Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

13 Pebruari

cinta tak pernah salah. cinta adalah satuan rasa dari sesuatu bernama hati. menyayangi, mengayomi, menjaga, menguja segala pinta dari setiap apa yang dicintai. cinta adalah anugrah sang Maha. ditanam dalam  hati setiap manusia. untuk sesama, untuk semesta raya, Untuk menjadi penuntun jalan kembali pulang pada-Nya yang Esa, sang Maha Pengayom jagad semesta raya. begitupun kecintaanku padamu. agar tak kurasa sendiri menyusuri jalan kembaliku pada-Nya. kekasih, selamat pagi. tersenyumlah.

Cinta tak pernah pilih kasih. tak pernah hati tahu yang terbaik untuk dan atas ujung cerita. jika hari ini aku mencintaimu, hari ini juga aku akui aku mencintai wanita lain bahkan seluruh manusia dan semesta. karena aku yakini, cinta tak seperti wahyu, yang digariskan turun kebumi untuk seorang nabi. jadi aku mencintaimu seperti kecintaanku pada yang lain. tak istimewa tak berlimpah. karena aku tak pernah tau akan satu cara. menjadikannya istimewa dan berlimpah. hanya saja, ada harapan, kekaguman, rasa takut kehilangan, dan sebaris rasa yang menjadikanmu prioritas. menjadi nomer satu sebagai pemegang dayung disisi lain dayungku mengarungi jeram kehidupan. aku butuh kau, sebagai teman, penyeimbang, pemberi rasa damai di jagad raya hingga ke alam keabadian. aku butuh kau sebagai harta berharga untuk aku jaga. untuk ku selimuti dari dingin sikap jaman yang semakin tak jelas, arogan, egois. dunia yang semakin lucu. dihasut modernisasi dan liberalisasi. aku butuh kau sebagai ikatan yang akan selalu kuperjuangkan. jadi, maukah kau bersama-samaku, mengarungi jalan untuk kembali pulang, kekasih?. terimakah kau dengan rasa cinta yang sederhana ini, manis?.

langit berlahan cerah. pijar harapan dari hari yang melulu hujan. menyingsingkan cahaya terang, agar kau bisa melihat jelas aku disini. menantimu sampai kau mengerti. sampai kau menepi dari kefanaan duniawi.

dari penghujung segala negeri, yang dingin ataupun panas. yang hujan ataupun terik. kekasih, maukah kau menjadi seseorang yang mendengar ceritaku tentang penghianatan, kasih sayang, dan harapan, mula-mula sekali?.

dunia semakin gila saja. perang dan perang. penghasutan, penghianatan, memanfaatkan, dan segala sikap pengecut lainnya. seolah sudah lazim dalam kehidupan " mencari kawan ". persekutuan palsu, tipu-tipu. penjajahan tak pernah berakhir. akan selalu ada sampai dunia benar-benar melupakan bendera. dewasa ini, kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan individu. menjadi diri-sendiri yang mengalir namun tak hanyut. aku berharap, mencintaimu adalah atas dasar kemerdekaan individu. bukan karena standar paras estetika dari para penggila wanita, bukan pula penjajahan dari tangkapan indrawi akan dunia telanjang yang marak belakangan. bahkan, kau pernah dengar,manis?, sebuah papan iklan berteknologi dipersimpangan jalan di kota besar menayangkan atraksi memalukan itu. memang bukan resmi, ulah orang-orang tak bertanggung jawab.

o,ya manis. selamat beraktifitas di senin redup ini. tetap tersenyum.

