Aku tuliskan semua harapanku pada lamunan. Saat lagu cinta yang masih sama, menjadi senandung pengetuk hati. Kini aku pun masih berdiri di tepian jingga ini. Bersama doa yang tak pernah berhenti, bersama doa yang terus menyirami mimpi-mimpi. Akankah kau pergi selamanya, kasih?. Aku tak yakin berharap besar padamu yang ping, biru ataupun kuning. Tapi apalah arti soal warna. Yang mau mengerti akan tetes keringat dan darah tentu akan diperjuangkan ketimbang yang meminta lautan dan lazuardi. Yang bicara soal komitmen lebih layak dipertahankan dari yang bicara soal perasaan. Karena bocah-bocah di hari itu kini telah dewasa. Menjadi aku, kamu dan mereka. Kita.
Kau selalu membuat hari-hari menjadi biru. Mengubah sepi menjadi nyanyian. Dan juga rasa takut menjadi harapan. Sebenarnya gadis macam apa kau ini?, malaikat atau bethari?...
Jika waktu diulang sekalipun. Aku pun masih tetap sama. Diam dan diam-diam mencuri dirimu dengan mataku. Kau istimemewa.
Filed Under : by tri widhiono
Kamis, 14 Mei 2015
0 komentar:
Posting Komentar