Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

31 Juli 2015

Hari terakir di bulan juli.
Rutinitas mulai berputar seperti semula. Menyibukan diri dengan kesibukan yang sudah menjadi sering dan biasa. Hanya saja, sebagian wajah tak nampak, hanyut bersama lebaran dan pergantian semestet anak Sekolah.
Apa playlist mu sore ini?, kalau aku sih yang slow-slow aja. GnR, Scorpion, Av7x. Versi kalemnya aja. O,ya tadi ada satu list dari Bon jovi ; Have a nice day. Yah, semoga hari kalian menyenangkan kawan.

Summer sinar matahari mulai meredup. Tengah mempersiapkan mau diwarnai apa senja ini. Sebuah atraksi yang sering namun menajubkan di batas hari.

Terlalu banyak sudah ke-Bullshitan yang kubuat. Kenaifan tentang wanita, tata hidup dan Tuhan. Tapi bukan itu mauku. Semata aku hanya menuangkan apa yang aku rasakan. Sekalipun aku dan manusia lain suka dengan pujian, namun enggan rasanya berusaha untuk dipuji. Memang itu terdengar naif, tapi sebenarnya itu mau ku.

Baru saja bus jurusan Solo - Pacitan melintas kearah selatan. Menghabiskan sisa pemandangan bocah SMA di halte seberang sana. "Yesterday by GnR", itu yang kini tengah tetdengar.

"before story begin... "  melanjutkan.

Menurut kalian hidup yang menyenangkan itu yang bagaimana?. Seorang manusia yang tanpa aturan?, seorang laki-laki yang penuh jadwal kencan dengan para gadisnya?, atau wanita yang dituruti apa maunya?.
Jangan tanyakan padaku "kalau kamu?", setiap manusia punya caranya sendiri menyenangkan diri sendiri. Kalau aku sih ya begini saja. Seperti yang kalian "kenal". Kalau hanya melihat sekilas kalian ga bakalan kenal. Karena saya yang sebenarnya lebih dari yang kalian lihat. Yah, apapun cara kalian, keep respact and unity. Semoga hari kalian menyenangkan.

O,ya. Mungkin diantara kalian ada yang butuh ini. >> ( 75d8f1f7 )

benk_wd

Wewutun#2

Entah kapan awalnya mengucap "asu" difatwa saru. Satu kata yang seolah menjadi haram keluar diantara sela gigi, lidah dan bibir. Kadang manusia terlalu banyak bicara soal oportunis. Saling menjatuhkan dan menghancurkan apa-apa yang dirasa menghalangi jalannya. Lalu apa salah Asu hingga dinilai begitu rendah, sampai-sampai menyebutnya dalam pembicaraan dianggap mencederai kesusilaan. Mungkin benar, manusia itu makluk yang mulia. Tapi yang memuliakan manusia diantara penghuni jagat raya ini adalah kehendak Tuhan. Begitupun  kehinaan. Lalu apakah kita bercita-cita menjadi Tuhan?. Kawan, itu lebih asu dari pada asu. Asu seasu asunya.

Entahlah tentang asu selebihnya. Yang jelas, kata itu menjadi akrab dan sering. Seasu apapun asu, asu tetalah satu bagian dari isi jagat raya ini.

Percumah...
Begitulah yang mensarukan asu tapi malah lebih asu dalam ucapannya. Iya, betapa tidak, saat mulut berpuasa asu tapi malah dipakai untuk membicarakan "cacatnya" teman ataupun saudara. Bicara ini dan itu, menjelekan satu akan satunya. Menyirami dan menyiami kebencian dalam taman hati. Menguri-uri dendam dan permusuhan. Kemarin dan tadi bercanda bersama. Setelahnya mencari cacatnya. Coba, gimana ga asu?.

Tidak bisa dihindarkan. Hidup dalam kebersamaan dan keberagamaan tidak selalu identik dengan kesepahaman. Berbeda itu wajar, suatu kelumrahan dalam kemajemukan. Yang menjadi masalah adalah ketikan perbedaan itu dipermasalahkan. Lalu dianggap sebagai biang ketidak harmonisan. Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama. Semua itu adalah hal-hal yang sensitif yang sering disoroti. Disanalah perbedaan kadang "diangkat". Lalu orang-orang yang bercita-cita menjadi Tuhan mengemukakan pendapat mereka yang diharap jadi jalan keluar. "Keseragaman", disebut-sebut sebagai solusi. Mencampur aduk dan mepertentangkan hal-hal yang tak sejalan. Tapi, bukankan keseragaman itu sendiri melukai keberagaman?. Membunuh satu bagian dengan alasan kebersamaan. Atau mungkin mereka hanya haus nama besar, agar dibukukan dalam sejarah sebagai pencetus Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama baru. Yang mengarah pada kebersamaan semata. Tapi kebersamaan macam apa yang bisa mereka ciptakan?, mana mungkin manusia hidup tanpa dendam ketika satu bagian dari kebiasaan mereka dihilangkan. Dipaksa mati dan diganti dengan kebiasaan orang lain yang berasal dari perbedaan pemikiran dan keyakinan?. Manusia memang suka berpura-pura. Berbongong tapi dibohongi. Terus begitu, sampai lingkaran kebodohan tak temui jalan baru. Terus berputar dan berputar pada hal yang sama. 

