Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Dibalik Daun Edelweiss

Oleh Benk Widhiono

Memandangmu yang begini aku jadi merasakan kebahagian itu beranak pinak dalam jiwaku. Kau tahu kekasih, betapa aku rindukan ini sejak dijauh hari yang telah lalu dan lalu. Kita duduk berdua seperti saat ini, yang tanpa kata mampu saling menjelaskan apa yang ada di dalam hati masing-masing. Apa kau juga rasakan itu, kekasih?.
Sorot-sorot mata kita saling bertabrakan. Membiaskan fajar yang merah di langit-langit timur. Lalu coba semacam menjelaskan hal yang sama. Sebuah perasaan, semacam ingin selalu dimengerti, diperhatikan dan banyak hal lagi yang selalu dan selalu. Ternyata kita sama-sama banyak maunya. Banyak menuntut satu akan satunya. Tapi tak apalah, manusia macam apa yang tak punya rasa ego dalam dirinya. Lalu apakah ini yang Mungkin inilah dimaksud dengan bicara dari hati ke hati, kekasih?.
Lagu cinta belantara rimba ini pun masih untukmu, kekasih. Saat langit timur menelan gelap dan bintang-bintang yang semalam. Lalu dihamburkannya awan-awan dibawah sana. Kita benar-benar melampoi awan-awan itu, kekasih. Hebat bukan?. Dan ufuk timur yang pelan-pelan bercahaya. Berpijar seperti merah tapi kekuning-kuningan. Seperti kuning namun mengandung jingga. Entah apa warna pastinya, aku tak sepenuhnya mengerti. Nikmati sajalah kekasih. Kurasa kaupun tak akan menanyakan soal warna langit itu padaku.
Ada rasa takjub yang tak bias kau tutupi. Senyum tipis beriring hirupan nafasmu  yang begitu dalam itu cukup menjelaskan. Matamu pun juga, sesekali terpejam. Meraba aroma yang tenggelam diantara dinginnya padang Edelweiss.
Aku  senang ,pada akhirnya kau pun ikut dalam ekspedisi ini. Kita lupakan sejenak semua hal yang begitu menyibukan kemarin-kemarin. Biar pendengaranmu istirahat sejenak dari gaduh riuhnya terminal kota. Biar tukang "cangcimen" penggemarmu itu mencari-carimu, Atau si penunggu wc umum itu juga. Salah sendiri kau cantik. Tak mengapa bagiku, bila banyak orang laki-laki yang mengagumimu. Seperti halnya mereka yang tak pernah mempermasalahkan aku, aku pun demikian. Silahkan saja kekasih, sesukamu mau bergaul dengan siapa saja. Karena kutahu, kau tahu batasan-batasan kecemburuanku. Toh selama ini pertengkaran yang sekali, dua kali, dan menjadi sering itu hanya soal sikapmu. Bukan kecemburuanku. Bukankah begitu, kekasih?.
Lampu-lampu kota yang kelap-kelip semalam mulai padam sebagian. Sebagian lagi masih nyala namun tiada nampak senyala semalam. Dan sebagian lagi tertimbun awan-awan yang berserakan di hadapamu. Nikmati saja kekasih, balaslah sapaan alam raya ini dengan senyum manismu itu. Ya, yang seperti itu. Kau nampak lebih manis.
Disini kita akan semakin mengerti. Betapa besar karunia Tuhan, betapa indah negeri ini, dan betapa kecilnya kita yang selama ini membesarkan ego masing-masing. Di sini ketenangan akan kita petik. Untuk merenungi apa-apa yang begitu gaduh kita lakukan. Tempat ini begitu damai, jauh dari keangkuhan ayah dan kakakmu. Jauh dari suara peluit tukang parkir di depan tokomu itu. Jauh pula dari calo-calo bus antar propinsi yang sibuk mengejar-ngejar calon penumpangnya. Jauh dari Amelia yang kau cembukan itu. Ya, jauh dan jauh dari banyak hal lagi. Disini, jauh tinggi ratusan hingga ribu meter di atas permukaan laut.
"Apa itu yang namanya Sunrise?", Aku tak sepenuhnya tahu. apakah ini pertanyaan yang harus kujawab atau tidak. Dan kurasa, anggukanku yang barusan cukup menjelaskannya.

"Cantik", ucapmu sembari terus menerus memancarkan ekspresi kagummu.

