#OraKuduKeren

Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

MENTAL SOSMED

“Mental Sosmed!!!”

Olokan-olokan itu masih terngiang jelas. Dialamatkan pada mereka yang “banyak bacot” di Sosial media tapi jadi kucing di dunia nyata. Sosial media yang bisa diakses cukup menggunakan ponsel tentu tidak memberikan tekanan mental untuk orang-orang “berekspresi” dan lebih seringnya “lepas kontrol” dengan apa yang dilakukan disana. Lain cerita ketika seseorang saling bertatap muka, dimana perawakan, suara, dan wajah seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan arah pembicaraan. Jangankan untuk hal-hal yang spontan, untuk sesuatu yang dipersiapkan sekalipun bisa seketika berantakan. Mental dan kebijaksanaan seseorang baru akan benar-benar teruji. Mental itu sendiri tidak cukup diartikan dengan keberanian. Orang bermental lain ceritanya dengan orang nekat. Mereka yang bermental cenderung memiliki arah dan sikap yang jelas. Sementara yang Cuma nekat lebih terkesan serabutan dalam berpendapat. Pokoknya kemodalan wani sajalah.

Sosial media tumbuh besar terlalu cepat. Ibarat memilihara seekor harimau, dia tumbuh besar jauh lebih dari yang pernah diperkirakan. Sehingga menjadi hal sangat merepotkan bahkan cenderung mengancam keselematan si pemelihara. Semestinya peliharaan semacam harimau itu bisa dilakukan bertahap “keamanannya”, lha ini, yang mulanya sebesar seeekor kucing rumahan yang dijadikan teman berlari-lari tiba-tiba jadi segede pedhet. Hay modarlah.

Mungkin formula yang membuat sosial media tumbuh diluar kendali salah satunya adalah “pemaksaan” digitalisasi yang membabi-buta. Tidak peduli bagaimana kondosi seseorang, hari ini harus memiliki handphone dengan spesifikasi tertentu yang bisa diinstal aplikasi ini-itu. Setiap orang dianggap memeiliki piranti itu. Setiap orang dianggap memiliki akses jaringan dan finansial untuk itu. Setiap orang dianggap bisa mengakses sebuah server yang mumpuni dan anti-down. Dengan begitu setiap orang memiliki akses ke siosial media dari beragam pehaman tentang sosial media. Sebelum akhirnya keluar angka statistik yang dengan judul “antusias masyarakat akan digitalisasi” atau “peningkatan melek digital”.

Tidak mungkin ini terus tumbuh tanpa dukungan dari “raksasa-raksasa” di dalamnya. Entah berupa sesuatu yang di atas meja atau di bawah sekalipun. Berupa argumentasi sop[an-santun hingga narasi ala jalanan. Kalau ada orang yang menyoroti tentang alam digital yang sakit maka satukan suara “ tidak usah pake teknologi digital, hidup saja di hutan atau kembali saja ke jaman batu”. Distempeli sebagai orang aneh yang membicarakan penyakit alam digital tapi masih menggunakan segala tetek-bengek digital. Digital sudah menjadi ”Mahzab” yang tak boleh terbantahkan. Ini juga yang kemudian melahirkan hukum-hukum baru diluar kebijakan dari platform aplikasi tertentu. Dengan begitu akun sosial media sudah bisa di-identikan dengan personal seseorang meskipun bukan “akun centang biru”. Yang oleh karena kegiatan sosial medianya seseorang bisa saja berakibat hukum pidana. Yang semestinya berakibat penghapusan konten, suspend, banned, penangguhan akun, pada akhirnya harus ditulis diatas selembar kertas Berita acara pidana. Dan banyak diantara kasus semacam ini berurusan dengan “ketersinggungan”. Bukan karena sebuah akses ilegal atau pelanggaran hak cipta/publikasi.

