dari titik terendah maksud hanyalah diam. memendam dalam apa-apa yang seharusnta terutarakan. diam dan diam. aku suka pada kediamanku sendiri, tapi tidak untuk orang-orang ku jumpai. secara garis besar aku mungkin kesepian. di tengah hiruk pikuk kehidupanku yang gaduh. menjelang malam semua suara menjadi sirna. menyisakan derik jangkrik dan desing sayap nyamuk. sesekali suara truk muata luar kota melintas di jalan sebelah utara. dan itu sudah mulai jarang.
kesepian itu rahasia hati manusia. tak ada yang tahu selain yang Mahatahu. apalagi kau mendengar kata itu dari tarian lidah orang yang mengaku kesepian. belum tentu. kesepian adalah kata yang tak tejabar sempurna dalam penafsiranku. mungkin begitu juga pada sebagian besar orang. seorang diri tak berkawan hanyalah kesendirian. dan kesendirian bukanlah kesepian.
hati manusia memang tak terjajaki. dengannya manusia dapat berinteraksi dengan segala yang ada. yang tak harus bicara, namun persepsi-persepsi batin yang rahasia.
guliran detik membawa waktu mendekat tujuh hari menjelang kebaran. apa kau bahagia?,.. aku sih biasa-biasa saja. aku lebih suka menikmati puasa ramadhan sebisanya. lebaran biarlah datang pada waktunya. tak perlu dikejar tak jua harus diperlama. jalani sajalah. nikmati saja yang bisa dinikmati. sebelum gema takbir kemenangan merata dipenjuru dunua, sebelum anak-anak muda bertannya "kapan buka bersama?" pada kawan lamanya. sebelum masing -masing kelompok mengklaim idul fitri dengan hari yang beda-beda.
entahlah, apa yang membuat kita berbeda pada satu hal yang sama. aku lebih sering berada pada satu posisi yang rak sepenugnya ku mengerti pada hari terakir bulan suci. puasa pamungkas yang terbayang-bayangi perayaan hari raya saudara sendiri. apa kita menyembah Tuhan yang beda?, ku rasa tidak. hanya terkadang serasa ada agama baru di dalam agama kita. orang-orang yang mengaku beriman dan mengatasnamakan Tuhan saling mengeluarkan fatwa. "kamu Sesat" , "kamu calon teroris" dan bla,bla,bla.... aku heran, kenapa kita bisa sejejam itu. mengadili saudara-saudara kita begitu cepat mudah, hanya perbedaan pandangan yang tak pernah dibicarakan tuntas dalam satu meja dengan cinta. gengsi. ingin menonjol dan diakui. apalah hebat semua?,. itu hanya sahwat keduniaan belaka.
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 23 Juli 2014
0 komentar:
Posting Komentar