Pijar mentari
dihari itu. Kini telah usang berserta waktu. Entah senja atau apa, yang jelas,
kabut kerinduan itu menutup cerahnya yang gemilang cahaya dihari itu. Hari-hari
yang begitu kita buat begitu gaduh,kini telah remsi menjadi sebuah kenangan. Aku
dan kamu yang menari didalam gerimis senja itu, kini menjadi senyuman yang
rasa-rasanya ingin ku ulang kembali. Padahal, kamu ingat kawan, setelah itu
kita harus so kuat menahan pahit obat dan sakitnya jarum suntik dokter. Biarlah,
pegangan tanganku tak akan kulepaskan dari telapak tanganmu,walau kulakukan
semua lewat angan. Kamu tetaplah sahabatku.
Lagu cinta inipun masih untukmu teman.
Paying teduh masalalu menguatkan langkahku dalam hujan cobaan. Aku akan tetap
melaju. Bukan sebagai seorang pelawan takdir, bukan pula sebagai seorang
penantang hidup, apalagi untuk mepredikatkan diri sebagai seorang juara. Bukan untuk
itu semua. Karena kamu pun tahu, aku dan kamu tak butuh itu semua. Sebuah cerita
sederhana saja yang ingin ku buat. Tentang seorang sahabat, yang berjuang
menjaga kisah persahabatannya. Mengajarkan nilai persahabatan pada generasi. Atau
setidaknya generasi –generasi itu dapat tertawa mendengar cerita kita. Itu saja.
Karena, jika aku menyerah hari ini, kamu tahukan, kisah kitapun akan berakhir
hari ini juga. Dan kisah-kisah kita hanya bisa dinikmati aku dan kamu saja.
O,ya.
Hari ini sudah berada ditengah penghujan. Aku rindu menjadi bocah nakal bersamamu
seperti waktu itu. Dikejar paman-paman petani. Lalu diam-diam penuh lebel-lebel
nakal pada kita. Heh, sekarang aku tahu, kenapa seseorang bisa marah hanya
karena beberapa buah jagung saja. Satu hal yang tak mengerti waktu itu. Tapi,
apa mereka juga tak pernah berada pada masa-masa kita waktu itu. Kenapa tak
memaklumi layaknya kita yang kini dewasa dan mengerti alasan mereka marah waktu
itu?, entahlah…
Disini,
kerinduan itu terjaga untukmu. Tapi, aku ingin bercerita padamu. Disini ada
orang-orang sepertimu danteman-teman yang lain. Dengan wajah yang berbeda,
kalian merasuk dalam jiwa mereka. Tempat inipun menjadi indah. Menjadi latar
cerita yang menulis kisa-kisah baru. Mungkin akupun akan merindukan tempat dan
orang-orang sini kelak. Walau tak kupungkiri, aku ingin pulang bersama setiap
detik yang berdetak. Tik.. tokk… tikk.. tok.. aku rindu kalian semua.
Mungkin
beginilah scenario hidup. Kita tak akan pernah asing. Kita hanya saling
merindukan. Disetiap tempat selalu ada saja orang-orang lucu sepertimu. Ada
juga yang pemarah, penghasut, orang over idealis, ramah, pendiam, naïf,
pokoknya lengkap. Dan bersama keragaman karakter itulah sebuah kisah ditulis
dan dikenangkan lalu dirindukan. Kawan, aku masih bisa hidup tanpamu, tapi
jujur ku akui, ada kegelisahan saat kita jauh. Aku ingin pulang. Aku ingin
mewujudkan cita-cita kita yang mungkin naïf.
Untuk
sementara, biarlah begini. Biar kita saling berusaha saling menjadikan
kebanggaan satu sama lain. Karena dunia pertemanan itu bukan sekedar
menghabiskan waktu bersama. Melainkan, saling menjaga kisah, kerinduan dan
berusaha saling membanggakan.
sahabatmu,
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 02 Maret 2016
0 komentar:
Posting Komentar