Jaman berjalan, Era berganti. Mengantarkan kita pada sebuah hal yang berputar-balik semudahnya, semaunya. Kalau dulu banyak orang-orang yang distempeli “Mental Sosmed”, kini yang terjadi adalah sebaliknya. Di sosmed banyak orang-orang yang....????? (apsih, rada kesulitan memberikan istilahnya, heehee) pokonya sekarang banyak “akun” yang merasa manusia. Sehingga membawa aturan yang begitu formal untuk bersosial media. Jadi sudah tak heran, suatu postingan, konten, yang tidak kena penangguhan dari pihat penyelenggara Platform tertentu tapi di adali di kantor-kantor pengadilan. Minimal dimintai keterangan dan klarifikasi. Kan sekarang sudah seperti menjadi tren, si klarifikasi itu.

Sosial media yang dulunya untuk ajang pertemanan, hari ini sudah menjadi trek politik dan bisnis. Sehingga orang-orang yang tak memiliki kecakapan dan kekuatan di dunia nyata, harus ekstra hati-hati. Jangan-jangan apa yang di publikasikannya lewat akun-akunnya menyinggung orang-orang yang jauh meiliki power diatas mereka. Harus sopan-santun. Kalau perlu cukup “hahahihe” saja dengan alur sosial media yang mulai di dikte oleh kelompok tertentu. Jangan menyanggah.

          Tidak ada yang anti-digitalisasi. Tapi memilah dunia maya dan dunia nyata sebagaimana mestinya sedia kalanya kurasa sangatlah perlu. Rumusnya masih sama : Maya = tidak nyata. Disana hanya ada akun bukan personal seseorang. (kecuali akun yang sudah melaui verifikasi tertentu dan memiliki tanda tertentu : centang biru, misalnya) 

nobody

 

Tidak satupun yang pernah meminta terlahir sebagai apa, di jaman yang kapan, di keadaan yang bagaiamana. Semua terjadi begitu saja. Seketika.

Sebagian orang merasa bersyukur karena terlahir dari keluarga yang “berada”, terpandang dan berpendidikan tinggi. Sebagian orang bersyukur karena terlahir di tengah lingkungan masyarakat yang humanis, harmonis dan humoris. Sebagian orang bersyukur karena dianugerahi pikiran yang aktif. Walau itu sering menimbul gesekan dengan orang-orang lain di sekelilingnya, namun apakah ada kemewahan yang melebihi cara berpikir seseorang? Rasa-rasanya dilahirkan sebagaia apapun, selalu ada sisi yang terus-menerus membuat seseorang merasa paling beruntung.

Keberuntung besar di dalam hidup adalah memiliki kesadaran akan kehidupan. Tentang perjalanan yang dituliskan baginya. Segala sesuatu itu adalah suratan yang bermandikan rahmat serta berkah yang tanpa ada umpamanya. Menembus batas-batas kubah dogmatik dari orang-orang sebelumnya.

Waktu akan terus berjalan. Dan pikiran manusia terus-menerus mengembang. Menjadi “orang aneh” sangatlah mungkin bagi kamu yang percaya terhadapa isi hati dan kepalamu., di tengah orang-orang yang “ho’a-ho’o”  saja dengan apa yang terjadi. Menjadi orang sesat sangatlah mungkin, ditengah orang-orang yang menyakini diri sebagai makhluk yang mewarisi pikiran Tuhan. Dimana pendapat-pendapatnya dimutlakkan dalam sebuah “kesepakatan paksa”. Tiada misteri baginya. Karena segala rahasia yang tak mampu dia baca dianggapnya tiada. Manusia hanya sebuah titik dari lautan aksiran pekat. Pengetahuannya tidaklah mungkin kecuali Cuma sedikit.

Cara yang paling sedehana untuk mengetahui kehidupan adalah dengan mengakui bahwa tidak semua dari apa yang ada di dalam hidup ini sanggup diketahui. Demikian juga cara mereka mengenal Tuhan adalah dengan mengakui tidak sanggup mengetahuinya. Maha Suci Dia yang mengijinkan Makhluknya mengenalnya dengan cara tidak mengenalnya. Maha Benar Dia dengan Iman yang ditanamkan pada setiap dada makhluk-makhluknya.