12 Pebruari

selamat pagi hujan. selamat pagi manis.

gerimis tak hentinya puitis. membasahi seisi semesta tanpa habis. tanpa ampun, tanpa lelah dari hujan rahmat Sang Maha berlapis-lapis. apa kau masih pada senyummu yang itu?, yang manis. atau malah kau tersendu tangis?. manisku, aku rindu.

dedaunan beralun pelan. kekanan lalu kekiri. mengikuti sebandung angin. juga sajak gerimis. A-B,A-B. seperti pantun, tapi bukan. hanya lagu kerinduan, syair kesepian, nyanyian keabadian. kasih sayang yang diuji oleh jarak dan waktu. kau kuat, kau bisa untuk biasa dengan semua. apa ada yang lebih romantis melebihi kasih sayang tanpa kerinduan, manis?. seperti malam pada mentari, seperti kemarau pada hujan, seperti mahkluk pada Rob-nya. manis, tersenyumlah.

08 pebruari

Selamat manis, yang pernah meminta keindahan namun urung, selamat sore, dek.

Delapan Pebruari dua ribu tujuh belas. selepas hujan. selepas aku terima pesan rindumu yang itu. aku pun jua. sama sepertimu. persis perasaanmu. memang, kali ini kita benar-benar sama-sama. beradu kuat dalam penjara rindu. kuat selalu, manisku.

hujan turun tak begitu saja. dari partikel air yang entah berapa diameternya. sangat kecil sekali. sebelum akhirnya dipersatukan mengredupkan semesta. menutup matahari menindas lazuardi dari dunia indrawi manusia. dari yang semula bukan apa-apa mampu menjadi besar dan menakutkan. tapi sayang, kekuatan besar itu hancur oleh terpaan angin. kembali lagi menjadi titik air yang membasahkan. menetes bertubi-tubi. menghujam dari setiap apa yang ada dibumi. mengalir bersama segala yang mengkontaminasi beningnya. sebagian tetap bening, tak sedikit yang jatuh kotor.

penguasa-jelata tiadalah beda. mereka lahir dari rahim yang serupa. dari seorang ibu yang menanamkan cita-cita serta harapan akan sebuah harapan padanya.

aku yakin, penguasa kotor dan jumawa akan jatuh pada sekubang lumpur. kotor dan hina. jangan terlalu terlena dengan pencitraan dan sebaris sikap naif. munafik malahan. penguasa bukanlah pemilik suaru negeri. tak lebihnya hanya kacung dari sesama. kacung yang dihormati. yang dipertaruhkan martabatnya duhadapan Sang Maha.

04 pebruari

Ungaran tersaput kabut. Entah udara yang dingin atau larena AC kendaraan. Yang pasti, kaki yang lupa tak berkaos sudah mulai astep.

17:15. Masuk tol bawen. Apa kabarmu sore ini, manis?. Sudah mandikah?, lekaslah. Belakangan cuaca di kampung terlampoi dingin. Sangat dingin. Dingin sekali.

Sebenarnya, tentu menyenangkan andai kita luangkan waktu berdua. Bermain

02 Pebruari

Selamat pagi manisku, sudah sarapankah?, lekaslah.

Pagi gerimis bak langit tiada henti menangis. Menangisi dari setiap sudut jalan pengemis. Menangisi sikap reaktif dari pemikiran taktis. Kacau, runyam, ada apa dengan negeri ini yang konon demokratis. Kenapa dan apa yang terjadi pada para aktifis. Kemana mereka atau memang sudah habis. Mungkin benar, jangan kan manusia, malaikat saja andai masuk sistem ini bisa menjadi iblis.

Kemana perginya para parlemen jalanan?, yang mendukung penguasa terpilih dulu?. Apa kini mereka malah jadi staf dibalik singgahsana.

Manis, apa kita yang salah?, lahir dan tumbuh di bumi ini?, saling jatuh hati pada arus yang munafik. Romatis yang seperti apa yang mampu kita cipta. Apa yang indah dari kisah cinta di kubangan lumpur. Hanyut dalam kemunafikan atau dituduh ke kiri.

Well, tetap tersenyum manis. Kita nikmati suasana ini. Bertembok Kenaifan, beratap kemunafikan, berpintu doktrinasi ra mutu, bercendelakan dikte dan hoax. Kita pura-pura bahagia saja didalam rumah kita ini. Saat ini.