Dan waktupun membawa kita pada sesuatu yang mungkin mengerikan. Gelap,dingin,buta,tuli,atau apapun yang menggambarkan sesuatu yang buruk. Hingga mungkin akan membuatmu tak mampu berpikir apa yang akan kau lakukan dalam tiga detik kedepan. Otak mu membeku,mulutpun gagu,pandangan kabur,dan berlahan serasa tersiram es dengan temperatur amat minus dari ujung kaki,naik ke hingga ubun-ubun.Mungkin melewati lutut,ke perut membekukan apa yg ada di dalamngya,semakin keatas merengkut jantung hati dan paru,semakin keatas dan memejamlan mata mu. Gelap,hitam,memilukakan.mungkin lebih buruk dari ini. Karena tak ada yang selamat dari peristiwa ini. Dan bercerita tentang susuatu yang akan membuatmu menangis,dan itu adalah "KEMATIAN". Itulah kata yang mungkin terasa lebih mengerikan dari segala bentuk rezim dan kediktaktoran. langit bisa saja terasa gelap saat itu, gerimis tipis-tibis berguguran menyapa belasungkawa detik itu. sesekali kilat menyambar menerangi sepasan gagak terbang membelah langit duka yang begitu hitam. mungkin ada satu orang yang tak meneteskan air mata kala itu, dan itu kamu,yang terlanjur kaku dalam segulung moribertabur bunga wewangian. di sisi lain saudara-saudar mu yang sebagian tengah mebangun istana terakirmu. sebuah pintu sempit yang lebih renda dari permukaan bumi yang akan kau jumpai akhirat dari sana. tanpa teman, tanpa senjata, dan tanpa apa-apa yang biasa membuat berkawan. di sana tak ada jaringan Internet, signal ponsel atupun sekedar gelombang radio.ya tak ada yang di anggap besar didunia ini yang berarti disana.dan saat itu kamu benar-benar sendiri tanpa kawan dan segala hal di dunia ini yang membuatmu besar dan berwibawa.Dan kamu benar-benar merasakan "Ngluruk tanpo bolo, Sugih tanpo bondo, Bagus tanpo rupo,lan Sekti tanpo aji-aji" pada sejatinya Hanya Tuhan dan segala urusanNya yang menjadi kawan di sana nanti. Urusan baik menjandi kawan baik, dan urusan buruk hanya akan jadi petaka yang tak ada banding,kasasi,PK, juga revisi di sana. Mungkin aku dan kamu bisa menfapati itu lebih awal. Aku tak mengharap apa-apa dari kalian. Tak usah kalian perindah kuburan ku. Aku lebih suka kuburan diratakan dengan tanah pada umumnya. Aku lebih suka kaliam toharoh(bersuci) lalu mohonkan ampun untuk ku pada Tuhan.
Yang saya rasakan, yang saya lihat
Benk Widhiono
Dari gang-gang sempit ini kami dilahirkan. Di sebuah tempat damana gedung-gedung tinggi dapat disaksikan. Disanalah pekerjaan dijanjikan. Satu kata yang keluar akan menjadi uang di sana. Entahlah, padahal setahuku gedung itu bukan Bank pencetak uang. Katanya berkerja di sana sangat menyenangkan. Berangkat pagi,kemeja mlipis,sepatu mengkilat,dan celana elegan berikut dompet tebal yang siap membeli apapun,termasuk kehormatan,tahta,hukum dan wanita. Kerja menghadap komputer di ruang ber-AC dan berbicara dg sedikit diplomatis. Setidaknya iti akan menjadi mesin uang. Tapi sayang, semua pekerjaan itu bukan untuk kami. Kami hanyalah sampah,dan akan tetap menjadi sampah. Yang selalu was-was rumah-rumah kami akan di gusur dan diganti gedung-gedung tinggi. Dan kami harus tidur tanpa atap dan beranjang aspal. Sebuah mimpi buruk, yang selalu hadir pada pikiran kami saat hari mulai petang. Seolah mau menghibur kami yang kelelahan setelah seharian memulung sampah untuk kami mangkan. Ya,Sampah. Orang - sampah, makan sampah,dan sekedar makanan sampah saja kami harus berebut dan melangkah dengan rasa was-was akan gempuran penguasa dan perkumpulan sampah lainnya. Hidup kami kadang terasa tak adil,tapi bukan Tuhan merengkutnya, melainkan ada satu lagi sampah yang lebih sampah dari sampah-sampah seperti kami. Dan mereka menindaskami secara ekonomi,mental,dan terkadang hukum........
Sebuah jati diri, kepribadian, dan nafas. Mungkin itulah komponen-komponen kontruksi dari sesosok pribadi yang ku sebut "AKU".yah,aku. Sedang cita-cita yang dulu sering ditanyakan guru TK ku,sudah mulai kuhapus pelan-pelan walau belum mampu semua. Buat ku kata Mimpi itu lebih berharga walau tak se elit dan se mahal cita-cita. Cita-cita buat ku adalah hal yang mahal. Kebanyakan orang di masa kecil ku bilang mengatakan "Gantungkanlah cita-cita setinggi langit"... Hehh,langit,sampai hari ini saja aku tak pernah mendengar berita seorang mampu mengukur berapa tinggi langit dari permukaan laut ataupun permukaan bumi. Mungkin jika ada katak menjadi seekor profesor,baru ada kata penanggal akan ketinggian langit. Namun saat itu aku benar-benar cita ku di langit sana. Dan entah berapa jumlah yang ku gantungkan. Dan setelah aku dewasa dan hendak mengambil cita-cita itu,sebuah harga yang melebihi langit di patok untuk semua. Jangankan langit,untuk ke everest saja tak dengan 200 ribu rupiah. Yah,200 ribu rupiah untuk mensedekahi pengemis dari Pacitan sampai Himalaya masih kurang,apalagi meraih cita-cita di langit. Bagiku Cita-cita itu hanya pembodohon masal,yang senantiasa dijejalkan pada bocah-bocah polos anak-anak para buruh. Yang dipaksa patah dan onani akan satu hal yang mereka inginkan.
Dan bagi ku,kalian yang punya nafas tak perlu punya cita-cita. Tapi satu hal yang akan menggatikannya, yaitu MIMPI. Sebuah hal yang besar tanpa orbit yang jelas menuju kesana.hanya butuh komitmen,ke uletan,kerja keras,dan lapang dada. Sebuah hal besar yang kita pertaruhkan Harga diri dan Pamor.
Wp Theme by Promiseringsdesigns. Blogger Template by Anshul Distribution By New Blogger Templates.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 23 September 2013