Tidak masalah Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama yang berbeda. Karena pada dasarnya tidak ada Adat, kebudayaan, bahasa, latar belakang keturunan, agama yang mengajarkan kejahatan. Tak menuntut orang-orang didalamnya menjadi oportunis dan psikopat. Manusia lahir teranugrahi hati nurani yang memilah yang baik dan yang buruk. Hanya hati-hati "luar biasa" yang mencetak oportunis dan psikopat. Jangan pernah bangga kehilangan kebanggaan menjadi manusia. Syukuri saja memiliki hati standarnya manusia. Tak usahlah bercita-cita berhati dewa ataupun malaikat. Bukankah Tuhan telah menganugrahkan  derajat pada manusia?, lalu apalagi yang ingin kita lampoi?,Tuhan?.

Hanya Psikopat yang mengatakan orang lain psikopat. Hanya oportunis yang mengatakan orang lain oportunis.

Wewutun #1

Tak terasa, hari hari pun meninggalkan Ramadhan semakin jauh. Lebaran pun berlalu beberapa hari lalu. Sudah saatnya kaum urban mengejar uang ke kota. Meninggalkan kampung halaman yang baru sebentar diziarahi. Heh, terkadang kenyataan hidup yang kulihat lucu. Mereka sebenarnya pulang kampung atau sekedar main. Rumah dan kampung mereka dimana?, entahlah.
Mumpung Masih di suasana lebaran,
"Taqobbalallohu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Selamat hari raya lebaran, Ja alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin.

Paling enak jadi orang tak berjudul. Jadi orang biasa dan tak menamakan dirinya siapa dan apapun. Memang bukan orang yang terkenal dan di pandang. Tapi dengan begitu,selalu ada kebebasan bicara. Bicara apapun di warung kopi tak akan jadi masalah. Bebas bertukar pikiran wutun dengan sesama wewutun lainnya.
Obrolan para wewutun lebih pantas dari pada omongan budayawan yang menggiring opini kalayak memahami agama seperti yang dipikirkannya. Atau seniman yang mengogrok-ogrok Urusan agama, atau Ulama yang menolak budaya dan seni untuk tetap hidup.

Budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan terkadang digunakan alat untuk mencincang agama. Padahal,Aturan agama itu aturan yang lebih kaku dari aturan apapun. Tak perlu amandemen tak perlu penyesuain dengan zaman yang ada. Menurut saya agama itu fleksibel, karena agama  mengajarkan kebaikan. Tak ada agama yang menuntut umatnya untuk menjadi oportunis ataupun psikopat.

Yang asu itu terkadang ada orang yang menamakan dirinya apalah lalu menggembor-gemborkan Pluralisme. Karena Pluralisme itu sendiri melukai Pluralitas.

Sadnight

Seorang nampak duduk diantara asap-asap pekat. Lahir ditahun 1926, katanya. Kurang lebih usianya sekitar 88/89 tahunan. Walaupun begitu senja, beliau masih nampak menikmati rokoknya. Udara dingin yang sudah beberapa bulan singgah di kota Pacitan barat mungkin membuat rokok begitu asyik menemani malam-malam kami.

Waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam, Jumat kliwon di bulan puasa tahun ini. Mungkin minggu depan sudah lebaran. Waktu dimana kaum urban berziarah ke tanah kelahirannya. Beberapa hari lagi, mungkin mobil-mobil para juragan akan berdatangan. Melepas kerinduan pada sang handai tolan, atau sekedar sebuah agenda tahunan sewajarnya tradisi bangsa ini.

Kampung ini sudah tak seramai dulu lagi menjelang malam. Semisal saja teman-teman seusiaku. Kebanyakan selepas Sekolah Menengah, lebih memilih mengadu nasib ke kota. Jakarta, Solo, Jogja, Surabaya atau kota Urban lainnya. Sampai akhirnya di kampung kami sendiri hanya menyisakan anak-anak yang masih sekolah dan orang-orang tua. Atau beberapa orang yang sudah jenuh dipermainkan nasib kota-kota besar. Dan seperti inilah suasana malam di kampung perbatasan ini. Sibuk dengan suara jangkrik, layang-layang dan sedikit orang yang masih nongkrong di warung bakso dadakan menjelang lebaran. Tak ada suara mesin-mesin yang bersambungan. Kalaupun ada hanya satu dua. Selebihnya, ya sunyi.

