Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Wewutun#2

Entah kapan awalnya mengucap "asu" difatwa saru. Satu kata yang seolah menjadi haram keluar diantara sela gigi, lidah dan bibir. Kadang manusia terlalu banyak bicara soal oportunis. Saling menjatuhkan dan menghancurkan apa-apa yang dirasa menghalangi jalannya. Lalu apa salah Asu hingga dinilai begitu rendah, sampai-sampai menyebutnya dalam pembicaraan dianggap mencederai kesusilaan. Mungkin benar, manusia itu makluk yang mulia. Tapi yang memuliakan manusia diantara penghuni jagat raya ini adalah kehendak Tuhan. Begitupun  kehinaan. Lalu apakah kita bercita-cita menjadi Tuhan?. Kawan, itu lebih asu dari pada asu. Asu seasu asunya.

Entahlah tentang asu selebihnya. Yang jelas, kata itu menjadi akrab dan sering. Seasu apapun asu, asu tetalah satu bagian dari isi jagat raya ini.

Percumah...
Begitulah yang mensarukan asu tapi malah lebih asu dalam ucapannya. Iya, betapa tidak, saat mulut berpuasa asu tapi malah dipakai untuk membicarakan "cacatnya" teman ataupun saudara. Bicara ini dan itu, menjelekan satu akan satunya. Menyirami dan menyiami kebencian dalam taman hati. Menguri-uri dendam dan permusuhan. Kemarin dan tadi bercanda bersama. Setelahnya mencari cacatnya. Coba, gimana ga asu?.

Tidak bisa dihindarkan. Hidup dalam kebersamaan dan keberagamaan tidak selalu identik dengan kesepahaman. Berbeda itu wajar, suatu kelumrahan dalam kemajemukan. Yang menjadi masalah adalah ketikan perbedaan itu dipermasalahkan. Lalu dianggap sebagai biang ketidak harmonisan. Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama. Semua itu adalah hal-hal yang sensitif yang sering disoroti. Disanalah perbedaan kadang "diangkat". Lalu orang-orang yang bercita-cita menjadi Tuhan mengemukakan pendapat mereka yang diharap jadi jalan keluar. "Keseragaman", disebut-sebut sebagai solusi. Mencampur aduk dan mepertentangkan hal-hal yang tak sejalan. Tapi, bukankan keseragaman itu sendiri melukai keberagaman?. Membunuh satu bagian dengan alasan kebersamaan. Atau mungkin mereka hanya haus nama besar, agar dibukukan dalam sejarah sebagai pencetus Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama baru. Yang mengarah pada kebersamaan semata. Tapi kebersamaan macam apa yang bisa mereka ciptakan?, mana mungkin manusia hidup tanpa dendam ketika satu bagian dari kebiasaan mereka dihilangkan. Dipaksa mati dan diganti dengan kebiasaan orang lain yang berasal dari perbedaan pemikiran dan keyakinan?. Manusia memang suka berpura-pura. Berbongong tapi dibohongi. Terus begitu, sampai lingkaran kebodohan tak temui jalan baru. Terus berputar dan berputar pada hal yang sama. 

Tidak masalah Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama yang berbeda. Karena pada dasarnya tidak ada Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama yang mengajarkan kejahatan. Tak menuntut orang-orang didalamnya menjadi oportunis dan psikopat. Manusia lahir teranugrahi hati nurani yang memilah yang baik dan yang buruk. Hanya hati-hati "luar biasa" yang mencetak oportunis dan psikopat. Jangan pernah bangga kehilangan kebanggaan menjadi manusia. Syukuri saja memiliki hati standarnya manusia. Tak usahlah bercita-cita berhati dewa ataupun malaikat. Bukankah Tuhan telah menganugrahkan  derajat pada manusia?, lalu apalagi yang ingin kita lampoi?,Tuhan?.

Hanya Psikopat yang mengatakan orang lain psikopat. Hanya oportunis yang mengatakan orang lain oportunis.

0 komentar:

Posting Komentar