Matahari sudah meredup dan suhu udara pun sudah mulai terasa lebih hangat. Saat tembaku mulai memerahkan baranya dan merubah diri menjadi asap.
Apa kabar kamu, yang masih gigih merajut asa.
Hari ini, adalah hari dimana simpati harus kupaksa mati. Aku merindukan kehidupanku yang baru. Sebuah kehidupan yang masih tertrawang hitam dan harus kembali dari angka nol. Tapi biarlah. setidaknya aku masih punya kata-kata yang dapat kau pegang dan tak mudah berubah cuma karena suhu ataupun gejolak didunia sosial. Satu hal, tangan ini akan selalu menggenggammu, melindungi dan tak akan membiarkanmu kelaparan, kepanasan ataupun kehujanan. Memang, tak ada yang bisa kujanjikan. Rumah dan properti kelas A, liburan ke eropa, atau sekedar dipandang terhormat orang-orang sekitar. Semua itu tak bisa aku janjikan. Jadi, mantapkanlah hatimu, dan ketika kau sudah mulai paham dan siap untul tidak menjadi apa-apa, jawaban "iya" itu selalu aku tunggu. Kapanpun itu.
Lagu cinta itu masih terlantun untukmu kekasih. Saat idealisme dan prinsip hidup dianggap sampah. Saat mereka mengawinkan Tuhan dengan harta. Dan dunia tertawa karena kemenangan perang. Kelak, aku akan mengajakmu hidup pada dunia asing tanpa ada kejayaan. Tanpa ada kalah atau menang. Tanpa ada rasa iri untuk saling berebut predikat. Kau dan aku sibuk bicara tentang negeri abadi, membesarkan anak-anak kita dengan kelembutan dan kerendahan hati. Tak peduli orang bangga dengan pencapaiannya, tak peduli lagi soal piala atau piagam mereka. Senyummu, tawa sikecil, serta sambutan orang-orang yang biasa itu lebih dari apapun. Kau tahu, predikat hanyalah mahkota bagi mereka yang berharap lebih terkenal dari pada Tuhan. Sebuah kelancangan yang terbalut istilah-istilah.
Berlahan dan sangat pelan, lazuardi tertutup mendung. Sepoi angin membawa kabar sebentar lagi hujan kan tiba. Sementara itu, aku masih menyapamu lewat lamunan, lewat barisan kata yang sangat biasa.
Aku semakin bingung mengeja pola pikir mereka. Aku mulai bertanya dalam ruang terdalam hati ini. "siapa yang sebenarnya gila?". Emas-emas yang tertimbun di tanah-tanah kotor itu telah diubahnya. Menjadi pil-pil kecil yang katanya membuat hidup kian abadi. Menampik takdir setiap yang bernyawa pasti mati. Mereka beradu perkasa, menginjak kepala saudara mereka. Lalu meretas peluang yang telah nasib tuliskan.
Untukmu yang siap untuk menjadi manusia yang tak manusiawi.
Jika harta dan nama besar dianggap sebagai hal manusiawi, maka aku lebih memilih menjadi manisia yang tak manusiawi. Jika melawan arus disebut apatis, maka...
Heh, tak ada yang bercita-cita menjadi seorang apatis. Tapi jika semua kegilaan semacam ini disebut lumrah, apakah ada yang lebih damai dari pelawan arus.
Jujur, tak ada kebencian, dendam ataupun kecewa pada hari ini. Hati ini sekejap menjadi kosong dan datar. Mungkin, lakmus pun akan berwarna dengan nilai tujuh. Tak memerah ataupun membiru.
Benk_wd

Apa kabar kamu, yang masih gigih merajut asa.
Hari ini, adalah hari dimana simpati harus kupaksa mati. Aku merindukan kehidupanku yang baru. Sebuah kehidupan yang masih tertrawang hitam dan harus kembali dari angka nol. Tapi biarlah. setidaknya aku masih punya kata-kata yang dapat kau pegang dan tak mudah berubah cuma karena suhu ataupun gejolak didunia sosial. Satu hal, tangan ini akan selalu menggenggammu, melindungi dan tak akan membiarkanmu kelaparan, kepanasan ataupun kehujanan. Memang, tak ada yang bisa kujanjikan. Rumah dan properti kelas A, liburan ke eropa, atau sekedar dipandang terhormat orang-orang sekitar. Semua itu tak bisa aku janjikan. Jadi, mantapkanlah hatimu, dan ketika kau sudah mulai paham dan siap untul tidak menjadi apa-apa, jawaban "iya" itu selalu aku tunggu. Kapanpun itu.
Lagu cinta itu masih terlantun untukmu kekasih. Saat idealisme dan prinsip hidup dianggap sampah. Saat mereka mengawinkan Tuhan dengan harta. Dan dunia tertawa karena kemenangan perang. Kelak, aku akan mengajakmu hidup pada dunia asing tanpa ada kejayaan. Tanpa ada kalah atau menang. Tanpa ada rasa iri untuk saling berebut predikat. Kau dan aku sibuk bicara tentang negeri abadi, membesarkan anak-anak kita dengan kelembutan dan kerendahan hati. Tak peduli orang bangga dengan pencapaiannya, tak peduli lagi soal piala atau piagam mereka. Senyummu, tawa sikecil, serta sambutan orang-orang yang biasa itu lebih dari apapun. Kau tahu, predikat hanyalah mahkota bagi mereka yang berharap lebih terkenal dari pada Tuhan. Sebuah kelancangan yang terbalut istilah-istilah.
Berlahan dan sangat pelan, lazuardi tertutup mendung. Sepoi angin membawa kabar sebentar lagi hujan kan tiba. Sementara itu, aku masih menyapamu lewat lamunan, lewat barisan kata yang sangat biasa.
Aku semakin bingung mengeja pola pikir mereka. Aku mulai bertanya dalam ruang terdalam hati ini. "siapa yang sebenarnya gila?". Emas-emas yang tertimbun di tanah-tanah kotor itu telah diubahnya. Menjadi pil-pil kecil yang katanya membuat hidup kian abadi. Menampik takdir setiap yang bernyawa pasti mati. Mereka beradu perkasa, menginjak kepala saudara mereka. Lalu meretas peluang yang telah nasib tuliskan.
Untukmu yang siap untuk menjadi manusia yang tak manusiawi.
Jika harta dan nama besar dianggap sebagai hal manusiawi, maka aku lebih memilih menjadi manisia yang tak manusiawi. Jika melawan arus disebut apatis, maka...
Heh, tak ada yang bercita-cita menjadi seorang apatis. Tapi jika semua kegilaan semacam ini disebut lumrah, apakah ada yang lebih damai dari pelawan arus.
Jujur, tak ada kebencian, dendam ataupun kecewa pada hari ini. Hati ini sekejap menjadi kosong dan datar. Mungkin, lakmus pun akan berwarna dengan nilai tujuh. Tak memerah ataupun membiru.
Benk_wd

Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 15 April 2016
0 komentar:
Posting Komentar