuatu yang luas ini. Sampai di titik itu, aku Cuma bisa percaya. Akan segala sesuatunya yang terjadi, baik yang baik dan buruk semuanya akan baik-baik saja. Segala rasa sakit dan bahagia itu pada akhirnya mematangkan jiwa-jiwa manusia yang mengalaminya. Suka atau tidak suka, segala yang musti terjadi maka terjadilah.

Malam-malam menyimpan ketakutan pada gelapnya. Mereka bercerita akan merengutmu dariku. Mengambil segala tentangmu tanpa sedikitpun yang tersisa untukku. Seyogyanya manusia, ingin rasanya aku genggam dirimu. Dan tidak membiarkan siapapun menyentuh apalagi membawamu. Walau itu Cuma sekedar angin sepoi yang mendetakan jantungmu. Tapi aku juga menyadari betul. Kau membutuhkan udara itu untuk bernafas. Sebagai kecintaan kau harus tetap hidup. Karena bagaimana mungkin aku hidup dan baik-baik saja ketika yang menjadi arah perjalananku hidup musnah?

Sederhananya, aku hanya ingin bercerita banyak hal denganmu. Aku ingin mendengar yang serupa darimu. Aku ingin membagi udara untuk bernafas denganmu. Melewati hujan dan kemarau bersamamu. Kau sudah mengajarkanku banyak hal. Bersamamu, mungkin aku beranikan diri berharap untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Entah kita melalui hujan dengan sebuah payung atau basah kuyup. Entah kita tertidur berdua karena perut kenyang atau lapar. Segalanya aku serahkan pada langit. Termasuk ketika kau berpikir akan satu jalan yang lain. Memaksamu untuk tetap tinggal terlalu menyakitkan.

Kalaupun waktu meluangkan dirinya, aku tidak lagi ingin memintamu berpendapat tentang diriku. Aku tak ingin memaksamu mengucapkan hal-hal yang menyenangkan padaku. Atau soal perasaanmu. Kita sudah cukup dewasa untuk tidak lagi berbicara di ranah itu. Aku ingin kita berbicara sesuatu yang lebih umum. Tentang hidup ke depan atau gagasan luar biasamu. Tentang peluang-peluang. Tentang jurang yang secara telanjang terlihat mustahil dilewati dan bagaimana caranya melewati. Aku hanya ingin merdeka dari segala yang emosional. Dari sesuatu yang berdasar sedikit saja pada perasaan : kesenangan.


0 komentar:

Posting Komentar