Seorang nampak duduk diantara asap-asap pekat. Lahir ditahun 1926, katanya. Kurang lebih usianya sekitar 88/89 tahunan. Walaupun begitu senja, beliau masih nampak menikmati rokoknya. Udara dingin yang sudah beberapa bulan singgah di kota Pacitan barat mungkin membuat rokok begitu asyik menemani malam-malam kami.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, Jumat kliwon di bulan puasa tahun ini. Mungkin minggu depan sudah lebaran. Waktu dimana kaum urban berziarah ke tanah kelahirannya. Beberapa hari lagi, mungkin mobil-mobil para juragan akan berdatangan. Melepas kerinduan pada sang handai tolan, atau sekedar sebuah agenda tahunan sewajarnya tradisi bangsa ini.
Kampung ini sudah tak seramai dulu lagi menjelang malam. Semisal saja teman-teman seusiaku. Kebanyakan selepas Sekolah Menengah, lebih memilih mengadu nasib ke kota. Jakarta, Solo, Jogja, Surabaya atau kota Urban lainnya. Sampai akhirnya di kampung kami sendiri hanya menyisakan anak-anak yang masih sekolah dan orang-orang tua. Atau beberapa orang yang sudah jenuh dipermainkan nasib kota-kota besar. Dan seperti inilah suasana malam di kampung perbatasan ini. Sibuk dengan suara jangkrik, layang-layang dan sedikit orang yang masih nongkrong di warung bakso dadakan menjelang lebaran. Tak ada suara mesin-mesin yang bersambungan. Kalaupun ada hanya satu dua. Selebihnya, ya sunyi.
Sudah dua lebaran ini aku di kampung. Dengan kerjaanku yang seadanya, aku masih dibuat nyaman hidup diantara perbatasan kota dan propinsi ini. Ya, biar bagaimanapun aku lahir dan besar di tempat ini. Bagaimanapun keadaannya, aku senang berada disini. Siang bekerja, dan malamnya bercengkerama dengan sanak saudara ataupun sahabat-sahabat yang sebagian sudah lintas generasi. Atau juga memilih bercinta dengan selimut tebal dikamar. Cuaca disini memang memanhakan pecandu tidur.
Biasanya, aku jarang pulang ke rumah. Seminggu dua atau satu kali saja. Sisanya aku menghabiskan malam di kota baturetno. Sebuah kota kecamatan yang menurutku paling asyik se kabupaten Wonogiri. Beberapa hari ini aku pulang menemani kakek dan nenekku. Ya, agar mereka tak terlalu larut pasca meninggalnya anak perempuan mereka yang berada disekitar ibu kota.
Bulik meninggal tiga hari yang lalu. Setelah bertahun-tahun melawan kanker yang menyerang tubuhnya. Walau sudah lama sakit, beliau tak menunjukan sakitnya itu. Beberapa kali kesempatan aku bertemu, auranya masih seperti bulik yang masih sehat dulu. Terakir aku bertemu april lalu. Seperti bapaknya, beliau adalah orang yang penting dalam hidupku. Banyak hal yang diajarkannya padaku. Nasehat-nasehatnya yang tak henti-hentinya menghujani aku dan sanak keluarganya yang lain. Jiwa keibuannya membuat kami semua nyaman ketika berada di dekatnya. Dan kepergiannya terhitung cukup mengejutkan dan menorehkan kedukaan yang begitu dalam. Betapa tidak, beliau berkunjung ke Pacitan paling tidak waktu lebaran. Itu pun tak pasti setiap tahunnya. Selamat jalan Bulik, semoga terang jalanmu. Amin.
Semakin malam, semakin udara dingin menembus batas-batas kehangatan. Selamat malam semuanya, selamat malam kota Pacitan. Selamat malam malam yang sunyi. O,ya... Sampaikan salam ku pada Bintang. Katakan padanya, aku masih mengharapnya dalam diamku.
Filed Under : by tri widhiono
Jumat, 10 Juli 2015
0 komentar:
Posting Komentar