selamat malam, manisku.
apa kabarmu?.
bersama deru kendaraan yang menggebu-gebu membakar dapur pacu, aku menyimaknya karena begitu yang selalu menemani sepi ini. apa kau disana tersenyum?, apa kau disana merenung?. apa kau malah tak lebih dari apa yang kulakukan?. duduk bersimbah bising dari sorot-sorot lampu yang lalu lalang, menyilaukan.
beberapa bulan dikota ini, aku tak begitu menyimak kabar langit. gugus bintangnya, sabit ataupun purnamanya tak ku mengerti. hanya terang dan gela saja, itupun tanpa menghadap wajahnya.
beberapa bulan ini juga aku berada pada posisi yang tak begitu nyaman. usaha-usahaku rasa-rasa cuma jalan ditempat saja. tertatih malahan. entah siapa yang harus aku salahkan. sistem yang amburadul, kondisi sosial yang kritis, atau manusia-manusia profitsional. yang jelas, apapun itu akulah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku. karena aku melakukan semuanya dengan sadar. dengan keputusan-kepusanku sendiri. mungkin aku terlalu memotong margin risiko. memang ini tak akan skakmat, tapi rasa-rasanya tak akan mudah memutar roda legilaan ini sendirian.
suatu usaha akan hidup andai motor-motornya bergerak dalam ritme yang sama. pemikiran yang searah, serta pengalaman yang berimbang. tanpa itu semua, memang masih bisa berjalan. namun bila berjalannya sudah mulai pincang, maka salah satu motor harus berkerja ekstra untuk menyeimbangkannya. dan tak akan mudah itu bukan berarti tak mungkin.
terkadang aku ingin berhenti disini. tidak, bukan untul menyerah,manisku. aku hanya ingin istirahat sejenak. menata hati dan tenaga yang baru. mana mungkin aku menyerah semudah itu. doa-doamu tak akan pernah sia-sia.
baik-baik disana,manisku. meski malam begitu menyenangkan, jangan tetlalu larut. jaga kondisimu, dan tentunya juga,... hatimu.
selamat malam,anisku.
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 16 Februari 2018
0 komentar:
Posting Komentar