Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

08 pebruari

Selamat manis, yang pernah meminta keindahan namun urung, selamat sore, dek.

Delapan Pebruari dua ribu tujuh belas. selepas hujan. selepas aku terima pesan rindumu yang itu. aku pun jua. sama sepertimu. persis perasaanmu. memang, kali ini kita benar-benar sama-sama. beradu kuat dalam penjara rindu. kuat selalu, manisku.

hujan turun tak begitu saja. dari partikel air yang entah berapa diameternya. sangat kecil sekali. sebelum akhirnya dipersatukan mengredupkan semesta. menutup matahari menindas lazuardi dari dunia indrawi manusia. dari yang semula bukan apa-apa mampu menjadi besar dan menakutkan. tapi sayang, kekuatan besar itu hancur oleh terpaan angin. kembali lagi menjadi titik air yang membasahkan. menetes bertubi-tubi. menghujam dari setiap apa yang ada dibumi. mengalir bersama segala yang mengkontaminasi beningnya. sebagian tetap bening, tak sedikit yang jatuh kotor.

penguasa-jelata tiadalah beda. mereka lahir dari rahim yang serupa. dari seorang ibu yang menanamkan cita-cita serta harapan akan sebuah harapan padanya.

aku yakin, penguasa kotor dan jumawa akan jatuh pada sekubang lumpur. kotor dan hina. jangan terlalu terlena dengan pencitraan dan sebaris sikap naif. munafik malahan. penguasa bukanlah pemilik suaru negeri. tak lebihnya hanya kacung dari sesama. kacung yang dihormati. yang dipertaruhkan martabatnya duhadapan Sang Maha.

0 komentar:

Posting Komentar