Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Seratus persen Inonesia

yang kulihat indah dari para bintang adalah kegelapan. yang kudengar dari sorak sorai kemenangan orang-orang besar adalah tangis lantang jelata kelaparran. lalu, dimanakah istilah keadilan itu disemayamkan?. Terlalu banyak hal yang dianggap kecil untuk dikorabankan. Diantara tawa-tawa yang meras berkuasa ada tangisan hanya untuk sekedar hidup. Di balik bayangan hitam mereka memuja-muja cahaya. Satu tanya yang masih kusembunyikan dihati ini, sebuah pertanyaan yang mudah dijawab tapi menjadi berat karena moncong senapan. "Mana yang lebih sampah, mereka yang hidup dengan makan dari memungut sampah, atau mereka yang pesta dengan hak mereka-mereka yang makan dari pungutan sampah?"

sementara orang-orang yang merasa besar sibuk di Jakarta. Mendikte pemikiran-peikiran sampah untuk mencipta generasi sambah. Dewasa ini, hal-hal yang dianggap sebagai kearifan telah pelan-pelan dimuseumkan. Dibanggakan sebagai sejarah yang telah berlalu beberapa tahun lalu. Dari balik persegi kaca baju kebudayaan dipajang. Mereka yang Muda yang menulis nasionalis di jidat mereka lalu-lalang berdatangan. entah untuk apa, berharap agar diwancarai mediakiah?, lalu mereka akan mengatakn, "saya bangga dengan kebudayaan kita. kita harus menjga dan melestarikannya", ya, sementara mereka lupa, mereka hanya memakai hotspan dan tengtop saja. Kita memang harus bangga pada Kebudayaan kita, tapi bagaimana dengan kita sendiri?.

beberapa pekan lalu seorang artis ibu kota membuat heboh Indonesia. Dilaporkan sana-sini karena dianggap melecehkan pusaka bangsa. tapi entah bagaimana ceritanya, aku tak tertarik mengikutinya. yang ingin saya unek-unekan bukan soal sibiduan. tapi, jika kita perhatikan, betapa pelecehan-pelecehan telah besar-besaran dilakukan sebagian saudara-saudara kita pada kesakralan negara. Lalu apakah kita akan memenjarakan banyak orang untuk ini, yang tidak lain adalah sanak-kadang kita. semisal saja bisa dengan mudah kita jumpai di Youtube video anak sekolah yang tak hafal pancasila.Sebagian menganggap itu hal lucu. Hiburan memang diperlukan didalam sistem yang kacau. Tapi perhatikan, dan apakah kalian tidak ingin mempertanyakan dimana peran pendidikan dan sebaris orang yang selama ini menggembor-gemborkan nasionalis, menato jidat merka dengan Gauda, atau melantangkan suara bersumpah menyerahkan jiwa raga untuk sang saka?. Apakah mereka merasa paling jago dengan memberi tekanan ketika ada yang dianggap melecehkan?. biar bagaimana pun hukuman tak akan pernah lebih baik dari pendidikan. dan hukuman harus tetap ada dan tak berguna.

Hingga menjadi terlalu mudah dari Jakarta. untuk membuat isue "beginilah Indonesia". sedang didaerah-daerah, para warga masih menundukan kepala untuk moyangnya dan kebudayaannya. Dan Jakarta bukanlah tolak ukur Indonesia. Indonesia itu luas. mungkin saking luasnya, pembangunan nampak "Memmeng" manatap pelosok negeri. sementara Jakarta Sibuk menanam beton-botonnya, kami masih tetap hidup dijalan protokol kami yang bisa ditanami padi dan ditabur bibit lele. dan kami masih seratus persen Indonesia. 




0 komentar:

Posting Komentar