Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Andai Satu Menit itu Seratus Detik (1/-)

detik waktu yang berlalu adalah sebuah ancaman bagi ku. Ingin rasanya ku hentikan jam dinding ruang tengah yang selalu berdentang setengah jam sekali. Tapi percumah juga,aku mungkin bisa menghentikan jam dentang ruang tengah tapi tidak dengan waktu. yang terus laju layaknya maut. Sekarang yang bisa ku lakukan hanyalah pasrah dan menjalani hidup. Ya,menikmati lebih pasnya. sekalipun sesekali waktu nafas ku sesak akibat adanya daging liar di rongga hidung dan saluran pernafasan ku. Dokter bilang itu tumor,ya, tomor jinak katanya. tapi tetap saja sekali pun jinak namun tumbuh di tempat yang sangat vital,saluran pernafasan ku. sekecil apa itu mungkin suatu nanti akan menutup rongga nafas ku. dan itu artinya aku harus merelakan mimpi-mimpi dan orang-orang yang ku sayangi pergi jauh, ya,pergi tapi lebih pasnya aku yang pergi. kecuali seseorang boleh hidup tanpa nafas. sudah dua hari ini kondisi ku memburuk. amandel ku meradang dan rongga hidung sebelah kanan tertutup rapat. temperatur tubuh ku naik, namun aku harus tetap bekerja untuk bisa terus makan. semenjak dokter menganalisa ada tumor di saluran pernafasan ku dan membutuhkan dana hingga puluhan juta untuk mengankatnya,aku lebih memilih diam tentang penyakit ini. dana yang sekian besar itu tak lebih murah dari sebidang galian tanah,kain mori,box pas body dan sebuah marmer bertulis nama ku. menurut saya orang - orang yang menjalani operasi organ -organ vital terlebih mendekati jantung dan paru-paru bisa hidup dan hidup normal. cepat atau lambat itu hanya akan menjadi sebab dia harus berhenti bernafas. Dan kini yang kulakukan hanya belaga sehat dan menghirup O2 yang masih gratis.sesekali orang di sekitarku bertanya tentang pilek yang berkepanjangan dan darah yang sesekali keluar dari hidung. dan aku hanya biasa menjawab"ahh,biasalah perokok mana ada yang bisa kering hidungnya." dan juga "ahh,cuma darah kotor. alergi temperatur" ya itu setidaknya cukup untuk meyakinkan mereka kalau aku baik-baik saja. padahal aku hanya menunggu lubang kecil itu tertutup,dan komplikasi dari efek obat dosis tinggi yang sesekali ku minum. ya,lama atau tak lama semua ini adalah nikmat. dan aku sadar betapa indah nya hidup ini ya Alloh. Andai Satu menit itu seratus detik setidaknya aku bisa menikmati lebih panjang sedikit sebelum semua aku lewatkan.
(bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar