Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Sampah

Harapan-harapan itu akan selalu tumbuh. Mekar mewangi hingga ketempat- tempat yang belum sempat manusia tahu. Seperti cahaya kecil yang menjadi begitu terang karena gelapnya jagad semesta. Cahaya kecil yang selalu diharapkan dan terlantun dalam doa.

Sebelumnya, perasaan - perasan sulit ini pernah singgah. Mengisi dan membimbangkan perasaan. Tapi, selalu saja. Tuhan mengirim cahaya itu dalam jagad yang sudah mulai gelap. Yang penuh rasa takut, kemudian tersenyum lalu percaya, semua akan baik-baik saja. Mungkin kali ini pun juga demikian. Tapi belum untuk detik-detik ini.

Makluk kecil yang berhenti berdoa. Diantara peluh dan darah yang menetes beriringan. Dan saat semuanya menjadi benar-benar sulit, aku terketuk akan satu tanya yang terselip diantara tumpukan masalah. "Doaku yang terlalu atau....?",
Hah, sudahlah... Hidup hanya bisa terus dijalani. Hancurkan saja impian jika hanya terus-terusan memberikan rasa sakit. Kenyataan, kesempatan dan kerja keras akan membuat nafas tetap berhembus. Sekalipun hanya menjadi sampah.

27 mei 2015

Sudahlah, jalan takdir tak mungkinlah teringkari. Tak ada yang mengharapkan apa-apa yang tak diinginkan menyinggahinya. Tapi apalah daya. Manusia tetaplah manusia. Makluk kecil yang mampu menatap langit dengan warna-warninya yang berubah-ubah. Tak sedikitpun manusia mampu mampu mengatur warna langit kecuali dengan kebohongannya. Ya, dan yang mendapat tepuk tangan karena kebohongan adalah sampah. Pembohong tetaplah pembohong, tak akan dipercaya sekalipun yang dibicarakannya suatu kebenaran.

Hari ini,ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Semacam rasa takut yang tak terkendali, rasa sakit yang tak terobati, kasih sayang yang tak terbalas dan kebencian yang tak terlampiasakan. Perasaan-perasaan sampah yang menimbun kebahagiaanku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku ingin menjadi nama yang menghilang lalu dilupakan. Terkubur tanpa batu nisan.

Sampai matahari menunjukkan panasnya, aku pun masih menanti jawaban dari Tuhan. Tentang satu hal yang harus kulakukan.

16 mei 2015

Aku tak tahu pasti kapan kita mulai kenal. Atau mungkin kita memang tak pernah kenal. Tapi, sejak aku melihatmu, aku melihat bintang dalam dirimu. Dan tatapan pertama kita itulah yang ku anggap sebagai sebagai jabatan tangan. Walau mungkin kau anggap itu begitu biasa. Dan itu tumbuh tanpa sengaja darimu. Dan aku berharap, kaulah seseorang yang akan membuatku yakin menyimpan bintang di dalamku yang terdalam. Sangat dalam hingga aku tak dapat menemukan lagi. Dan jadilah bintang yang baru dalam hatiku. Yang bersinar, menyilaukan, dan menerangi di setiap sudutknya.

Kau tahu siapa bintang ?, bintang adalah seorang wanita yang darinya aku belajar banyak hal. Banyak yang sama diantara kalian. Tinggi badan, gestur wajah saat bicara dan yang paling sama adalah kalian selalu lama dan sulit membalas pesan-pesan singkat yang ku kirim. Kalian adalah salah satu hal istimewa dalam hidupku.

Mei 2015,
Sudah setengah umur Mei tahun ini. O,iya... Selamat yah atas Purna Wiyata mu. Dan setelahnya, semoga sukses selalu menyertaimu. Dan bersama itu, aku sadar akan satu hal. Aku tahu semuanya akan terjadi. Yah, kau akan pergi. Entah kemana, yang jelas mungkin aku tak akan lagi melihatmu. Sebenarnya ada yang kutulis dalam kertas berwarna biru. Kau suka warna biru?. Tapi masih ku simpan. Mungkin beginilah akhir yang tak pernah ku tahu waktu itu. Dan aku berharap semoga masa yang akan datang mempertemukan kita.

14 Mei 2015

Aku tuliskan semua harapanku pada lamunan. Saat lagu cinta yang masih sama, menjadi senandung pengetuk hati. Kini aku pun masih berdiri di tepian jingga ini. Bersama doa yang tak pernah berhenti, bersama doa yang terus menyirami mimpi-mimpi. Akankah kau pergi selamanya, kasih?. Aku tak yakin berharap besar padamu yang ping, biru ataupun kuning. Tapi apalah arti soal warna. Yang mau mengerti akan tetes keringat dan darah tentu akan diperjuangkan ketimbang yang meminta lautan dan lazuardi. Yang bicara soal komitmen lebih layak dipertahankan dari yang bicara soal perasaan. Karena bocah-bocah di hari itu kini telah dewasa. Menjadi aku, kamu dan mereka. Kita.

Kau selalu membuat hari-hari menjadi biru. Mengubah sepi menjadi nyanyian. Dan juga rasa takut menjadi harapan. Sebenarnya gadis macam apa kau ini?, malaikat atau bethari?...

Jika waktu diulang sekalipun. Aku pun masih tetap sama. Diam dan diam-diam mencuri dirimu dengan mataku. Kau istimemewa.

Sunsetmu indah, Klayar

Arya Purwaka. Sosok yang menjadi sering kurindukan belakangan ini. Dulunya, kami adalah sepasang sahabat yang begitu erat. Kami lahir di tahun yang sama. Sekolah di sekolah yang selalu sama. Begitupun juga tempat tinggal kami. Karena segala hal yang sama itulah, kami tumbuh menjadi sahabat. Mungkin malah lebih. Arya bagiku sudah menjadi saudara laki-lakiku. Dalam masa-masa yang labil, kami sadar, selain sepasang sahabat, kami harus siap menjadi rival. Saling berebut prestasi, perhatian dan pengakuan dari lingkungan sekitar. Disekolah, masyarakat, dan banyak tempat lagi yang membuat kita sama-sama didalamnya dan bersaing. Tapi seiring usia kami yang kian hari kian bertambah, kami sadari hal itu. Dan sepanjang kenyataan yang terlampoi, kami masih bisa terima dan saling melengkapi. Tak ada masalah. Kami memang bersaing karena usia dan lingkungan yang sama memaksa kita. Tak ada keirian yang nampak diantara kami. Walau dalam hati tiada yang tahu. Kata " jangan menyerah" dan "selamat"  menjadi sepasang ungkapan yang sering kami lontarkan satu sama lain. Arya..., masih teringat jelas waktu itu. Kami sempat dirawat dirumah sakit karena kalah  dalam sebuah perkelahian. Sebenarnya yang punya masalah adalah aku. saat kami dihadang arya diberi kesempatan untuk pergi. Tapi dia malah lebih memilih untuk dihajar bersamaku. Masih banyak lagi hal yang telah diajarkannya padaku. Arya adalah sahabat, rival dan juga,.. Guru terbaikku. Dan cerita tentang kami, menjadi hal yang indah untuk kukenang. Yah, hampir semuanya, kecuali satu hal. Hal bodoh yang mungkin akan kusesali sampai saat nanti. Saat kita bisa sama-sama lagi, atau mungkin aku akan menyesal selama-lamanya. Aku tak tahu, apakah kelak kita akan sama-sama lagi.Klayar. Begitulah nama pantai ini yang diperkenalkan Arya padaku. Waktu itu aku masih kelas lima SD. Dan untuk pertama kalinya aku datang ketempat ini. Sebuah hamparan pasir putih, dengan hempasan ombak khas pantai selatan. Menggelegar. Letaknya terselip diantara tebing dan bukit pesisir barat kabupaten Pacitan. Dengan  jalan akses yang tak mudah. Letaknya lumayan jauh dari jalan utama Solo-Pacitan. Sekitar setengah jam lebih dengan tanjakan dan tikungan tajam yang penuh kejutan. Tapi, semua itu tak membuat pantai ini sepi. Keindahan alam di sekitar Klayar akan membayarnya lebih."Terima kasih Arya, setidaknya tempat ini mampu menghiburku, menemaniku saat kau jauh, dan mengobati rinduku padamu,Saat keadaan memaksa kita untuk saling jauh. Aku tak punya keberanian untuk membicarakan semuanya padamu. Atau mungkin kita masih terlalu naif dalam hidup ini...".Sinar mentari kini telah menjadi hangat. Jauh di dalam hatiku, aku berharap Arya datang. Duduk disampingku dan menghabiskan senja bersama. Seperti yang dulu kita lakukan kala akhir pecan datang.  
"satu hal yang membuatku jatuh hati pada Klayar adalah Seruling Samudera dan senjanya. Pesonanya mampu menghiburku, mengobati  kerinduan pada seseorang, kelak dating ke tempat ini kala kau rindu padaku,heehe ", begitu kata Arya waktu itu.

Dan hari ini pun aku melakukannya. Sayang, seruling samudera telah terpeluk ombak kala hari menjelang senja. Kini aku menantikan Sunset indahnya Klayar. Karena aku tengah benar-benar merindukan seseorang begitu dalam."aku harap Tuhan memberiku satu kesempatan lagi untukku Ya, aku ingin kita seperti dulu lagi.... Arya, apa kau tak merindukan sahabatmu ini?",Sepoi angin pantai membelaiku. Membuat mataku tertutup meresapi setiap hembus sejuknya. Sembari mengharap Senja segara datang. Sementara masih banyak kesibukan disekitar. Rupanya kamu benar Ya, Senjanya Klayar mampu memberi kedamaian di hati. Nyatanya, tak hanya aku. Masih banyak yang ingin mengatakan "Woww, Sunset yang indah", di sini.Mungkin semua tak akan begini kalau saja waktu itu kita tak jatuh cinta pada wanita yang sama. Kita sudah biasa bersaing dalam banyak hal. Tapi entah mengapa, Sita Aswana Aksara mampu membuat kita merasakan hal yang lain. Aku tahu, Arya suka sama Sita sudah sejak kelas dua SMP. Aku sendiri juga tak tahu pasti mengapa aku pun merasakan itu berlahan. Aku mulai mengenal Sita pun dari cerita-cerita Arya. Dan semuanya diluar dugaanku. Tapi mengapa Sita mau denganku, aku juga tak tahu pasti. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya tak ada ucapan "Selamat" untuk sebuah keberhasilan dalam satu hal yang kita perebutkan.

"sahabat macam apa kau ini, kau selalu mengajari semangat dan yakin untuk bisa bersamanya. Tapi setelah aku semangat, setelah aku yakin, kau juga yang menghancurkannya begitu menyakitkan. Aku kecewa padamu,Pras..", dan kalimat itulah yang menjadi salam perpisahan. Dan untuk pertama kalinya, kita mulai melibatkan perasaan serius dalam sebuah persaingan. Mungkin semacam hargadiri.

"Apakah Sebuah persahabatan yang kita bangun, hanyut begitu saja Ya?". Kau yang bilang "Sahabat tak akan pernah meninggalkanmu", tapi hari ini aku kehilangan semuanya Ya, kau meninggalkanku karena soal Sita. Dan Sita pun meninggalkanku karena laki-laki lain. Hanya Klayar yang tak berubah Ya, tetap cantik, ramah, dan merimaku setiap kedatangannku. Andai saja kamu ada saat ini Ya".Terus aku hanyut dalam suasana pantai. Tapi kurasa aku salah meyakini sesuatu hari ini. Sebuah keyakinan hati yang membuatku menati senja di pantai ini. Kurasa  Arya pun tak akan datang. Mungkin ada baiknya aku pulang saja. Ibuku pasti mencariku."Mau kemana?, tanggung, Sunset sebentar lagi", suara itu seakan memegang erat langkahku. Pelan dan pelan aku balikkan badanku. Mencari darimana suara itu datang. Sebuah senyum menyapa bersama keharuan. Matanya menatapku tajam hingga ke hati. Linangan air mata yang membeningkan matanya seolah berkata "aku rindu kau". Aku tak sanggup berkata apapun. Seperti ada yang berat di dada dan mataku. Hingga aku merasa mata ini mulai tergenang. Tangannya merentang. Bibirnya seakan ada yang ingin dikatakan namun berat. Tapi, terus ia mencoba meludahlan kata-kata."A..,a..appa kau tak merindukan sahabatmu, Pras...?".
Tanpa banyak kata, aku hampiri tubuh yang berdiri terpaku  di atas pasir putih. Ternyata dia dibelakangnku. Lalu kubiarkan tangis kerinduanku pecah bersama pelukan. Persetan orang-orang aneh melihatnya.
"Maa.. maafin aku Ya..",
"ssttt... Kita masih terlalu naif bicara soal benar,salah dan maaf. Lihatlah...", tangannya menunjuk kearah bukit disebelah barat. Dan sekarang mentari akan tenggelam dibukit itu setelah men'jingga'kan langit. Kami yang berdiri bersebelahan lalu saling pandang. Lalu menatap lagi mentari untuk yang terakir dihari ini."Woww, Sunset yang cantik".Terimakasih Ya, kau benar, saat semua datang dan pergi, ada satu hal yang akan tetap tinggal. Sahabat sejati akan tetap tinggal, sekalipun tak selalu dekat secara jarak."Woww, Sunset yang indah, Klayar"

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com
 dannulisbuku.com
 #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

12 Mei 2015

Lagu cinta itu masih untukmu kekasih,
Diantara sinar-sinar yang menabukan kegelapan,
Dan keheningan yang menusuk gaduh, sepi.
Aku pun masih aku yang kemarin.
Yang mengharapmu,
Seperti mendung pada hujan.
Seperti kemarau pada penghujan.

Tapi,
Apa yang aku dapati,
Sebuah pemandangan yang tak seperti angan.
Kau pun akan menghilang.
Pergi, jauh..
Mengejar mimpimu menuju masa depanmu.
Kita impikan dua hal yang tak seragam.
Kamu merah dan aku jingga.
Sampai takdir menuju akhir,
Ku harap keajaiban kembali mempertemukan.

Terbanglah kekasih,
Lampoilah pelangi dan para awan,

Sebuah tanya

Untukmu,
Aku bertanya padamu yang sepi.
Yang coba menelaah tentang satu arti hidup ini.
Yang nyata namun tak dimengerti.
Lalu diam sejenak kemudian menangis.
Tak henti-henti bertanya.
Lagi dan lagi,
Lalu diam kemudian menangis.

Hidup yang kita jalani,
Jalan yang kita pilihan,
Dan pilihan yang cipta,
Hanya mampu ciptakan rasa ini.
Semacam tak tahu tapi percaya.
Yakin...
Hanya itu yang bisa kita lakukan.
Terhadap semua yang kita ciptakan.

Tegaklah keatas sana.
Sepasang malaikat terbang diantara awan-awan.
Dalam naungan Lazuardi,
Yang membirukan semesta.
Kau tahu?,
Untuk apa dang bagaimana?,
Masihkah mencoba bertanya.
Lalu diam kemudian menangis.

Aku bertanya padamu yang menaungi rasa.
Akankah kau mengerti?,
Hati kecil,

Sebuah tanya

Untukmu,
Aku bertanya padamu yang sepi.
Yang coba menelaah tentang satu arti hidup ini.
Yang nyata namun tak dimengerti.
Lalu diam sejenak kemudian menangis.
Tak henti-henti bertanya.
Lagi dan lagi,
Lalu diam kemudian menangis.

Hidup yang kita jalani,
Jalan yang kita pilihan,
Dan pilihan yang cipta,
Hanya mampu ciptakan rasa ini.
Semacam tak tahu tapi percaya.
Yakin...
Hanya itu yang bisa kita lakukan.
Terhadap semua yang kita ciptakan.

Tegaklah keatas sana.
Sepasang malaikat terbang diantara awan-awan.
Dalam naungan Lazuardi,
Yang membirukan semesta.
Kau tahu?,
Untuk apa dang bagaimana?,
Masihkah mencoba bertanya.
Lalu diam kemudian menangis.

Aku bertanya padamu yang menaungi rasa.
Akankah kau mengerti?,
Hati kecil,