Maka aku jelaskan seberapa sakit
hidup dinegeri ini. negeri makmur yang di idamkan oleh semua orang, semua kubu
dan kelompok-kelompok berkepentingan. Alasannya pun jelas. Adanya sebuah tujuan
konfrontasi idealism dan sumberdaya. Negiriku bernama Indonesia. Sebuah tanah
yang luan dari kepulauan asia sebelah tenggara.
Selama perang dingin antara
Komunis-sosialis dan Liberal-kapitalis masih terus berlangsung, maka jangan
harap ada kedamaian di negeri manapun kalian berpijak. Termasuk dinegeriku. Pada
dasarnya tak ada idealism yang diciptakan dengan tujuan kerusakan, ketegangan
ataupun distabilitas. Setiap idealism adalah wujud dari nilai luhur dari sebuah
kebudayaan ataupu peradaban di suatu tempat tertentu. Yang ruang lingkupnya
berupa bangsa ataupun antar bangsa. Tidak ada kekacauan yang direncanakan.
Termasuk dengan fasisme. Fasisme bagiku tak lebihnya dari penggaris tebalan
dari kontur idealism manapun. Dimana para penganutnya mengusung kejayaannya
masing-masing. Mereka mengabaikan geografis dan etnis yang terpisah-pisah. Yang
tentu tak akan mudah menerima idealism disuatu tempat untuk tempat yang lain.
Indonesia adalah negeri yang tak
bisa dijelaskan dengan selembar kertas. Bahkan butuh waktu seumur hidup untuk
seorang peneliti untuk mengkaji pola peradaban yang ada di negeri ini. itupun
tak member jaminan mereka akan menyelesaikannya. Itulah yang melatar belakangi
kaum-kaum berkepentingan terus melakukan percobaan-percobaan politik-sosial
yang menimbul gejolak di masyarakat. Yang pada akhirnya mereka sendiri hanyut
didalamnya dan melupakan eksperimen mereka. Eksperimen memang tak pernah
berakhir. Karena pengambilan kesimpulan mereka selalu gagal untuk
mendiskripsikan negeri ini dalam satu paragraph yang jelas dan universal.
Culture kebudayaan Indonesia yang
beragam dan selalu dinamis. Tak bisa ditebak arah dan pergerakanya. Sebenarnya
beberapa dari keberanian kaum berkepentingan menembus lapis-lapis terluar yang
vital, namun selalu ada lapisan berikutnya. Kerapatan system keamanan politik
–sosial diindonesia tak pernah direncanakan. Terbentuk dengan sendirinya
sebagai wujud kristalisasi nilai-nilai peradaban dari sejarah besar negeri ini.
baik yang dianggap lugas atau pun yang masih tabu karena tak ada keotentikan
pendukung sejarah tersebut.
Sebagai pasar, Indonesia punya
daya jual yang tinggi. Sebagai produsen Indonesia mempunyai sumberdaya manusia
yang mumpuni, dan sebagai pertahanan Bangsa ini meiliki darah kesatria yang
mengalir dari militer hingga sipilnya. Yang tak dimiliki adalah Naluri
menghancurkan. Bangsa ini mengedepankan jalan tengah sebagai kedamaian abadi. Kami
tak menyukai perang tapi kami tak pernah takut mati di medan perang.
Hal itu dapat dibaca pada
catatan-catatn sejarah Indonesia dari masa ke masa. Dimana titik kelemahan
terbesar bangsa ini adalah pada penipuan-penipuan perundingan. Perang dunia
kedua hingga era agresi militer belanda pasca proklamasi kemerdekaan ada kodisi
yang teramat genting. Dan satu hal yang perlu digaris bawahi, di mata bangsa
kami hal itu bukan masalah terbesar dalam perjalanan menuju pengakuan dunia
pada kemerdekaan kami. Kami masih bisa diajak berunding. Itu artinya kami masih
menganggap disstabilitas yang terjadi bukanlah yang terparah. Kami masih
melihat ada celah perdamaian untuk manusia. Jika ingin melihat seperti apa
kesiapan perang sesungguhnya bagi bangsa ini, kalian bisa membaca perang-perang
besar yang pernah berkobar. Missal perang Pangeran Diponegoro, Jendral besar
Sudirman, atau pertempuran Surabaya, Bandung lautan api, Puputan Margarana,
pertempuran ambarawa dan masih banyak lagi. Dimana semuanya menceritakan sebuah
peperangan yang maha dsyat. Dengan hanya menyisakan dua pilihan saja. Menang atau
mati?. Jadi selama bangsa Indonesia masih bisa diajak duduk berunding, maka
yakinlah perdamaian masih bisa diupayakan.
Dunia mungkin lebih popular mengenal
Soekarno dari Indonesia. Dialah pemimpin besar revolusi. Kalian harus membaca
hal-hal besar yang telah dia lakukan. Soekarno adalah orang yang akan dikagumi
diseluruh dunia. Dibawah kepemimpinanya, kami pernah keluar dari keanggotaan
Perserikatan bangsa-bangsa. Sebagai sikap tegas kami terhadap situasi yang tak
berpihak pada kami. Soekarno juga mendirikan gerakan Non-blok. Juga mendukung
kemerdekaan atas bangsa-bangsa di efrika dan lainnya. Tentu hal semacam itu tak
pernah disukai oleh kaum penjajah. Dan sukarno tak pernah bernegosiasi atas
sikap suka atau tidaknya bangsa manapun akan sikap yang diambilnya. Inilah sokerno,
inilah Indonesia. Negeri yang mencintai perdamaan abadi.
Maka aku memberikan saran kepada
kaum-kaum yang bermaksud melancarkan konfrontansi halus mereka terhadap kami
untuk berhenti saat ini juga. Jangan menunggu sampai perang sebagai solusi atas
tekanan-tekanan terhadap kami. Atau sebagai akibatnya akan merka tanggung,
bahkan hingga anak cucu dan tujuh keturunan mereka.
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 27 Februari 2018
0 komentar:
Posting Komentar