"Yah, tapi lebih cantikan Aluna Wardani",  Kau pun hanya tersenyum tersipu. Kenapa kekasih?, kau itu memang cantik bukan?,heehee.
Remang terang Sunrise menjadi romantis. Bersajak manis, teramat puitis. Mengikis rasa, dari sepasang jiwa yang penuh egois. Yang kini terduduk termanja keindahan ketinggian di tengah padang Edelweiss. Manis, teruslah begitu, aku suka senyumu yang itu, yang manja tipis. Sampai nanti sampai lusa yang tak sanggup habis. Kaulah estetika pengisi imaji berlapis-lapis. Manis.
"Mau kopi?", Lihatlah, Ada Raras dibelakangmu. Lengkap dengan secangkir kopi beraroma moka. Kau suka moka?,
"Adakah alasan untuk menolak niat baikmu Sista", Seperti halnya kau,Raras pun punya  tersenyum yang manis. Dan ku harap, kecemburuanmu yang tak beralasan itu kau simpan di laci meja kamarmu, kemarin.
Setelah Raras yang duduk disampingmu, dari arah tenda, Nano, Pras dan Santi pun juga nampak menuju kemari. Kekasih, mungkin inilah kopi ternikmat sepanjang hidupku. Kau tahu mengapa?. Karena aku bisa menikmatinya bersama sahabat-sahabatku dan kau di belantara raya senyum pesona gunung Lawu ini.
"Terimakasih Tuhan, terimakasih alam raya, terimakasih Aluna, terimakasih sahabatku, kalian sudah berikan kebahagian sempurna untukku disepagi ini", ungkapan itulah yang kuteriakan di dalam hatiku saat ini.
Pagi indah ini pun mulai tenggelam dalam cangkir-cangkir kopi. Menghanyutkan pesona, jauh tanpa batas. Seluas mata mengindra, Edelweiss mulai terbangun dari tidurnya. Menari beriring angin meniupkan dinginnya belantara. Inilah pos 5. Kami menamainya padang Edelweiss. Sejauh mata memandang, selalu saja terjumpai bunga purba abadi ini. Bunga yang tak lekang oleh waktu, bunga yang konon ceritanya kesukaan para Dewa. Ya, bagaimana para dewa tak jatuh hati padanya?. Setiap Kecantikan selalu saja mengundang risiko dicintai, mungkin begitu takdir dituliskan. Seperti halnya kau, yang dikagumi seantero terminal kota. heehee
Puas sudah rasanya menikmati keindahan panorama pagi negeri ini. Bagaimana denganmu, kekasih?. Ya, kuyakin kelurbiasaan menghinggapi hatimu. Sekarang kau tahukan?, satu alasan kenapa aku suka menduakanmu dengan padang Edelweiss ini?.
Sebuah gravitasi kuat menarikku dari balik rimbunan Edelweiss. Menjadi koma dari perbincangan antara aku, kau, Santi, dan Nano. Sementara Raras sibuk mengabil gambar. Ya, kalian teruskan saja ngobrolnya. Kalian sudah nampak akrab walau baru kenal semalam.
Pras nampak menyendiri di balik Edelweiss yang mulai mekar menawan. Matanya memandang jauh ke depan. Sangat jauh hingga menabrak tebing diujung sana.
"Ada apa kawan?", tanganku meraih pundaknya sambil mengambil tempat duduk disebelahnya.

"eh.. Kamu Nu",
"Bagaimana, rencana masih sesuai kemarin atau ada perubahan?",
"ya, kita tetap lanjut",Wajah Pras tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Pada hal ini adalah tempat favorit kami. Mungkin di sini jugalah dapat dikatakan 0 kilometernya perburuan Edelweiss Ungu oleh Pronojiwo Adventure. Sudah beberapa tahun belakangan ini kami mencari bunga itu. Untuk sekedar menyaksikan dan memastikan kalau bunga itu memang ada.

"pertigaan depan, kita ambil kiri. Kita keluar dari jalur pendakian sampai dua ratusan meter. Semoga kali ini dapat", wajah pras lebih menonjolkan kesedihan ketimbang semangatnya. Entah apa yang tetjadi. Mungkin aku tak punya alasan untuk bersedih di tempat yang indah ini.
Pras hanya menggeleng.
"Sayang sekali, Hanung sudah...", Pras menghentikan bicaranya.
Pantas saja. Siapa yang tak sedih mengingat Hanung.
"yah, hari ini kita dapatkan bunga itu, untuk Hanung?", anak itu menolehku dengan alis terangkat.
"sip komandan, sayang dia pergi sebelum melihat bunga itu",
"heh, siapa bilang. Untuk bunga itulah, dia pertaruhkan nyawanya. Dan dia... Kall..lah", tetes air mata mulai menemani perbincangan kami. Entah apa maksutnya. Aku tak begitu paham.

"maksudmu?",
"Sebelum Hipotermia datang menjemputnya, Hanung terjatuh. Waktu itu kami keluar jalur",
Apaan-apaan ini?, kenapa ceritantmya lain dari waktu itu. Informasi waktu hanya karena Hipotermia. Jadi begitu. Pantas saja, orang yang memiliki fisik terkuat itu bisa kalah dari cuaca.
"Jadi..?", aku coba mencari penjelasan yang lebih.

