Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

aku ingin pulang



Pijar mentari dihari itu. Kini telah usang berserta waktu. Entah senja atau apa, yang jelas, kabut kerinduan itu menutup cerahnya yang gemilang cahaya dihari itu. Hari-hari yang begitu kita buat begitu gaduh,kini telah remsi menjadi sebuah kenangan. Aku dan kamu yang menari didalam gerimis senja itu, kini menjadi senyuman yang rasa-rasanya ingin ku ulang kembali. Padahal, kamu ingat kawan, setelah itu kita harus so kuat menahan pahit obat dan sakitnya jarum suntik dokter. Biarlah, pegangan tanganku tak akan kulepaskan dari telapak tanganmu,walau kulakukan semua lewat angan. Kamu tetaplah sahabatku.
            Lagu cinta inipun masih untukmu teman. Paying teduh masalalu menguatkan langkahku dalam hujan cobaan. Aku akan tetap melaju. Bukan sebagai seorang pelawan takdir, bukan pula sebagai seorang penantang hidup, apalagi untuk mepredikatkan diri sebagai seorang juara. Bukan untuk itu semua. Karena kamu pun tahu, aku dan kamu tak butuh itu semua. Sebuah cerita sederhana saja yang ingin ku buat. Tentang seorang sahabat, yang berjuang menjaga kisah persahabatannya. Mengajarkan nilai persahabatan pada generasi. Atau setidaknya generasi –generasi itu dapat tertawa mendengar cerita kita. Itu saja. Karena, jika aku menyerah hari ini, kamu tahukan, kisah kitapun akan berakhir hari ini juga. Dan kisah-kisah kita hanya bisa dinikmati aku dan kamu saja.
            O,ya. Hari ini sudah berada ditengah penghujan. Aku rindu menjadi bocah nakal bersamamu seperti waktu itu. Dikejar paman-paman petani. Lalu diam-diam penuh lebel-lebel nakal pada kita. Heh, sekarang aku tahu, kenapa seseorang bisa marah hanya karena beberapa buah jagung saja. Satu hal yang tak mengerti waktu itu. Tapi, apa mereka juga tak pernah berada pada masa-masa kita waktu itu. Kenapa tak memaklumi layaknya kita yang kini dewasa dan mengerti alasan mereka marah waktu itu?, entahlah…
            Disini, kerinduan itu terjaga untukmu. Tapi, aku ingin bercerita padamu. Disini ada orang-orang sepertimu danteman-teman yang lain. Dengan wajah yang berbeda, kalian merasuk dalam jiwa mereka. Tempat inipun menjadi indah. Menjadi latar cerita yang menulis kisa-kisah baru. Mungkin akupun akan merindukan tempat dan orang-orang sini kelak. Walau tak kupungkiri, aku ingin pulang bersama setiap detik yang berdetak. Tik.. tokk… tikk.. tok.. aku rindu kalian semua.
            Mungkin beginilah scenario hidup. Kita tak akan pernah asing. Kita hanya saling merindukan. Disetiap tempat selalu ada saja orang-orang lucu sepertimu. Ada juga yang pemarah, penghasut, orang over idealis, ramah, pendiam, naïf, pokoknya lengkap. Dan bersama keragaman karakter itulah sebuah kisah ditulis dan dikenangkan lalu dirindukan. Kawan, aku masih bisa hidup tanpamu, tapi jujur ku akui, ada kegelisahan saat kita jauh. Aku ingin pulang. Aku ingin mewujudkan cita-cita kita yang mungkin naïf.
            Untuk sementara, biarlah begini. Biar kita saling berusaha saling menjadikan kebanggaan satu sama lain. Karena dunia pertemanan itu bukan sekedar menghabiskan waktu bersama. Melainkan, saling menjaga kisah, kerinduan dan berusaha saling membanggakan.  


sahabatmu,   

0 komentar:

Posting Komentar