Sudah dua lebaran ini aku di kampung. Dengan kerjaanku yang seadanya, aku masih dibuat nyaman hidup diantara perbatasan kota dan propinsi ini. Ya, biar bagaimanapun aku lahir dan besar di tempat ini. Bagaimanapun keadaannya, aku senang berada disini. Siang bekerja, dan malamnya bercengkerama dengan sanak saudara ataupun sahabat-sahabat yang sebagian sudah lintas generasi. Atau juga memilih bercinta dengan selimut tebal dikamar. Cuaca disini memang memanhakan pecandu tidur.

Biasanya, aku jarang pulang ke rumah. Seminggu dua atau satu kali saja. Sisanya aku menghabiskan malam di kota baturetno. Sebuah kota kecamatan yang menurutku paling asyik se kabupaten Wonogiri. Beberapa hari ini aku pulang menemani kakek dan nenekku. Ya, agar mereka tak terlalu larut pasca meninggalnya anak perempuan mereka yang berada disekitar ibu kota.
Bulik meninggal tiga hari yang lalu. Setelah bertahun-tahun melawan kanker yang menyerang tubuhnya. Walau sudah lama sakit, beliau tak menunjukan sakitnya itu. Beberapa kali kesempatan aku bertemu, auranya masih seperti bulik yang masih sehat dulu. Terakir aku bertemu april lalu. Seperti bapaknya, beliau adalah orang yang penting dalam hidupku. Banyak hal yang diajarkannya padaku. Nasehat-nasehatnya yang tak henti-hentinya menghujani aku dan sanak keluarganya yang lain. Jiwa keibuannya membuat kami semua nyaman ketika berada di dekatnya. Dan kepergiannya terhitung cukup mengejutkan dan menorehkan kedukaan yang begitu dalam. Betapa tidak, beliau berkunjung ke Pacitan paling tidak waktu lebaran. Itu pun tak pasti setiap tahunnya.  Selamat jalan Bulik, semoga terang jalanmu. Amin.

Semakin malam, semakin udara dingin menembus batas-batas kehangatan. Selamat malam semuanya, selamat malam kota Pacitan. Selamat malam malam yang sunyi. O,ya... Sampaikan salam ku pada Bintang. Katakan padanya, aku masih mengharapnya dalam diamku.

:(

Now, no one will find that this smile. All of us will always miss. Thank you for all you've given. Affection, advice and a way out when we are in a deadlock. Goodbye. Sing with the angels.

06Juli 15

Mungkin sudah menjadi takdir. Ketika tak seorang pun yang dapat mengerti. Apa dan bagaimana yang mengisi hati. Mengembara rasa tanpa tujuan pasti. Tapi biarlah, tak perlu juga kalian mengerti. Air mata hati begitu perih. Bersama kalian tertawa adalah sebuah nikmat. Selebihnya, seberat apapun itu, biar kutanggung sendiri.

01 Juli 2015

Aku tak pernah tahu akan apa yang akan terjadi setelah detik demi detik yang kini berjalan. Aku tidak tahu akan apa yang akan aku dapati dari doa-doa yang kupanjatkan. Aku tak tahu dan tak tahu, akan apa-apa yang ada di waktu nanti dan selebihnya. Aku jalani apa yang bisa kujalani. Senang ataupun susah mana bisa terhindari. Tapi begitulah hidup, dan juga takdir seorang manusia.

Ibadah. Bagiku di tengah keadaan yang kujalani sejak 12 april 93 hinngga saat ini, ibadah adalah hal yang bersifat personal. Entah sah atau tidak, diterima atau tidak, dapat pahala atau dosa, aku tak peduli. Biar semua itu menjadi urusan Tuhan dan para peseruhnya. Aku hanya menjalani apa yang kutahu. Itupun masih sering terabaikan karena nafsu. Dunia ini begitu indah untuk dilewatkan seditikpun. Tapi, bukankah wanita-wanita penghibur itu juga indah?. Kadang yang indah, yang nikmat membuatku lupa, bahwa aku hanyalah makluk asing di dunia ini. Nenek moyang manusia pertama kali ditempatkan di surga. Mungkin disanalah rumah kita yang sebenarnya. Dan gemerlapnya hidup, kadang membuat tujuan utama dari hidup terabaikan; kembali pulang.

Abaikan saja soal Surga ataupun nereka. Dua kata itu andai boleh hilanglah dari muka bumi ini, biarlah hilang. Agar manusia itu bisa, agar manusia tak naif ataupun munafik. Dan mengerti, beribadah itu tak menyembah Surga. Entahlah.

Entahlah dengan semua hal yang terjadi setelah kini. Mungkin benar kata orang bijak;
"nanti adalah sebuah ruang kosong, yang tak pernah kita tahu apa isinya"

"Hidup adalah sebuah keberanian, menghadapi yang tanda tanya"

Benk_wd