bintang,
hari ini aku berdiri di antara janur-janur kuning,
yang melukung indah tersimpul senyum dan kebahagiaan,
esok selepas mentari terbit teman kita akan bersanding di ujung sana,
aku merasa janur itu tertawa dan bertanya,
apakah aku masih kaku menunggu mu,
kapan kamu aku akan duduk disana,
sementara iringan musik membisik tawa meriuh,
namun aku hanya mampu diam,
berguman lirih dengan mata sepah,
bisa saja aku disana tanpa mu,
tapi senyuman padaku,
bisa lebih dari semua itu,
janur kuning kuharapkan bintang di balik lambaianmu,
atau jika harus siapa pun, atau ku biarkan kau usang mengering.
kau memang tak sekuat hatiku untuk bintang
Yang saya rasakan, yang saya lihat
Benk Widhiono
Aku mlihat purnama malu-malu malam ini,
Berdiam diri di balik rerimbun bambu yang bisu,
Diantara hamburan langit dengan bintang yang tak seberapa.
Dan cinta-cinta yang tersenyum walau dengan hati merana.
Manis,
Apa kau rasa yang kurasa,
Apakah aku bersalah saat jatuh hati padamu,
Pada kelembuatan hati mu,
Pada sikap mu, yang tak semua wanita milikinya.
Aku tak pandai membaca hati,
Aku pun tak paham banyak tentang wanita.
Yang aku tahu, aku jatuh hati padamu bertahun-tahun lalu.
Dan mungkin aku telah salah,
Karena dibalik pribadimu yang selalu ku kagumi,
Ada paras cantikmu yang mengganggu,
Dan mungkin orang-orang seperti ku akan selalu salah,
Ketika jatuh cinta pada wanita secantik dirimu,
Dan jatuh cinta bukan sebuah rencana,
melainkan sesuatu yang tak satupun mampu menolaknya.
Tutur lembut melantun lirih,
Menyapa kehampaan suara yang mulai muram,
Lalu adakah alasan untuk sebuah jawaban,
Akan sebercak pertanyaan yang tak ingin ku mengerti,
Aku ini laki-laki gagu,
Tak pandai merayu seindah biru,
Apa yang ku kata ku rasa hanyalah biasa,
Seperti yang terbisik dari hujan pada dinginnya malam,
Menggoyang-goyang cemara kesepian.
Sedang awan-awan di sana cemburu hati,
Dan kilat-kilat melesat menegur rasa,
Terkadang hidup ini lucu,
Yang patut ditertawakan sampai mendendam,
Tanpa perlu alasan tanpa banyak pilihan,
"Abaikan sajalah"
Aku suka orang yang tak terlalu mengerti ku dengan hati,
Berbicara apa adanya,
Dan tak terbata-bata mengeja mau ku.
Bukannya prioritas yang bebas namun terbatas,
Yang manusiawi tapi penuh diskriminasi,
Susah hati untu mengerti,
Akan tak berarti bila memilih satu hal:
"Abaikan sajalah"
Karena apa yang kau nikmati tak harus kau mengerti,
Seperti gerimis pada pada pelangi,
Seperti fajar pada langit pagi,
Datang dan pergi, tanpa yakin kan terulang kembali.
"Abaikan sajalah"
12 mei 2014,
Entah berapa tahun 98 berlalu,
Dan aq pun tak tau banyak tentang hari itu,
Yang ku tahu,
Apa yang diceritakan guru sejarah SMA ku dulu begitu beda,
Yang ku lihat cahaya itu meredup di tengah gemerlapnya demokrasi,
Mungkin mereka lupa,
Mungkin mereka memaafkan,
Atau mungkin mereka mulai kawatir akan masa depannya.
Tak ada yang berharap masa itu terulang lagi.
Dan yang terluka harus diobati,
Sebelum peluru-peluru itu datang kembali,
Keadilan itu tak pernah sempurna,
Sebelum negeri ini dipimpin orang-orang bersih,
Yang tak satupun inginkan seteru atasnya.
Kecuali orang-orang cacat yg penuh ambisi menguasai.
