Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Dunia ini

Semakin usia bertambah, semakin mengharuskan manusia hidup tanpa "apa" dan "siapa" yang selama ini berdiri  di belakangnya. Tuntutan kenyataan mengharuskan kita hidup pada apa yang telah ada dan apa yang kita bisa. Bukanlah lagi soal cita-cita yang berulang-ulang ditanyakan guru kita pada waktu TK dulu. Karena kita pun kini telah tumbuh. Kita bukan lagi manusia yang menyibukan diri dengan minum susu dan tidur siang. Kita telah diberitahu banyak hal tentang hidup ini oleh kenyataan. Cinta, persaingan, dan segala hiruk pikuk keributan memperebutkan benar atau salah. Sampai akhirnya kita benar-benar membuka mata. Mencari sela dimana ada kesempatan, untuk terus hidup.

Dulu kalau ditanya soal cita-cita, semua berebut meneriakan mau jadi apa di masa depan. Ada yang mau jadi dokter, tentara,polisi, dan bla..bla..bla.., tapi lihatlah semuanya dihari ini. Berapa juta rupiah yang harus dikeluarkan untuk menjadi yang dicita-citakan. Apalagi jaman yang semakin edan. Semua semakin sulit, semua semakin mahal. Mungkin hanya harga diri dan keperawanan sajalah yang malah nampak murah.heehee

Selamat datang di "jaman edan", suatu masa yang disebut Ronggo Warsito dengan "Kolobendhu". Dengan segala kebobrokan dan polemik yang tak berkesudahan.
Yang kuat vs yang lemah. Yang berkuasa vs yang merasa tertindas. Tapi tak ada yang salah vs yang benar, manusia-manusia meletakan kebenaran pada diri mereka masing-masing. Semua berkuasa semua serasa raja. Hukum hanyalah sekelas permainan taktik. Seperti halnya sepak bola ataupun catur. Bukan lagi mengatur, hanya sebuah seni akan kemenangan.

Dan cita-cita akan Kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan menjadi naif. Dunia tak akan berubah, sebelum para penghuninya memiliki kerelaan untuk kelaparan bersama.

Memang beginilah dunia tempat kita kenal dan jatuh hati. Dunia yang naif, dunia yang indah tapi tak henti meneteskan darah dan air mata.

Salam, benk_wd

0 komentar:

Posting Komentar