Dengan demikian dunia menjadi sangat relatif. Tidak satupun standar yang bisa membentuk karakter seseorang menjadi yang bagaimana. Semuanya murni atas kehendak mereka sendiri. Dipengaruhi atau tidak adalah pilihan mereka sendiri. Tidak ada kebenaran mutlak di muka bumi. Tidak pula sebuah dosa melekat pada jiwa manusia kecuali diberikannya pintu-pintu pengampunan yang selebar-lebarnya.

Siapapun yang mengklaim dirinya sebagaia pemimpin dunia sejatinya tidaklah benar-benar tahu tentang dunia. Pemimpin-pemimpin itu lahir secara alami. Bukan sesuatu yang “diada-adakan”. Bukan sesuatu yang disengajakan atas kehendak diri. Mereka yang telah dipilih tidaklah punya kesanggupan menolaknya. Bukankah begitu juga yang telah ditetapkan pada setiap garis hidup makhluk-makhluk di muka bumi. Tidak satupun orang mampu mempertahankan eksistensinya. Membolak-balikan keadaan adalah sesuatu yang amat mudah bagi yang menciptakan. Lebih cepat dari daun yang gugur mencapai tanah, lebih cepat lagi dari kedipan mata manusia. Semua itu teramat mudah bangiNya.

Bahasa Hujan

Hujan yang turun tak mampu sembunyikan apa yang tersimpan di balik dinding hati. Setiap rintiknya yang menghantam atap rumahmu, dedaunan dan permukaan jalan itu semakin keras meneriakan apa yang sedang kamu rasakan. Manusia selamanya mungkin akan selalu menjadi makhluk yang berpura-pura. Termasuk, mereka berpura-pura tak mengerti kalau orang lain memahami betul kalau dia sedang berpura-pura. Seolah segala sesuatunya menjadi “sah” kalau terucap dengan lisan. Sedang bahasa hati lebih lembut dari apapun. Dia menembus segala yang absolut. Menyampaiakan perasaanya pada semesta yang mendengarkan.

Kebahagian itu tak terbantah. Senyum dan tawamu adalah legalitasnya. Namun bolehkah aku mendengar sedikit kejujuran lisanmu sebagaiamana terlebih dahulu hatimu mengatakannya padaku? Sesuatu telah mengganggu hati dan pikiranmu saat suara-suara itu menjadi tiada. Kamu tak pernah kesepian. Menutup telinga dan hati dari bisingnya pertanyaan-pertanyaan yang kau sendiri tak mau mendengarnya. Dan kau akan tetap mendengarnya. Sepanjang malam hingga pagi tiba. Di sela tidurmu yang tersentak dan terbangun. Kau terus bepikir akan hal itu.

Seandainya saja kau turunkan sedikit mau-maumu itu, tentu kau akan mendengarnya. Dan kau pun akan mengerti, bahwa kau tak pernah sendiri. Aku dan jutaan orang di sana merasakan hal yang sama. Kita sama-sama terjebak pada suatu posisi yang sulit untuk kita urai secepat ini. Butuh waktu. Butuh luka untuk terjatuh-jatuh dan berdarah dulu mula-mulanya. Andai saja, waktu tak serapat rintik hujan, aku ingin bertukar kata itu. Biar apa-apa yang sama diantara kita terlegitimasi oleh lisan. Sebelum akhirnya kita setuju kalau kita ini sejatinya sama saja.

Dunia ini lebih gaduh lagi dari rintik hujan yang membabi-buta menabrtak segala. Manusia-manusia dipaksa menjadikan pikiran diatas hatinya. Menjumlahkan dengan rumus yang tak bisa diganggu-gugat. Harus satu ditambah satu sama dengan dua.

