Tak terasa, hari hari pun meninggalkan Ramadhan semakin jauh. Lebaran pun berlalu beberapa hari lalu. Sudah saatnya kaum urban mengejar uang ke kota. Meninggalkan kampung halaman yang baru sebentar diziarahi. Heh, terkadang kenyataan hidup yang kulihat lucu. Mereka sebenarnya pulang kampung atau sekedar main. Rumah dan kampung mereka dimana?, entahlah.
Mumpung Masih di suasana lebaran,
"Taqobbalallohu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Selamat hari raya lebaran, Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.
Paling enak jadi orang tak berjudul. Jadi orang biasa dan tak menamakan dirinya siapa dan apapun. Memang bukan orang yang terkenal dan di pandang. Tapi dengan begitu,selalu ada kebebasan bicara. Bicara apapun di warung kopi tak akan jadi masalah. Bebas bertukar pikiran wutun dengan sesama wewutun lainnya.
Obrolan para wewutun lebih pantas dari pada omongan budayawan yang menggiring opini kalayak memahami agama seperti yang dipikirkannya. Atau seniman yang mengogrok-ogrok Urusan agama, atau Ulama yang menolak budaya dan seni untuk tetap hidup.
Budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan terkadang digunakan alat untuk mencincang agama. Padahal,Aturan agama itu aturan yang lebih kaku dari aturan apapun. Tak perlu amandemen tak perlu penyesuain dengan zaman yang ada. Menurut saya agama itu fleksibel, karena agama mengajarkan kebaikan. Tak ada agama yang menuntut umatnya untuk menjadi oportunis ataupun psikopat.
Yang asu itu terkadang ada orang yang menamakan dirinya apalah lalu menggembor-gemborkan Pluralisme. Karena Pluralisme itu sendiri melukai Pluralitas.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 20 Juli 2015
0 komentar:
Posting Komentar