Kata-kata cinta itu fiktif. cinta sebenarnya bukan soal rasa, melainkan berawal dari komitmen dan kebiasaan. Kebiasaan menilai, memahami, dan memperhatikannya. Hingga kebiasaan itu membuat mu yakin untuk berkomitmen, dari sinilah hingga akirnya cinta dilahirkan. Cinta itu buah hati dari kebiasaan dan komitmen. Cinta tak butuh dua orang untuk mewujudkanya. Karena cinta itu hanya sebuah sinonim kasih sayang. Jadi kamu tak perlu patungan untuk menumbuhkannya. Karena cinta itu bukan kamu ciptakan, melainkan kamu nampakkan ke permukaan. Karena cinta itu ada dalam setiap hati nurani manusia. Cinta itu independen, dan hanya kamu seorang yang tahu selain Tuhan. Orang yang kau beri cinta belum tentu membuk kan hati dan mengangkat rasa cinta dihatinya untukmu. Kalau kau pernah merasa jatuh cinta, maka jagalah perasaanmu dan segala hak yang kelak akan kau berikan pada seseorang yang hak bagimu. Walau mungkin Tuhan tak memberikan orang yang kau mau, tapi Semoga Tuhan menjaga hati dan hakmu dari seseorang kelak Dia kirim untukmu.
Cinta itu hal biasa, rasa ingin memiliki itu juga biasa, perasaan ingin menjaga itu juga biasa, apalagi soal seks itu juga sangat biasa. Yang luar biasa adalah menjaga segala hal itu baik-baik dengan harapan kelak orang yang Tuhan kirim buat mu adalah seseorang yang menjaga hal itu baik-baik. Jangan jadi yang biasa, kalau anda sanggup luar biasa. Tuhan akan mengirimkan Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik. Apa yang kau lakukan laksana doa, apa yang kau perbuat serupa harapan mu di hari esok.
Jangan letih mengadu, karena Tuhan tak akan lelah menerimanya. Dan jangan menjadi lemah kalau kamu sanggup kuat.
-*Good luck*-
Masih banyak sekali sarjana-sarjana yang tolol. Mereka yang masih terdoktrin oleh buku-buku sampah. Yang disetiap ajarannya menyisipkan liberalisme dan apatisme. Apa lagi mereka yang mudah terpropaganda. Cepat sekali mengambil kesimpulan karena cuma merasa mereka orang cerdas. Padahal mereka tak lebih hanya seperti robot yang diprogram. Mereka tak akan hidup di suatu tempat baru senggala sesuatunya belum pernah di ajarkan buku. Aku lebih suka melihat pemulung yang makan dengan ikan asin, ketimbang mereka yang di gaji besar tapi bingung apa yang harus di lakukan. Mereka hanyalah orang yang tertolong transkip dan ijazah, yang mereka sembah selain harta dan nama besar.anjing.!!!,
Aku tak pernah yakin hari biru itu akan terlahir. Sementara di setiap negeri masih di pimpin orang-orang penuh ambisi mengusai. Lihatlah saja di negeri kita sendiri, di sini sepertinya telah terlahir pemikiran sesat. "orang terkenal bisa membawa negeri ini maju" mana mungkin. Pemilu menjadi ajang bergengsi serupa pencarian bakat. Intinya kemenangan dan nama besar. "bakul sempak " dan " bakul kutang" laris manis direkrut partai menjadi kader lalu di ajukan sebagai calon penguasa. Karena siapa yg tak kenal "sempak" dan "kutang", partai tolol, emangnya negeri mau jualan "sempak" dan "kutang". Mungkin itu efek terlalu sering main ke lokalisasi.
Masih teringat jelas hari itu, saat sebagian tersenyum dan sebagian memendan air matanya dan sisanya biasa-biasa saja. Semula aku tak akan menimbang. Ku anggap ini sebuah kelumrahan dalam jagad kehidupan. Hari itu benar-benar nampak. Mana yg berwajah peduli tapi membuli, dan siapa-siapa yg benar2 sayang. Sampai hari ini, entah sudah berapa jam itu berlalu, mungkin ratusan. Dan aku mulai merasakan anomali yg ku abaikan. Aku sakit hati. Aku tidak suka di dikte di bawah tekanan. Disuruh begini-begitu sesema orang bodoh. Aku tak tahu pasti, tapi aku hanya menebak. Sudah mulai terbuka mulut2 pengadu domba yg bicara dg menyacat dan melebihkan. Dan kebanyakan mereka menilai apa yang telah kulakukan, tapi masa bodo pada apa saja yang aku terima dan aku rasakan. Dan itu lebih perih dan nenyakitkan. Aku akan selalu mengingat akan semua karya ku yang telah memudar.
Pandangan mu yang begitu pilu, melesat menghempas rampas hingga tumpas.
Tanpa sisa-sisa kekaguman akan apa yang kau maniskan atas awan.