Rasa syukur kehadirat Sang Maha Pencipta. Berkehendak pada ciptaannya dengan tidak seperti cara berpikir makhluknya. Dunia ini terlalu kecil bagi Dia. Sedikit saja kemurkaannya sejati lebih dari cukup untuk meluluh-lantahkan segala kedurhakaan makhluk-makhluknya.

Rasa syukur yang berikutnya adalah kesempatan yang diberikan padaku untuk mengenalmu. Terlepas dari masing-masing yang sibuk berkelahi dengan usia, tapi harus ku akui, kau adalah pribadi yang menarik dan mengajarkan aku banyak hal. Segala persoalan yang serba paradoks menghinggapi kepala hingga ke inti-intinya. Di satu sisi ada yang tak bisa aku lakukan sedang seharusnya aku lakukan. Di sisi yang lain aku harus mengerti suatu hal yang tak bisa aku mengerti. Betapa luasnya hidup ini. Betapa Agung kekuasaannya yang telah mengatur sesuatu yang luas ini. Sampai di titik itu, aku Cuma bisa percaya. Akan segala sesuatunya yang terjadi, baik yang baik dan buruk semuanya akan baik-baik saja. Segala rasa sakit dan bahagia itu pada akhirnya mematangkan jiwa-jiwa manusia yang mengalaminya. Suka atau tidak suka, segala yang musti terjadi maka terjadilah.

Malam-malam menyimpan ketakutan pada gelapnya. Mereka bercerita akan merengutmu dariku. Mengambil segala tentangmu tanpa sedikitpun yang tersisa untukku. Seyogyanya manusia, ingin rasanya aku genggam dirimu. Dan tidak membiarkan siapapun menyentuh apalagi membawamu. Walau itu Cuma sekedar angin sepoi yang mendetakan jantungmu. Tapi aku juga menyadari betul. Kau membutuhkan udara itu untuk bernafas. Sebagai kecintaan kau harus tetap hidup. Karena bagaimana mungkin aku hidup dan baik-baik saja ketika yang menjadi arah perjalananku hidup musnah?

Sederhananya, aku hanya ingin bercerita banyak hal denganmu. Aku ingin mendengar yang serupa darimu. Aku ingin membagi udara untuk bernafas denganmu. Melewati hujan dan kemarau bersamamu. Kau sudah mengajarkanku banyak hal. Bersamamu, mungkin aku beranikan diri berharap untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Entah kita melalui hujan dengan sebuah payung atau basah kuyup. Entah kita tertidur berdua karena perut kenyang atau lapar. Segalanya aku serahkan pada langit. Termasuk ketika kau berpikir akan satu jalan yang lain. Memaksamu untuk tetap tinggal terlalu menyakitkan.

Kalaupun waktu meluangkan dirinya, aku tidak lagi ingin memintamu berpendapat tentang diriku. Aku tak ingin memaksamu mengucapkan hal-hal yang menyenangkan padaku. Atau soal perasaanmu. Kita sudah cukup dewasa untuk tidak lagi berbicara di ranah itu. Aku ingin kita berbicara sesuatu yang lebih umum. Tentang hidup ke depan atau gagasan luar biasamu. Tentang peluang-peluang. Tentang jurang yang secara telanjang terlihat mustahil dilewati dan bagaimana caranya melewati. Aku hanya ingin merdeka dari segala yang emosional. Dari sesuatu yang berdasar sedikit saja pada perasaan : kesenangan.


