Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

sampah

sampah - sampah telah berserakan. siap menimbun kalian yang terkadang merendahkan. kebencian telah membesarkan kami. mendidik kami betapa kami harus di hargai. sebenarnya hati dan pemikiran tak jauh beda level dengan kalian. hanya saja hati kami terlalu lebih bisa menerima dan memendam rasa sakitnya. rak ada gading yang tak retak, dan setetes air yg saling berkesambungan mampu mengikis kerasnya batu. mungkin seperti itulah analogi aku dan kalian. pada saatnya, minoritas-minoritas akan berubah menjadi sebuah rangkaian yang solid. benteng-benteng setan akan kami tembus. dan kami jadi kan rasa cemburu dan kebencian kami menjadi kekuatan solid yang meluluhlantahkan kesombongan. lalu kami puas hingga tawa kami membayar bibir manyun kami selama ini karena menahan sakitnya penekan. setiap cerita akan ada akir nya. sad atau happy dalam sebuah ending sebenarnya hanya sama saja. tergantung dalang bercerita dari sudut mana. kita adalah dalang untuk hidup kita sendiri. setiap happy ending di satu sisi pasti menyimpan tangis kepedihan di sisi lain. atau sebuah cerita tak terselesaikan ending yang jelas. dan kehilangan pena dalam penulisannya.kita adalah penguasa di perjalanan lita sendiri. dan lainnya adalah oposisi atau rakyat jelanta. siapa yg mrhalangi kita hancurkan. begitu pula mereka berfikir. dan kita lupa bahwa kita semua adalah sampah - sampah estetika dan budaya. namun kita lupa tetang suatu cara untuk menyadarinya.

0 komentar:

Posting Komentar