Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

15 April 2016

Matahari sudah meredup dan suhu udara pun sudah mulai terasa lebih hangat. Saat tembaku mulai memerahkan baranya dan merubah diri menjadi asap.

Apa kabar kamu, yang masih gigih merajut asa.

Hari ini, adalah hari dimana simpati harus kupaksa mati. Aku merindukan kehidupanku yang baru. Sebuah kehidupan yang masih tertrawang hitam dan harus kembali dari angka nol. Tapi biarlah. setidaknya aku masih punya kata-kata yang dapat kau pegang dan tak mudah berubah cuma karena suhu ataupun gejolak didunia sosial. Satu hal, tangan ini akan selalu menggenggammu, melindungi dan tak akan membiarkanmu kelaparan, kepanasan ataupun kehujanan. Memang, tak ada yang bisa kujanjikan. Rumah dan properti kelas A, liburan ke eropa, atau sekedar dipandang terhormat orang-orang sekitar. Semua itu tak bisa aku janjikan. Jadi, mantapkanlah hatimu, dan ketika kau sudah mulai paham dan siap untul tidak menjadi apa-apa, jawaban "iya" itu selalu aku tunggu. Kapanpun itu.

Lagu cinta itu masih terlantun untukmu kekasih. Saat idealisme dan prinsip hidup dianggap sampah. Saat mereka mengawinkan Tuhan dengan harta. Dan dunia tertawa karena kemenangan perang. Kelak, aku akan mengajakmu hidup pada dunia asing tanpa ada kejayaan. Tanpa ada kalah atau menang. Tanpa ada rasa iri untuk saling berebut predikat. Kau dan aku sibuk bicara tentang negeri abadi, membesarkan anak-anak kita dengan kelembutan dan kerendahan hati. Tak peduli orang bangga dengan pencapaiannya, tak peduli lagi soal piala atau piagam mereka. Senyummu, tawa sikecil, serta sambutan orang-orang yang biasa itu lebih dari apapun. Kau tahu, predikat hanyalah mahkota bagi mereka yang berharap lebih terkenal dari pada Tuhan. Sebuah kelancangan yang terbalut istilah-istilah.

Berlahan dan sangat pelan, lazuardi tertutup mendung. Sepoi angin membawa kabar sebentar lagi hujan kan tiba. Sementara itu, aku masih menyapamu lewat lamunan, lewat barisan kata yang sangat biasa.

Aku semakin bingung mengeja pola pikir mereka. Aku mulai bertanya dalam ruang terdalam hati ini. "siapa yang sebenarnya gila?". Emas-emas yang tertimbun di tanah-tanah kotor itu telah diubahnya. Menjadi pil-pil kecil yang katanya membuat hidup kian abadi. Menampik takdir setiap yang bernyawa pasti mati. Mereka beradu perkasa, menginjak kepala saudara mereka. Lalu meretas peluang yang telah nasib tuliskan.

Untukmu yang siap untuk menjadi manusia yang tak manusiawi.
Jika harta dan nama besar dianggap sebagai hal manusiawi, maka aku lebih memilih menjadi manisia yang tak manusiawi. Jika melawan arus disebut apatis, maka...
Heh, tak ada yang bercita-cita menjadi seorang apatis. Tapi jika semua kegilaan semacam ini disebut lumrah, apakah ada yang lebih damai dari pelawan arus.

Jujur, tak ada kebencian, dendam ataupun kecewa pada hari ini. Hati ini sekejap menjadi kosong dan datar. Mungkin, lakmus pun akan berwarna dengan nilai tujuh. Tak memerah ataupun membiru.

Benk_wd

15 April 2016

Matari sudah meredup dan suhu udara pun sudah mulai terasa lebih hangat. Saat tembaku mulai memerahkan baranya dan merubah diri menjadi asap.

Apa kabar kamu, yang masih gigih merajut asa.

Hari ini, adalah hari dimana simpati harus kupaksa mati. Aku merindukan kehidupanku yang baru. Sebuah kehidupan yang masih tertrawang hitam dan harus kembali dari angka nol. Tapi biarlah. setidaknya aku masih punya kata-kata yang dapat kau pegang dan tak mudah berubah cuma karena suhu ataupun gejolak didunia sosial. Satu hal, tangan ini akan selalu menggenggammu, melindungi dan tak akan membiarkanmu kelaparan, kepanasan ataupun kehujanan. Memang, tak ada yang bisa kujanjikan. Rumah dan properti kelas A, liburan ke eropa, atau sekedar dipandang terhormat orang-orang sekitar. Semua itu tak bisa aku janjikan. Jadi, mantapkanlah hatimu, dan ketika kau sudah mulai paham dan siap untul tidak menjadi apa-apa, jawaban "iya" itu selalu aku tunggu. Kapanpun itu.

Lagu cinta itu masih terlantun untukmu kekasih. Saat idealisme dan prinsip hidup dianggap sampah. Saat mereka mengawinkan Tuhan dengan harta. Dan dunia tertawa karena kemenangan perang. Kelak, aku akan mengajakmu hidup pada dunia asing tanpa ada kejayaan. Tanpa ada kalah atau menang. Tanpa ada rasa iri untuk saling berebut predikat. Kau dan aku sibuk bicara tentang negeri abadi, membesarkan anak-anak kita dengan kelembutan dan kerendahan hati. Tak peduli orang bangga dengan pencapaiannya, tak peduli lagi soal piala atau piagam mereka. Senyummu, tawa sikecil, serta sambutan orang-orang yang biasa itu lebih dari apapun. Kau tahu, predikat hanyalah mahkota bagi mereka yang berharap lebih terkenal dari pada Tuhan. Sebuah kelancangan yang terbalut istilah-istilah.

Berlahan dan sangat pelan, lazuardi tertutup mendung. Sepoi angin membawa kabar sebentar lagi hujan kan tiba. Sementara itu, aku masih menyapamu lewat lamunan, lewat barisan kata yang sangat biasa.

Aku semakin bingung mengeja pola pikir mereka. Aku mulai bertanya dalam ruang terdalam hati ini. "siapa yang sebenarnya gila?". Emas-emas yang tertimbun di tanah-tanah kotor itu telah diubahnya. Menjadi pil-pil kecil yang katanya membuat hidup kian abadi. Menampik takdir setiap yang bernyawa pasti mati. Mereka beradu perkasa, menginjak kepala saudara mereka. Lalu meretas peluang yang telah nasib tuliskan.

Untukmu yang siap untuk menjadi manusia yang tak manusiawi.
Jika harta dan nama besar dianggap sebagai hal manusiawi, maka aku lebih memilih menjadi manisia yang tak manusiawi. Jika melawan arus disebut apatis, maka...
Heh, tak ada yang bercita-cita menjadi seorang apatis. Tapi jika semua kegilaan semacam ini disebut lumrah, apakah ada yang lebih damai dari pelawan arus.

Jujur, tak ada kebencian, dendam ataupun kecewa pada hari ini. Hati ini sekejap menjadi kosong dan datar. Mungkin, lakmus pun akan berwarna dengan nilai tujuh. Tak memerah ataupun membiru.

Benk_wd

13 april 2016

Sudah sebulanan belakangan ini berita kematian menjadi sering. Misteri terbesar dalam hidup manusia itu dialami orang-orang sekitar dan orang-orang yang ku kenal. Kematian seharusnya bukanlah kesedihan. Dimana jarak antara makluk dan Tuhan setulangkah lebih dekat.
Ada tiga hal yang terlalu lancang kita urusi dalam hidup ini. Jodoh, rejeki dan mati makluk adalah urusan mutlak urusan Alloh.

12 april 2016

Selamat 12 April.
Selamat berjumpa untuk ke-24 kalinya.

Genap sudah usiaku pada angka 23. Tak terbilang tua, namun juga tak pantas diucap kemarin sore. 12 april 2016 Dibilang istimewa tidak juga. Hari ini cukup seperti biasanya. Bangun,kerja lalu tidur. Rutinitas yang mungkin terlanjur kronis dalam hidupku. Yah mungkin begitu.

Tak ada lilin ataupun tepuk-tepuk tangan yang mengiringi lagu "happy birth day to you..." dan akupun tak harapkan seperti itu. Tak ada yang perlu dirayakan, sebuah hitungan yang mendekatkan aku pada kematian. Bukankah sejatinya kehidupan itu adalah jalan menuju kematian. Tak usahlah disensor. Yang hidup pasti mati, dan yang mati tak akan pernah kembali. Begitu roda hidup ini berputar. Yang datang menggantikan yang pergi. Yang lahir berganti dengan yang mati.