The Lands #1


Maka aku jelaskan seberapa sakit hidup dinegeri ini. negeri makmur yang di idamkan oleh semua orang, semua kubu dan kelompok-kelompok berkepentingan. Alasannya pun jelas. Adanya sebuah tujuan konfrontasi idealism dan sumberdaya. Negiriku bernama Indonesia. Sebuah tanah yang luan dari kepulauan asia sebelah tenggara.
Selama perang dingin antara Komunis-sosialis dan Liberal-kapitalis masih terus berlangsung, maka jangan harap ada kedamaian di negeri manapun kalian berpijak. Termasuk dinegeriku. Pada dasarnya tak ada idealism yang diciptakan dengan tujuan kerusakan, ketegangan ataupun distabilitas. Setiap idealism adalah wujud dari nilai luhur dari sebuah kebudayaan ataupu peradaban di suatu tempat tertentu. Yang ruang lingkupnya berupa bangsa ataupun antar bangsa. Tidak ada kekacauan yang direncanakan. Termasuk dengan fasisme. Fasisme bagiku tak lebihnya dari penggaris tebalan dari kontur idealism manapun. Dimana para penganutnya mengusung kejayaannya masing-masing. Mereka mengabaikan geografis dan etnis yang terpisah-pisah. Yang tentu tak akan mudah menerima idealism disuatu tempat untuk tempat yang lain.
Indonesia adalah negeri yang tak bisa dijelaskan dengan selembar kertas. Bahkan butuh waktu seumur hidup untuk seorang peneliti untuk mengkaji pola peradaban yang ada di negeri ini. itupun tak member jaminan mereka akan menyelesaikannya. Itulah yang melatar belakangi kaum-kaum berkepentingan terus melakukan percobaan-percobaan politik-sosial yang menimbul gejolak di masyarakat. Yang pada akhirnya mereka sendiri hanyut didalamnya dan melupakan eksperimen mereka. Eksperimen memang tak pernah berakhir. Karena pengambilan kesimpulan mereka selalu gagal untuk mendiskripsikan negeri ini dalam satu paragraph yang jelas dan universal.
Culture kebudayaan Indonesia yang beragam dan selalu dinamis. Tak bisa ditebak arah dan pergerakanya. Sebenarnya beberapa dari keberanian kaum berkepentingan menembus lapis-lapis terluar yang vital, namun selalu ada lapisan berikutnya. Kerapatan system keamanan politik –sosial diindonesia tak pernah direncanakan. Terbentuk dengan sendirinya sebagai wujud kristalisasi nilai-nilai peradaban dari sejarah besar negeri ini. baik yang dianggap lugas atau pun yang masih tabu karena tak ada keotentikan pendukung sejarah tersebut.  
Sebagai pasar, Indonesia punya daya jual yang tinggi. Sebagai produsen Indonesia mempunyai sumberdaya manusia yang mumpuni, dan sebagai pertahanan Bangsa ini meiliki darah kesatria yang mengalir dari militer hingga sipilnya. Yang tak dimiliki adalah Naluri menghancurkan. Bangsa ini mengedepankan jalan tengah sebagai kedamaian abadi. Kami tak menyukai perang tapi kami tak pernah takut mati di medan perang.
Hal itu dapat dibaca pada catatan-catatn sejarah Indonesia dari masa ke masa. Dimana titik kelemahan terbesar bangsa ini adalah pada penipuan-penipuan perundingan. Perang dunia kedua hingga era agresi militer belanda pasca proklamasi kemerdekaan ada kodisi yang teramat genting. Dan satu hal yang perlu digaris bawahi, di mata bangsa kami hal itu bukan masalah terbesar dalam perjalanan menuju pengakuan dunia pada kemerdekaan kami. Kami masih bisa diajak berunding. Itu artinya kami masih menganggap disstabilitas yang terjadi bukanlah yang terparah. Kami masih melihat ada celah perdamaian untuk manusia. Jika ingin melihat seperti apa kesiapan perang sesungguhnya bagi bangsa ini, kalian bisa membaca perang-perang besar yang pernah berkobar. Missal perang Pangeran Diponegoro, Jendral besar Sudirman, atau pertempuran Surabaya, Bandung lautan api, Puputan Margarana, pertempuran ambarawa dan masih banyak lagi. Dimana semuanya menceritakan sebuah peperangan yang maha dsyat. Dengan hanya menyisakan dua pilihan saja. Menang atau mati?. Jadi selama bangsa Indonesia masih bisa diajak duduk berunding, maka yakinlah perdamaian masih bisa diupayakan.
Dunia mungkin lebih popular mengenal Soekarno dari Indonesia. Dialah pemimpin besar revolusi. Kalian harus membaca hal-hal besar yang telah dia lakukan. Soekarno adalah orang yang akan dikagumi diseluruh dunia. Dibawah kepemimpinanya, kami pernah keluar dari keanggotaan Perserikatan bangsa-bangsa. Sebagai sikap tegas kami terhadap situasi yang tak berpihak pada kami. Soekarno juga mendirikan gerakan Non-blok. Juga mendukung kemerdekaan atas bangsa-bangsa di efrika dan lainnya. Tentu hal semacam itu tak pernah disukai oleh kaum penjajah. Dan sukarno tak pernah bernegosiasi atas sikap suka atau tidaknya bangsa manapun akan sikap yang diambilnya. Inilah sokerno, inilah Indonesia. Negeri yang mencintai perdamaan abadi.
Maka aku memberikan saran kepada kaum-kaum yang bermaksud melancarkan konfrontansi halus mereka terhadap kami untuk berhenti saat ini juga. Jangan menunggu sampai perang sebagai solusi atas tekanan-tekanan terhadap kami. Atau sebagai akibatnya akan merka tanggung, bahkan hingga anak cucu dan tujuh keturunan mereka.

