Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

22 oktb 2015

Selamat pagi kawan, apa kabar kalian?. Sudahkah kalian sibuk disepagi ini?. Ya, apapun, semoga hari-hari kalian menyenangkan.

Menjelang pukul tujuh, pinggiran kota. Aku tak tahu pasti apakah aku masih kekeh dengan mimpiku. Sebenarnya aku ingin sekali menghabiskan hari-hariku disini. Tapi, belakangan ini kondisi masyarakat sepertinya mengalami sedikit perubahan. Belakangan banyak kasus terjadi disini. Yang baru saja kemarin lusa, perampokan. Lalu kemarin-kemarinnya lagi kasus "gendaan" ataupun pencabulan, berderet meramaikan dunia kriminalitas.

Entahlah,
Besar harapan semua akan membaik. Biar bagaimanapun, disini memiliki potensi yang besar dibanding kota kecamatan yg lain di kabupaten ini. Tapi, beginilah kota ini. Selamat datang dikota ini, kota kecil yang membuat keperawanan kekasih anda menjadi diragukan,haahaa

21 oktober 2015

Ada saat kita menjadi diam. Menjadikan diri bukan siapa-siapa. Memendam rasa sombong dan hebat. Karena selalu saja bisa jadi, apa yang kita tidak bicarakan itu lebih berharga dari yang kita bicarakan. Menyimak dan mengerti. Kapan kita harus bicara, diam, tertawa ataupun diam tanpa ekspresi.

Selamat malam kekasih, bersama tengah malam yang lewat, dan udara yang nyaris tanpa ekspresi ini, mata ini urung terpejam. Belakangan ini, makin saja marak masalah yang aku lihat, dengarkan, atau kutemui langsung. Memang sih, aku tak selalu terlibat, tapi semua yang terjadi ini membuat kecemasan dalam hati ini. Kekasih, bagaimanakah kita dan anak-anak kita kelak akan menjalani kehidupan. Tak ada yang memimpikan kehidupan yang berantakan. Tapi, sanggupkah kita untuk hidup dalam masyarakat yang menurutku semakin sakit. Tak ada yang bercita-cita menjadi apatis. Tak ada, kekasih.

Entahlah kekasih,
Aku hanya punya sebuah harapan, kelak kita akan hidup bahagia. Hidup yang membuat kita damai sampai sedalam hati.

Kekasih, selamat malam. Kapan kita akan saling berjabat tangan dan saking menyebutkan nama.
Selamat malam..

18/ 10/ 2015

Menjelang Isya waktu bagian baturetno. Mungkin ini untuk pertama kalinya air dari langit menyapa kemarau. Aku pun tak tahu akankah hembus angin dan gerimis tipis ini akan membuahkan hujan. Entahlah. Yang pasti, batas-batas kehangatan tertembus udara dingin yang terasa lain dari yang kemarin - kemarin.
Apa kabar kamu, manisku?. Apa hujan juga menyapamu?, paling tidak gerimislah?. Apapun, akupun masih sama. Menantimu dan mengharap kita yang saling bertegur sapa. Semoga, suatu saat nanti. Biar semua indah pada waktunya, biar orang semakin heran. Kalau orang ini masih bagian dari bumi ini.


Hiruk pikuk jalan raya masih meronakan malam menjelang pukul sembilan malam. Hujan masih enggan turun. Ya semoga besuk ataupun lusa jadi turun.

Loyalitas

Ahad, 18 Oktober 2015.

Apa kabarmu hari ini?, masih seperti biasa, udara panas menjadi kawan yang mesra di Pacitan Barat. Belum juga ada mendung sampai hari ini, nampaknya masih harus sabar jika berharap akan datangnya pelangi.

O, ya. Selamat atas peringkat ke-3 piala Presiden untuk laskar singo edan. Ya tidak masalah juara 3. Namanya kompetisi, namanya permainan, semua tak selalu seperti harapan kita. Yah, apapun "Salam Satu Jiwa" pokok we!.

Sementara, entah berapa jumlah aparat yang bertugas "mengamankan" final. "Aman" Sebuah kondisi yang terlalu maksa.
Bagiku tetap saja, tidak ada kedamaian tidak ada kata aman. Sepak bola ditekan hingga ruang lingkupnya hanya stadion saja. Tentu itu berbanding terbalik dengan negeri ini yang digambarkan memiliku atusiasme yang besar pada sepak bola. Dimana mata melihat, disitulah sepak bola. Itulah Indonesia.

Bobotoh seakan dipaksakan menyembunyikan kebanggaannya pada Persib. Jakmania juga harus telanjang dirumah mereka sendiri. Segala atribut yang pada hari biasa lumrah dikenakan, seperti menjadi hal yang harus disembunyikan dari para bobotoh. Entahlah, bukan seperti ini sepal bola, bukan seperti ini Indonesia. Sepak bola seharusnya menjadi hal yang bebas, yang bisa dinikmati oleh siapapun, tanpa ada yang harus merasa ditekan, ataupun menundukan keberanian dan semangatnya karena orang-orang berseragam dan bersenapan.

