Aku tak pernah tahu akan apa yang akan terjadi setelah detik demi detik yang kini berjalan. Aku tidak tahu akan apa yang akan aku dapati dari doa-doa yang kupanjatkan. Aku tak tahu dan tak tahu, akan apa-apa yang ada di waktu nanti dan selebihnya. Aku jalani apa yang bisa kujalani. Senang ataupun susah mana bisa terhindari. Tapi begitulah hidup, dan juga takdir seorang manusia.
Ibadah. Bagiku di tengah keadaan yang kujalani sejak 12 april 93 hinngga saat ini, ibadah adalah hal yang bersifat personal. Entah sah atau tidak, diterima atau tidak, dapat pahala atau dosa, aku tak peduli. Biar semua itu menjadi urusan Tuhan dan para peseruhnya. Aku hanya menjalani apa yang kutahu. Itupun masih sering terabaikan karena nafsu. Dunia ini begitu indah untuk dilewatkan seditikpun. Tapi, bukankah wanita-wanita penghibur itu juga indah?. Kadang yang indah, yang nikmat membuatku lupa, bahwa aku hanyalah makluk asing di dunia ini. Nenek moyang manusia pertama kali ditempatkan di surga. Mungkin disanalah rumah kita yang sebenarnya. Dan gemerlapnya hidup, kadang membuat tujuan utama dari hidup terabaikan; kembali pulang.
Abaikan saja soal Surga ataupun nereka. Dua kata itu andai boleh hilanglah dari muka bumi ini, biarlah hilang. Agar manusia itu bisa, agar manusia tak naif ataupun munafik. Dan mengerti, beribadah itu tak menyembah Surga. Entahlah.
Entahlah dengan semua hal yang terjadi setelah kini. Mungkin benar kata orang bijak;
"nanti adalah sebuah ruang kosong, yang tak pernah kita tahu apa isinya"
"Hidup adalah sebuah keberanian, menghadapi yang tanda tanya"
Benk_wd
Filed Under : by tri widhiono
Rabu, 01 Juli 2015
0 komentar:
Posting Komentar