16 februari 2018

selamat malam, manisku.
apa kabarmu?.

bersama deru kendaraan yang menggebu-gebu membakar dapur pacu, aku menyimaknya karena begitu yang selalu menemani sepi ini. apa kau disana tersenyum?, apa kau disana merenung?. apa kau malah tak lebih dari apa yang  kulakukan?. duduk bersimbah bising dari sorot-sorot lampu yang lalu lalang, menyilaukan.

beberapa bulan dikota ini, aku tak begitu menyimak kabar langit. gugus bintangnya, sabit ataupun purnamanya tak ku mengerti. hanya terang dan gela saja, itupun tanpa menghadap wajahnya.

beberapa bulan ini juga aku berada pada posisi yang tak begitu nyaman. usaha-usahaku rasa-rasa cuma jalan ditempat saja. tertatih malahan. entah siapa yang harus aku salahkan. sistem yang amburadul, kondisi sosial yang kritis, atau manusia-manusia profitsional. yang jelas, apapun itu akulah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi padaku. karena aku melakukan semuanya dengan sadar. dengan keputusan-kepusanku sendiri. mungkin aku terlalu memotong margin risiko. memang ini tak akan skakmat, tapi rasa-rasanya tak akan mudah memutar roda legilaan ini sendirian.
suatu usaha akan hidup andai motor-motornya bergerak dalam ritme yang sama. pemikiran yang searah, serta pengalaman yang berimbang. tanpa itu semua, memang masih bisa berjalan. namun bila berjalannya sudah mulai pincang, maka salah satu motor harus berkerja ekstra untuk menyeimbangkannya. dan tak akan mudah itu bukan berarti tak mungkin.

terkadang aku ingin berhenti disini. tidak, bukan untul menyerah,manisku. aku hanya ingin istirahat sejenak. menata hati dan tenaga yang baru. mana mungkin aku menyerah semudah itu. doa-doamu tak akan pernah sia-sia.

baik-baik disana,manisku. meski malam begitu menyenangkan, jangan tetlalu larut. jaga kondisimu, dan tentunya juga,... hatimu.

selamat malam,anisku.

Give me something

I saw the clouds,
I wave, but he don't care.
I met the mount
I asked : "where I slould go?"
But, he was mute.
I run, I meet the sage,
I asked : "what happened to me?"
And I was laughed mercilessly.

Please, help me.
Whoever you are.
Remove me from this.
Give me answer.
Give me meaning and reason.
And all about this life.

