Hari-hari pun menjadi penuh kenaifan. Saat kebijaksanaan diletakan hanya untuk tepuk tangan dan kepentingan. Lalu, adakah satu alasan, untuk kita bicara indah akan masa depan. Diantara kegilaan yang tak menghadirkan untuk sekedar koma. Tak bosankah kalimat-kalimat itu disusun. Yang selalu saja bertanda tanya ataupun seru.
Bocah - bocah itu kini telah dewasa. Dan telah menjadi satu unsur penting dalam masyarakat dan kehidupan dalam kenyataan. Ditengah segala polemik yang membuat mereka beseberangan. Diantara harga-harga yang tak lagi terjangkau. Selamat datang pada kenyataan. Kehidupan tak akan pernah mudah. Bersiap-siaplah, berdagang atau merampok. Dan lupakan cita-cita, kenaifan dan kemunafikanmu. Cerita masa kecil hanyalah kenangan. Suatu masa dimana kita dapat bercanda dan tertawa bersama. Bukan saling memanfaatkan dan berkeinginan saling menghancurkan. Karena bukanlah nilai dalam persahabatan. Apa kau ingin melupakannya?,kawan.
Andai saja dunia tak punya pendidikan tinggi yang melahirkan gelar. Tak membatasi derajat kita akan lainnya. Dan tak perlulah ada margin diantara sesama. Bekerja mencari makan dan rumah impian. Bukannya untuk satu takaran saling melampoi satu akan satunya. Pada dasarnya, batin manusia tak mampu dipungkiri. Kebahagian teteplah kebahagiaan. Tak dapat dijamin dengan apa yang diperlihatkan dan ekspresi. Karena kebahagian hakiki hanya ada didalam hati. Hanya aku dan Tuhan, hanya kamu dan Tuhan. Sedang sisanya hanyalah kesemuan. Satu bagian dari yang disebut "wang sinawang".
Pendidikan tinggi memang tak murah. Uang, waktu, dan pemikiran. Lalu pernahkah kau rasakan ketika semua itu membuat garis diantara kita?, haruskah seorang laki-laki mengabaikan perasaannya hanya karena cuma lulus sekolah menengah ataupun dasar. Atau malah tidak pernah mengerti pendidikan sama sekali. Sedang sang pujaan hati, seorang calon sarjana. Ketika untuk mendapatkan gelar sarjana saja dengan biaya yang tak sedikit, lalu apakah orang tua mereka merelakan anak diperistri seseorang yang hanya bisa memberikan makan dengan lebih yang tak seberapa pada putrinya?. Seperti kodrat manusia yang lahir dan dianugrahi kasih sayang. Sebuah perasaan yang memimpikan kedamaian. Kehidupan yang tanpa peperangan dan kebencian. Tapi tetap, semua orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anaknya.
Dunia ini dunia yang naif. Mungkin juga dengan diriku, aku katakan hanya pernah jatuh hati pada Bintang. Dengan sebuah harapan, kelak Bintang membacanya dan tersentuh. Heh,Aku pun sadar, aku manusia biasa. Lebih tepatnya laki-laki biasa. Yang apabila ada sepuluh wanita telanjang datang, terlalu kecil kemungkinan menolaknya akan maunya. Tapi, sebagaimana ke "biasa" an seoarang manusialah,tetap saja memiliki hati didalam dirinya. Ada kebenaran yang tak bisa dipungkiri. Ada pula ketidak mungkinan yang bisa saja dilakukan, yang logika tak mampu mengurainya. Dan kini terserah padamu, kepercayaan satu akan satunya, itulah kekuatan melewati apapun bersama. Apapun.
Tapi, Bintang itu memang wanita yang memiliki "kelainan". Lain dari pada yang lain. Waktu itu aku belum tahu banyak tentang detailnya urusan laki-laki dan wanita. Ibarat wanita itu teh, aku belum mengerti cara menyedunya. Seperti layaknya anak-anak yang baru lulus dua tahun dari sekolah dasar, aku pun hanya mengutamakan perasaan. Dan masa itulah yang aku sebut kemurnian perasaan. Attitude adalah tolak ukur seorang wanita. Dan Bintang itu....?, wanita macam apa dia itu, dewa atau malaikat?. Dia memiliki pola pikir, kedewasaan dan juga prinsip diatas rata-rata bocah pada mada itu. Satu kata untuknya; "Istimewa".
Sampai sejauh ini, manusia dan segala urusannya tak pernah lugas. Memuji dan menyacat tak jauhlah beda. Karena persepsi adalah satu hal yang tak mungkin kita seragamkan. Walau tak menutup kemungkinan, bisa saja ada kesepahaman.
Memang beginilah dunia tempat kita kenal dan jatuh hati. Dunia yang ramah, dunia penuh harapan tapi naif.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 22 Juni 2015
0 komentar:
Posting Komentar