Kalau kau mau tahu ekspresiku saat tulis ini, aku beritahu aku biasa-biasa saja. Seperti hari kemarin. Wajah lusuh yang cape berkerja.

Well, thanks buat ucapan dan doa-doanya orang-orang tersayang. Satuhal yang ku ingin, kalian selalu tersenyumlah. Kita pasti mati. Tapi jangan pernah bercita-cita mati.


Happy birth day kipli.


#benk_widhiono

Seratus persen Inonesia

yang kulihat indah dari para bintang adalah kegelapan. yang kudengar dari sorak sorai kemenangan orang-orang besar adalah tangis lantang jelata kelaparran. lalu, dimanakah istilah keadilan itu disemayamkan?. Terlalu banyak hal yang dianggap kecil untuk dikorabankan. Diantara tawa-tawa yang meras berkuasa ada tangisan hanya untuk sekedar hidup. Di balik bayangan hitam mereka memuja-muja cahaya. Satu tanya yang masih kusembunyikan dihati ini, sebuah pertanyaan yang mudah dijawab tapi menjadi berat karena moncong senapan. "Mana yang lebih sampah, mereka yang hidup dengan makan dari memungut sampah, atau mereka yang pesta dengan hak mereka-mereka yang makan dari pungutan sampah?"

sementara orang-orang yang merasa besar sibuk di Jakarta. Mendikte pemikiran-peikiran sampah untuk mencipta generasi sambah. Dewasa ini, hal-hal yang dianggap sebagai kearifan telah pelan-pelan dimuseumkan. Dibanggakan sebagai sejarah yang telah berlalu beberapa tahun lalu. Dari balik persegi kaca baju kebudayaan dipajang. Mereka yang Muda yang menulis nasionalis di jidat mereka lalu-lalang berdatangan. entah untuk apa, berharap agar diwancarai mediakiah?, lalu mereka akan mengatakn, "saya bangga dengan kebudayaan kita. kita harus menjga dan melestarikannya", ya, sementara mereka lupa, mereka hanya memakai hotspan dan tengtop saja. Kita memang harus bangga pada Kebudayaan kita, tapi bagaimana dengan kita sendiri?.

beberapa pekan lalu seorang artis ibu kota membuat heboh Indonesia. Dilaporkan sana-sini karena dianggap melecehkan pusaka bangsa. tapi entah bagaimana ceritanya, aku tak tertarik mengikutinya. yang ingin saya unek-unekan bukan soal sibiduan. tapi, jika kita perhatikan, betapa pelecehan-pelecehan telah besar-besaran dilakukan sebagian saudara-saudara kita pada kesakralan negara. Lalu apakah kita akan memenjarakan banyak orang untuk ini, yang tidak lain adalah sanak-kadang kita. semisal saja bisa dengan mudah kita jumpai di Youtube video anak sekolah yang tak hafal pancasila.Sebagian menganggap itu hal lucu. Hiburan memang diperlukan didalam sistem yang kacau. Tapi perhatikan, dan apakah kalian tidak ingin mempertanyakan dimana peran pendidikan dan sebaris orang yang selama ini menggembor-gemborkan nasionalis, menato jidat merka dengan Gauda, atau melantangkan suara bersumpah menyerahkan jiwa raga untuk sang saka?. Apakah mereka merasa paling jago dengan memberi tekanan ketika ada yang dianggap melecehkan?. biar bagaimana pun hukuman tak akan pernah lebih baik dari pendidikan. dan hukuman harus tetap ada dan tak berguna.

Hingga menjadi terlalu mudah dari Jakarta. untuk membuat isue "beginilah Indonesia". sedang didaerah-daerah, para warga masih menundukan kepala untuk moyangnya dan kebudayaannya. Dan Jakarta bukanlah tolak ukur Indonesia. Indonesia itu luas. mungkin saking luasnya, pembangunan nampak "Memmeng" manatap pelosok negeri. sementara Jakarta Sibuk menanam beton-botonnya, kami masih tetap hidup dijalan protokol kami yang bisa ditanami padi dan ditabur bibit lele. dan kami masih seratus persen Indonesia.