Tell me how to enjoy a cigarette?
Whats the teste of cup of coffe?
What kind of rhythm that sounds good from the music?
How can someone be happy with the women?

Tell me, why I lost all that?
Why I can't enjoy anymore?

Please, help me.
Whoever you are.
Remove me from this.
Give me answer.
Give me meaning and reason.
And all about this life.

Why a cup of coffe,
A cigarette, music and women
Become something that doesn't allow me to great them as before?

Please, help me.
Whoever you are.
Remove me from this.
Give me answer.
Give me meaning and reason.
And all about this life.

What is this so-called empty world?
Then how can I get out?
I don't know.

Please, help me.
Whoever you are.

Yk,01,9th,2018

La tahzan

La Tahzan  Innallaha ma'ana.

Selamat pagi manisku, apa kabarmu di ahad pagi ini. Pagi ini lumayan cerah dipacitan. Tak ada serpih air yang hamburan. Selayaknya kemarin-kemarin.

Dan seiring datangnya matahari dipagi ini, sejalan itulah hari-hari baru jadi milikmu. Dan jangan pernah lupakan lambat laun kita menua.

Aku memang tak banyak peduli tentangmu,dulu. Berkeluarga tentu bukan sebuah permainan selayaknya kanak-kanak dulu. Yang bila petang datang, usailah semua. Ini lebih serius. Tak terbentur durasi jam bermain.

Aku memanglah pandai soal wanita. Dan kebanyakan saat usia belianya begitu naif. Mengklasifikasi laki-laki sesukanya. Selektif, tapi selalu ada proses patah hati. Hati yang rentan tersakiti, itulah wanita. Ketika usia mereka berkepala dua, disitulah takdir laki-lakinya mulai teraksir. 22 - 25 tahun. Bukan, bukan lagi seperti artis atau tokoh idolanya. Kali ini syaratnya cukup mudah. Tinggal siapa yang dengan lega hati mau menikahinya. Perbandingan wanita dg laki-laki memang terlalu mencolok. Tapi bukan berarti wanita berhak mengobral badan untuk laki-laki. Untuk laki-laki baik-baik cara seperti itu tak akan membuatnya membuka harga.

Suatu saat, ada airmata dari wanita-wanita naif itu. Kesedihan mendalam pada setiap tetes air matanya. Suami yang malang. Yang entah tahu atau tidak, atau berpura-pura tidak tahu. Istri yang amat dia sayangi memberikan haknya tak sepenuhnya. Seseorang yang katanya paling dia cintai itu hanya diberinya sisa.
"ada apa sayang?", suara lembut suami yang benar-benar menusuk-nusuk relung hati. Nasi telah menjadi bubur. Wanita malang yang saat mudanya dengan seribu persen keyakinan. Bermimpi menerobos sejarah. Tapi, jutaan wanita yang pada akhirnya pasrah atas jodohnya adalah orang yg pernah berfikir sama pada masa mudanya.

Manis, entah kehidupan seperti apa kelak pada akhirnya, aku biarlah memiilihmu. Sedang sebelum saat itu datang, semoga kita menjadi manusia yang berbenah diri. Agar tak terlalu besar penyesalan itu. Manis, siapapun kamu.

23 Agustus 2016

Sudah lama juga tak mengisi titik-titik #orakudukeren ini. Terlalu banyak hal pelik yang belakangan ini.

Selamat siang, manisku, apa kabar?. Entahlah apa yang ingin kutulis untukmu. Mungkin tak ada. Belakangan aku hanya ingin malaikat turun. Mengatakan apa-apa yang semestinya mereka lakukan.

Satu bulan sudah tak menemui orang-orang yang sering lalu lalang dihidupku. Satu bulan sudah aku mulai bertanya bagaimana kelak akan menghidupmu.

