Petang itu, sepanjang jalan menuju sebelah timur kediaman kerabat Presiden. Kau mulai nampak mengisi jeda-jeda gelap dan kesepian. Kau tersenyum, dan aku bisa melihatmu begitu dekat. Sangat dekat. Bintang kecil, dan kau semakin kecil. Entah mengapa, aku selalu berharap, semoga kau baik-baik saja. Bintang kecil yang mampu dilihat hingga sebelah barat pulau sumatra. Mungkin. Kecilmu adalah kesederhanaan. Sebuah tanda pemikiran yang berada di atas level. Semakin bintang langit nampak kecil, semakin tinggi dia berada. Yah, kau begitu hebat. Sangat hebat.
Dalam kerudungmu semua tersimpan. Walau tak rapat. Kau...., entahlah, umpama apa yang mewakilimu. Aku tak tahu. Sungguh. Aku tak tahu, dan aku juga tak mau tahu. Kenapa ku biarkan diri sendiri berselimut harapab besar. Dan mungkin itu tak pernah kau berikan.
Kau cantik, bolehkah aku berharap tak cantik lagi agar aku punya alasan untukmu?, hmmmtt.. Ku rasa tidak. Aku tak ingin seperti prabowo... Yang terbaik bagimu, ku harap aku bisa menerimanya.
Bintang, bolehkah aku menunggunu?,seribu tahun lagi?,
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 28 Juli 2014
0 komentar:
Posting Komentar