"Sudahlah, kita kembali ke tenda kita lanjutkan", dibangunkan tubuhnya. Lalu beranjak.
"Eh, kalian di situ?",

"iya No", sesingkat itu Pras menjawabnya.

"Semua sudah selesai berkemas, kita lanjut, kita tetap meneruskan misi kita", 

"misi...?",
O, ya Luna, aku lupa memberitahumu. Tapi tenanglah kekasih, apapun itu, aku akan menjagamu. Aku janji. Ayolah kekasih langkahkan kakimu, jangan sampai ketinggalan.

"Kita mau ngapai?", Rupa-rupanya kau belum ada yang ngasih tahu. Senyumku tak bisa ku sembunyikan saat menatap wajahmu. Ya, setidaknya itu bisa sebagai petanda, semua akan baik-baik saja.
"nyari Edelweiss ",
"lhoh, bukannya yang tadi itu padang Edelweiss. Kenapa kita sampai keluar jalur pendakian?,apa nggak bahaya", rupa-rupanya  kau was-was kekasih.
"Kami sudah tahu medannya kok. O,ya menurutmu bagaimana Edelweiss di tempat yang tadi?", maaf sayang, tapi pembicaraan kita harus beralih. Soal keamanan?, aku sendiri tak tahu apa yang akan kita jumpai nanti. Medan seperti apa  pun aku tak tahu. Yang jelas, keluar jalur pendakian seperti ini sebenarnya tak ada pembenarannya. Saat kita keluar dari jalur, yang paling besar kemungkinan kita temui adalah bahaya. Maaf sayang aku bohong. Aku tak ingin kau merasa takut.
"Sumpah, yang tadi itu benar-benar keindahan terindah yang pernah ku lihat",Kau begitu senang kekasih. Begitulah terus.
"ada yang lebih indah lagi nanti",
"ha, benarkah sayang?, apa itu?,dimana?",
Kau nampak semakin sumringah saja.
"Di depan sana, dibalik daun edelwis itu",
"Benarkah sayang?,apa itu?",
"Disana ada taman yang sejuk, dengan Edelweiss yang berwarna ungu. Edelweiss  yang katanya hanya tumbuh di gunung ini",
"Ungu?, itu pasti cantik sekali", Kau semakin sumringah saja kekasih. Dan aku pun hanya bisa tersenyum. Sedang dalam hatiku penuh pertanyaan. Apa dan bagaimana yang akan kita temui di depan sana?. Buah dari melanggar aturan adalah celaka. Begitupun kita hari ini. Jika sesuatu terjadi selain celaka kita juga akan menjadi bahan cemoohan orang banyak. Tapi langkah sudah terlanjur dimulai. Entah bahaya, Entah Edelweiss ungu yang kita dapati. Semoga kita menjadi bagian dari orang yang terampuni.
Inilah gunung dengan segala hal yang menyelimutinya. Keindahan alam, keberagaman tumbuhan dan hewannya, cerita-cerita mistis yang kental, dan pilihan antara berani atau takut semua ada disini.
"Break!", rupa-rupanya Nano nanpak lelah. Okeylah Nano, kita istirahat dibawah mekarnya bunga kesukaan para dewa ini.
"Nu,..", lamunanku hilang bersama suara itu.
"Eh, kamu Pras",
"Kemana temanmu tadi?, eh teman atau teman,heehee ",
"Heh, calon bini kali Pras, tuh lagi sana Rara",
"Ranu, ranu..."
Aku duduk bersebelahan dengan Pras. Yah kali ini hanya dengan Pras.  Biasanya diantara kami berdua, hanung selalu saja menyelip.

"Sebentar lagi kita akan jumpai jurang. Tak terlalu dalam tapi cukup berhaya. Di situlah dulu Hanung jatuh",
"aku juga tak tahu nantinya apa yang kita hadapi. Yang penting kita lakukan yang terbaik. Kita pasti bisa", aku semakin semangat mendengar tempat itu sudah dekat.
"Tapi cuacanya kembali seperti ini lagi. Sama seperti waktu itu. Dan burung itu,..... ", Pras menghentikam sejenak ceritanya.
"Burung itulah yang kami jumpai sebelum akhirnya Hanung pulang, yah, dia telah benar-benar pulang",
Aku menelan ludahku begitu dalam. Aku tak tahu memposisikan diriku dimana. Aku tak bisa mengatakan apakah ada rasa takut dihatiku. Yang jelas, apapun yang terjadi, hari ini aku bisa melihat keindahan sempurna hari ini. Aluna, kalian para sahabat, keindahan alam Lawu, dan sebentar lagi edelwis ungu.
"Aluna, terimakasih sayang. Sebentar lagi kita akan tahu, keindahan di balik dau edelwis ini",

* Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

0 komentar:

Posting Komentar