Jatuh terpuruk dan ditertawakan. Mungkin tak seharusnya aku hidup atas pilihanku. Bukannya malah mempertaruhkan segalanya untuk orang-orang sumbu pendek. Pemikiran lama dan pengalaman yang tua namun tak berisi. Imbasnya, mana peduli mereka pada apa yang aku hadapi. Orang yang mereka doakan terjatuh siang dan malam. Satu kali lagi, aku ingin melihat mereka tersenyum. Tertawa bahagia.

Apa manusia itu harus selalu begitu. Berdiri pada gengsi yang begitu. Menjadi orang bukankah jalan menuju kehancuran. Karena pada hakikatnya, yang paling benar hanyalah pemikiran kaum oportunis. Orang-orang yang bercita-cita menjadi Tuhan.

Manis, kutuklah apapun yang bisa kau kutuk. Jaman yang terkutuk ini atau apapun. Tapi ingatlah manisku, mengutuk itu hanya mengikuti pikiran sempit. Ingatlah semua yang hari ini terkutuk itu pernah tersenyum padamu. Pernah mengulurkan tangan saat kau terjatuh.

Tersenyumlah, manisku. Baik-baik disana.

29 mei 2017

Selamat pagi bintang kecilku, apa kabar?.

Hari ketiga puasa tahun ini. Dimana saat mulut berhenti sejenak memamah tapi otak harus terus berputar. Permasalahan hidup terus berlanjut. Membual agar kita mencari solusi. Rindu ini pun sama, merasuk entah dari mana, mengacak-acak hati.

Hari ini aq nyaris membunuh orang sok yang baru saja lulus sekolah tahun lalu. Tapi tenang, itu baru perasaan ku saja. Kalau benar aku mau matilah orang itu.

Entah apa yang dibanggakan dengan orang-orang pengidap kanker jiwa itu. Selalu saja menyebrang agar di pandang. Memakai atribut agama lain, menimbul-nimbulkan logo partai terlaranglah, atau apa saja yang bisa membuat mereka diakui. Hanya itu hanya sekedar pengakuan. Mental-mental tai yang semestinya ditenggelamkan dan dimakan ikan.

08 mei 2018

Terlampau banyak diantara bangsamu,
Orang-orang bodoh yang bangga pada kebodohan.
Orang -orang sombong dan menindas.
Tak berani aparat memukul rakyat.
Tak berani pejabat minta tanah rakyat.
Jaman sudah berbeda.
Penindasan nyata adalah tentang tingginya harga.
Upah buruh murah dan Sistem kerja kontrak.
Serta aturan yang memihak pada pemodal.

Penguasa buta dan tuli adalah penguasa terburuk sepanjang masa. Demonstrasi tak lebihnya masalah persoalan sehari saja. Tak lebih rumit dari kelumrahan macet kota besar. Penguasa tuli tak terpengaruh orasi. Itu hanya soal polusi suara untuk satu waktu saja. Penguasa tuli tak butuh aspirasi. Telinga mereka ibarat mendung. Hanya ada saat menjelang uforia hujan suara. Memungut suara-suara dari langit. Suara rakyat suara Tuhan. Suara yang akan memberikan kuasa atas sesamanya. Penguasa buta tak akan melihat apa dan bagaimana rakyatnya. Mereka tak lebih takut kehilangan simpati rakyatnya ketimbang partai pengusungnya. Wadah-wadah cendikiawan telah berhianat. Mandul melahirkan pemimpin bijak. Mereka hanya peduli soal menang. Atau jatah dari para sekutu.

Negeriku tak lelag kau berjalan pada kenaifan. Kenaifan yang ditunggangi kemunafikan.
Negeriku aku cinta padamu, tapi tidak busanamu. Busana kotor yang menggunakan darah untuk melukisnya.

Ketika demokrasi hanya peduli soal kemenangan. Soal visi sebagian golongan. Ketika itulah air mata haram untuk sia
Sistem frustasi ini. Sistem yang menghianati sukmanya.