Sudahlah, jalan takdir tak mungkinlah teringkari. Tak ada yang mengharapkan apa-apa yang tak diinginkan menyinggahinya. Tapi apalah daya. Manusia tetaplah manusia. Makluk kecil yang mampu menatap langit dengan warna-warninya yang berubah-ubah. Tak sedikitpun manusia mampu mampu mengatur warna langit kecuali dengan kebohongannya. Ya, dan yang mendapat tepuk tangan karena kebohongan adalah sampah. Pembohong tetaplah pembohong, tak akan dipercaya sekalipun yang dibicarakannya suatu kebenaran.
Hari ini,ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Semacam rasa takut yang tak terkendali, rasa sakit yang tak terobati, kasih sayang yang tak terbalas dan kebencian yang tak terlampiasakan. Perasaan-perasaan sampah yang menimbun kebahagiaanku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku ingin menjadi nama yang menghilang lalu dilupakan. Terkubur tanpa batu nisan.
Sampai matahari menunjukkan panasnya, aku pun masih menanti jawaban dari Tuhan. Tentang satu hal yang harus kulakukan.
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 26 Mei 2015
0 komentar:
Posting Komentar