Inilah bangsa ini, bangsa dengan Militansi yang tinggi. Mungkin ada yang mengatakan "bodoh,buat apa mati demi sepak bola?", tapi menurutku,mereka yang dibilang bodoh itu yang mempunyai kemungkinan kecil berhianat pada bangsa dan negaranya. Karena mereka melakukan semua dengan penuh cinta. Bukan sekedar kalkulasi untung - rugi. Tak perlulah isue tentang bangsa ini yang menurun rasa nasonalismenya. Tak perlulah bela negara ataupun wajib militer yang makan biaya. Yang dicap menurun rasa nasionalisme nya itu bisa jadi karena tak mau saja jalan beriringan dengan para pejabat yang naif terhadap nasionalisme. Seperti mereka yang mempertahan prinsip dan idealismenya, seperti itulah yang akan mereka berikan pada bangsa dan negaranya. Begitu pula mereka yang mengatakan militansi adalah sebuah kepayahan dan tak ada untungnya, bisa jadi kelak mereka akan mengatakan itu saat tekanan besar terjadi bangsa ini. Nasionalis ataupun militansi hanyalah istilah dari kesetiaan. Dan kesetiaan itu buta terhadap risiko dan hasil akhirnya, kesetiaan hanya tentang bagaimana mempertahankan apa - apa yang diyakini untuk dipertahankan. Pertahankan atau dihancurkan, itulah kesetiaan.

15 Oktober 2015

15 oktober 2015,
apa kabarmu manis?,
ini adalah hari kedua bulan Muharam (Suro). Mungkin belum ada yang nampak istimewa hari ini. Semua seperti biasa, sangat biasa. Seperti halnya perayaan tahun baru kemarin hari, juga biasa-biasa saja.

Hay bintang, apa kabarmu?, masihkah seperti waktu itu?, waktu yang telah lama sekali. Sudah lama tak jumpa, mungkin ada satu tahunanlah. O,ya, apa kabar Skripsimu?, atau mungkin kau sudah wisuda bulan lalu?, hmmtt, sudah tidak lagi ada yang menarikkah untuk kita bincangkan?, hingga kita tak lagi tahu bagaimana kabar sama lain. Inbox mu mungkin belum sempat kau baca, atau sudah kau baca tapi payah untuk membalasnya, walau satu huruf saja "y". Tapi terserahlah, kita memang bukan apa dan siapa. Bahkan masih kah kita berteman, aku tak tahu.

Udara manas masih menghembus kota. Memaksakan rasa rindu akan tetes air dari langit pada setiap manusia. Tentu, ini tak separah qatar ataupun negeri-negeri tengah gurun sana. Lahan-lahan tadah hujan di pacitan barat sebagian sudah beralih fungsi sebagai lapangan sepak bola. Itupun sangat berisiko, bisa saja kaki-kaki penggila bola itu masuk pada mulut-mulut tanah. Entah kapan hujan akan datang, mendung yang satu dua kali singgah tak juga berakir hujan.

Kau manis, dan dirimu bintang, juga engkau hujan. Entah mengapa hari ini aku begitu merindukan kalian.


Benk_wd

v

g

Kepada Kawan

(Chairil anwar)

Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,
mencengkam dari belakang ‘tika kita tidak melihat,
selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,
belum bertugas kecewa dan gentar belum ada,
tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,
layar merah berkibar hilang dalam kelam,
kawan, mari kita putuskan kini di sini:
Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!
Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,
Tembus jelajah dunia ini dan balikkan
Peluk kucup perempuan, tinggalkan kalau merayu,
Pilih kuda yang paling liar, pacu laju,
Jangan tambatkan pada siang dan malam
Dan
Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,
Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.
Tidak minta ampun atas segala dosa,
Tidak memberi pamit pada siapa saja!
Jadi
mari kita putuskan sekali lagi:
Ajal yang menarik kita, ‘kan merasa angkasa sepi,
Sekali lagi kawan, sebaris lagi:
Tikamkan pedangmu hingga ke hulu
Pada siapa yang mengairi kemurnian madu!!!

12 oktober 2015

Udara panas yang berhembus menembus batas-batas kesejukan. Bersama senandung lirih tentang hari-hari yang tak lagi mudah. Sepercik aroma, perpaduan antara mocca, tembakau dan asap kendaraan masih mewangikan siang ini. Bersama sebuah harapan, semua berangsur lebih baik lagi. Kapan hujan akan datang?, kapan pula kau akan menjabat tangan ini?, saling menyebutkan nama lalu sejuk basahi jiwa ini yang telah lama kemarau.

Harapan itu masihlah utuh terjaga. Sebuah keinginan lumrah manusia-manusia yang sakit untuk sembuh. Aku ingin sembuh. Entah bagaimana mulanya, tapi seperti ada sugesti kaulah yang akan menawar segala lara ini. Manis, akupun masih sama seperti waktu itu, yah, waktu yang begitu lampau kita lewatkan.

Sesaat, setelah bis antar kota antar provinsi menelan murid-murid luar kota SMA Negeri. Halte sekolah pun menjadi kosong. Menjadi semakin nampak saja langit di atap sekolah yang masih biru segar. Tak ada tanda-tanda akan datang hujan. Padahal,sampai dengan hari ke-12 bulan ini, kekeringan sudah merata. O,ya, dari RA (Randu Alas) pun nampak pemandangan yang lebih dari biasanya. Yang biasanya nampak seperti birunya air tumpah di tengah kota Wonogiri, sekarang menjadi hijau dan terkadang agak kekuning-kuningan. Waduk gajah mungkur bagian selatan sudah menjadi sabana.