Hingga mendung-mendung runtuh tipis-tipis.
Gerimis mengundang pelangi dalam lamunan senja mentari.
Manis,
Aku hanyut melayang terbelai angan.
Seperti kabut pada dinginnya watu kapur.
Aku terlelap dalam angan jagad semesta.
Manis mu adalah hampar kasih sayang alan raya.
Aku mungkin orang yang aneh, dan malam ini aku merasa begitu. Pada dasarnya aku adalah orang yang suka menulis namun tak suka membaca. Termasuk membaca diri ku sendiri. Malam ini aku melihat diriku sendiri tanpa cermin. Mencoba mengeja penuh titik ataupun koma. Namun terlalu banyak ku jumpai 'petik', kurung dan tanda tanya, yang membuat ku merasa hidupku aneh,misterius dan penuh alias ataupun umpama.mungkin aku orang yang manja dan kurang perhatian. Yang selalu banyak menuntut ini itu. Semua yang ku lihat kurasa aneh. Bagaimana andai aku itu kamu. Dan rasakanlah, bila setiap waktu yang kau jumpai orang egois yang munafik. Yang ingin dipuji, dinomor satukan, dan semaunya sendiri. Apakah kau juga akan menjadi yang "Aneh" seperti yg kurasakan. Apa kau akan selalu mengatakan setuju pada mereka, sementara tak ada kemampuan hati mu menyukainya. Yang ku lihat mereka membawa tumpukan jerami dan api pada ku. Dan aku adalah makluk biasa. Bukan air yang selalu dingin dan memadamkan bara. Mereka menganggap peduli sebagai pemborosan, yang merugikan. Mereka harus selalu untung. Mungkin orang seperti ku tak ada tempat di bumi mereka. Sabar dan terima hanya akan membuatku mati muda.
bara matahari serasa biasa,
cucuran keringat adalah lumrah,
semua bekerja tanpa ada yang beda,
kesibukan yang diisi dengan pembangunan dan kesejahteraan,
mahdani dan mumpuni,
pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya.
tanpa merusak alam,
tanpa merubah wujud dan tatanan jagad yg tak bisa dibuat,
hingga tak ada lagi kabar tentang gizi buruk dari pojok negeri,
ataupun tentang jeritan kelaparan dari sudut dunia mana pun.
ada tawa dalam bibir yang terbiasa "jegadul"
ada senyum harapan dari pribadi yg biasa muram,
setiap hari hanya disibukan pekerjaan, doa dan pembangunan.
seniman-seniman berkarya tanpa adanya batasan,
namun tetap dalam koridor aturan dan norma kesusilaan.
para ilmuan terus mengembangkan pengetahuan,
manipulasi energi, tanpa harus terus gerogoti bumi,
sedang para buruh kebingungan,
kualahan menghabiskan upah-upah mereka di tiap bulannya.
bocah -bocah sekolahan sibuk dg buku dan organisasinya.
sedang yang bercita-cita jadi oposisi sama saja pengangguran.
mungkin ini yang nampak pada begeri ini dari kejauhan pada suatu hari nanti,
suatu hari yang kamu akan merasa beruntung lahir pada jamannya.
lahir di sepanjang #hariBiru
hari ini aku mendengar satu nama lagi. seorang yang berani mengatakan apa yang dilihat dan apa yang di rasakan meski dalam tekanan. tapi sayang, orang-orang seperti mereka hanya bisa kenal lewat nama dan karya besarnya, sedang wajah dan raganya entah dimana. dunia adalah dunia yang aneh,dunia yg lembut tapi kejam. dia adalah wiji thukul. yg sampai hari ini digantung nasib dan keberadaannya. bersama kerinduan keluarga dan kerabatnya. perasaan mu akan terasa emosional saat membaca kisahnya, andai dengan kata yang berantakan sekalipun diceritakan.
Rasa-rasanya aku ingin kalian hidup kembali,
mengajari ku tentang bagaimana berjuang tanpa peperangan,
hanya suara lantang dalam bait yang sarat akan makna,
berbicara tanpa kemunafikan,
apa adanya dan menggenang disetiap kubangan jaman.
tapi sayang, orang-orang seperti kalian harus hilang di lubang senapan.
menjadi kawan bagi mereka yang kecil,
menjadi ancaman bagi kaum penguasa,
yangteramat beracun tak bertuan.
Wp Theme by Promiseringsdesigns. Blogger Template by Anshul Distribution By New Blogger Templates.
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 20 Mei 2014