Udara panas yang berhembus menembus batas-batas kesejukan. Bersama senandung lirih tentang hari-hari yang tak lagi mudah. Sepercik aroma, perpaduan antara mocca, tembakau dan asap kendaraan masih mewangikan siang ini. Bersama sebuah harapan, semua berangsur lebih baik lagi. Kapan hujan akan datang?, kapan pula kau akan menjabat tangan ini?, saling menyebutkan nama lalu sejuk basahi jiwa ini yang telah lama kemarau.
Harapan itu masihlah utuh terjaga. Sebuah keinginan lumrah manusia-manusia yang sakit untuk sembuh. Aku ingin sembuh. Entah bagaimana mulanya, tapi seperti ada sugesti kaulah yang akan menawar segala lara ini. Manis, akupun masih sama seperti waktu itu, yah, waktu yang begitu lampau kita lewatkan.
Sesaat, setelah bis antar kota antar provinsi menelan murid-murid luar kota SMA Negeri. Halte sekolah pun menjadi kosong. Menjadi semakin nampak saja langit di atap sekolah yang masih biru segar. Tak ada tanda-tanda akan datang hujan. Padahal,sampai dengan hari ke-12 bulan ini, kekeringan sudah merata. O,ya, dari RA (Randu Alas) pun nampak pemandangan yang lebih dari biasanya. Yang biasanya nampak seperti birunya air tumpah di tengah kota Wonogiri, sekarang menjadi hijau dan terkadang agak kekuning-kuningan. Waduk gajah mungkur bagian selatan sudah menjadi sabana.
Filed Under : by tri widhiono
Senin, 12 Oktober 2015
0 komentar:
Posting Komentar