Ahad, 18 Oktober 2015.
Apa kabarmu hari ini?, masih seperti biasa, udara panas menjadi kawan yang mesra di Pacitan Barat. Belum juga ada mendung sampai hari ini, nampaknya masih harus sabar jika berharap akan datangnya pelangi.
O, ya. Selamat atas peringkat ke-3 piala Presiden untuk laskar singo edan. Ya tidak masalah juara 3. Namanya kompetisi, namanya permainan, semua tak selalu seperti harapan kita. Yah, apapun "Salam Satu Jiwa" pokok we!.
Sementara, entah berapa jumlah aparat yang bertugas "mengamankan" final. "Aman" Sebuah kondisi yang terlalu maksa.
Bagiku tetap saja, tidak ada kedamaian tidak ada kata aman. Sepak bola ditekan hingga ruang lingkupnya hanya stadion saja. Tentu itu berbanding terbalik dengan negeri ini yang digambarkan memiliku atusiasme yang besar pada sepak bola. Dimana mata melihat, disitulah sepak bola. Itulah Indonesia.
Bobotoh seakan dipaksakan menyembunyikan kebanggaannya pada Persib. Jakmania juga harus telanjang dirumah mereka sendiri. Segala atribut yang pada hari biasa lumrah dikenakan, seperti menjadi hal yang harus disembunyikan dari para bobotoh. Entahlah, bukan seperti ini sepal bola, bukan seperti ini Indonesia. Sepak bola seharusnya menjadi hal yang bebas, yang bisa dinikmati oleh siapapun, tanpa ada yang harus merasa ditekan, ataupun menundukan keberanian dan semangatnya karena orang-orang berseragam dan bersenapan.
Inilah bangsa ini, bangsa dengan Militansi yang tinggi. Mungkin ada yang mengatakan "bodoh,buat apa mati demi sepak bola?", tapi menurutku,mereka yang dibilang bodoh itu yang mempunyai kemungkinan kecil berhianat pada bangsa dan negaranya. Karena mereka melakukan semua dengan penuh cinta. Bukan sekedar kalkulasi untung - rugi. Tak perlulah isue tentang bangsa ini yang menurun rasa nasonalismenya. Tak perlulah bela negara ataupun wajib militer yang makan biaya. Yang dicap menurun rasa nasionalisme nya itu bisa jadi karena tak mau saja jalan beriringan dengan para pejabat yang naif terhadap nasionalisme. Seperti mereka yang mempertahan prinsip dan idealismenya, seperti itulah yang akan mereka berikan pada bangsa dan negaranya. Begitu pula mereka yang mengatakan militansi adalah sebuah kepayahan dan tak ada untungnya, bisa jadi kelak mereka akan mengatakan itu saat tekanan besar terjadi bangsa ini. Nasionalis ataupun militansi hanyalah istilah dari kesetiaan. Dan kesetiaan itu buta terhadap risiko dan hasil akhirnya, kesetiaan hanya tentang bagaimana mempertahankan apa - apa yang diyakini untuk dipertahankan. Pertahankan atau dihancurkan, itulah kesetiaan.
Apa kabarmu hari ini?, masih seperti biasa, udara panas menjadi kawan yang mesra di Pacitan Barat. Belum juga ada mendung sampai hari ini, nampaknya masih harus sabar jika berharap akan datangnya pelangi.
O, ya. Selamat atas peringkat ke-3 piala Presiden untuk laskar singo edan. Ya tidak masalah juara 3. Namanya kompetisi, namanya permainan, semua tak selalu seperti harapan kita. Yah, apapun "Salam Satu Jiwa" pokok we!.
Sementara, entah berapa jumlah aparat yang bertugas "mengamankan" final. "Aman" Sebuah kondisi yang terlalu maksa.
Bagiku tetap saja, tidak ada kedamaian tidak ada kata aman. Sepak bola ditekan hingga ruang lingkupnya hanya stadion saja. Tentu itu berbanding terbalik dengan negeri ini yang digambarkan memiliku atusiasme yang besar pada sepak bola. Dimana mata melihat, disitulah sepak bola. Itulah Indonesia.
Bobotoh seakan dipaksakan menyembunyikan kebanggaannya pada Persib. Jakmania juga harus telanjang dirumah mereka sendiri. Segala atribut yang pada hari biasa lumrah dikenakan, seperti menjadi hal yang harus disembunyikan dari para bobotoh. Entahlah, bukan seperti ini sepal bola, bukan seperti ini Indonesia. Sepak bola seharusnya menjadi hal yang bebas, yang bisa dinikmati oleh siapapun, tanpa ada yang harus merasa ditekan, ataupun menundukan keberanian dan semangatnya karena orang-orang berseragam dan bersenapan.
Inilah bangsa ini, bangsa dengan Militansi yang tinggi. Mungkin ada yang mengatakan "bodoh,buat apa mati demi sepak bola?", tapi menurutku,mereka yang dibilang bodoh itu yang mempunyai kemungkinan kecil berhianat pada bangsa dan negaranya. Karena mereka melakukan semua dengan penuh cinta. Bukan sekedar kalkulasi untung - rugi. Tak perlulah isue tentang bangsa ini yang menurun rasa nasonalismenya. Tak perlulah bela negara ataupun wajib militer yang makan biaya. Yang dicap menurun rasa nasionalisme nya itu bisa jadi karena tak mau saja jalan beriringan dengan para pejabat yang naif terhadap nasionalisme. Seperti mereka yang mempertahan prinsip dan idealismenya, seperti itulah yang akan mereka berikan pada bangsa dan negaranya. Begitu pula mereka yang mengatakan militansi adalah sebuah kepayahan dan tak ada untungnya, bisa jadi kelak mereka akan mengatakan itu saat tekanan besar terjadi bangsa ini. Nasionalis ataupun militansi hanyalah istilah dari kesetiaan. Dan kesetiaan itu buta terhadap risiko dan hasil akhirnya, kesetiaan hanya tentang bagaimana mempertahankan apa - apa yang diyakini untuk dipertahankan. Pertahankan atau dihancurkan, itulah kesetiaan.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 19 Oktober 2015
0 komentar:
Posting Komentar