Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

29 september

Akhirnya, satu tokoh yang ku gadang-gadang sebagai pemimpin pecah dari dinding cangkangnya. Beriring dengan turun gunungnya para resi, serta seperti biasa, kalimat pro-kontra yang sudah lumrah. Memang sebenarnya sayang, dia keluar saat cangkang dan embrio yang dia naungi masih bisa memberinya lebih. Menjadikannya resi ataupun satu tokoh sekelas wisang geni. Tapi, biar bagai manapun itu pilihannya, dengan kalkulasi yang persentasinya hambir diangka seratus. Biar saja, debu dan kontaminasi membentuk perisai kuat yang membentenginya. Menjadi penggemblengan sampai dia benar-benar menjadi seorang "kage". Apapun, maju terus mas, jadilah kebanggaan kami. Jadilah satu tokoh yang tak bercelah untuk dicacat. Jadilah dambaan bocah-bocah yang baru belajar bercita-cita. Agar mereka ingin menjadi sepertimu. Garuda tak pernah menelurkan perkutut. Kuku-kuku mudamu yang bersih jadikanlah cakar kokoh yang disegani semesta.

Kau akan datang?

Tengah hari kali ini ditemani hujan deras. Langit yang hanya menyisakan satu warna, putih. Mungkin hujan akan berdurasi panjang kali ini.

Selamat siang, manisku. Apa kabar?. Walau klise, tapi menanyakan kabarmu adalah satu hal yang paling ingin kudapati kawabnya. Semoga hari ini menyenangkan bagi mu.

O,ya. Apa hujan juga turun menemanimu?. Mengheningkan suasana, menyejukan cuaca. Biar kita sama-sama hening, biar kita sama-sama sejuk. Biar kita menyambungkan tali-tali kerinduan yang tercecar akan jarak dua kota yang jauh. Biar aku dan kamu menjadi dekat dalam jauh. Apa terlalu berlebihan bila setiap waktu menyampaikan kerinduanku padamu?. Setidaknya, itu yang aku bisa berikan saat jarak, waktu dan aktifitas memaksa kita untuk masing-masing sementara ini.

Tak terasa, september sudah tiba pada gerbang pekan terakhirnya. Oktober, Nopember dan Desember. Kurasa itu akan menjadi waktu yang sebentar. Apa kau tak bermaksud datang pada pesta tahun baru di tempat yang tahun lalu?,..

Bersama alunan Kisah Seorang Pramuria dari Bomerang ini aku pun masih merindumu. Melancarkan harapanku agar malam 2017 nanti kita dapat melihat letupan kembang api yang sama. Akhir desember lalu adalah awal aku berani mengirimkan pesan singkat padamu. Aku tak tahu, apakah kita kencan malam itu?, hari itu aku menawarimu untuk datang pada suatu pesta di wonogiri selatan. Kau bilang "ya deh, coba nanti". Benar saja, malam itu kau datang. Kau ada diantara kerumunan slanker dan masyarakat sekitar. Aku pun demikian. Aku pahami malam itu sebagai ajakan seorang panitia acara pada penonton. Aku tak begitu menyadari bahwa percakapan malam itu juga bisa sebagai kencan pribadi kita. Dan aku mulai sadar baru-baru ini. Kecan pertamaku yang bersamamu yang telah aku lewatkan. Hanyut dalam derasnya uforis tahun baru. Maaf. Tapi, maukah kau beri aku hal yang sama di malam 2017 nanti?, setidaknya aku bisa bertegur-sapa denganmu dan menanyakan kabarmu secara langsung. Atau malah lebih. Kita bisa bincangkan sedikit dari luasnya bumi dan kehidupan ini. Bicara tentang kemarin atau hujan resolusi tahun depan dan depannya lagi.

Hujan sudah mulai menipis. Genangan-genangan mulai menjadi wajah lain dimuka bumi ini. Namun, wajahmu masih saja. Masih belum pudar dan semakin pekat saja. Jadi, bagaimana?, tahun baru nanti kau akan datang atau tidak?, :)

22 Agustus

Selamat pagi manisku, apa kabar?. Sudah mandikah?, atau malah sudah sibuk dengan buku dan disiplin-disiplin ilmu mu?, apapun, jalani semua dengan penuh semangat, optimisme, dan totalitas. Semoga hari-harimu menyenangkan. Semoga.

Dua puluh dua Agustus. Cerah, hangat dan... ramah. Tiga kata itu setidaknya menjelaskan awal hari ini. Sepasang roti tawar, kopi dan rokok serta suara dunia yang mulai pelan-pelan sibuk dengan rutinitas. Menu sarapan yang tehidang pagi ini. O,ya. Sudah sarapan pagi ini?, jangan lupa, sempatkanlah sarapan. Mengejar dunia butuh tenaga lebih. Karena kau tahu?, iya, betul. Dunia tak akan berhenti untuk sekedar menunggumu sarapan. Tapi terus berlari tanpa memperhatikan kondisi badan, itu juga gila. Baik-baik ya disana.

Kopi. K-o-p-i. Ko-pi. Boleh saja orang mendiskripsikan kopi bagaimana. Tapi, kopi tetaplah kopi. Karisma aroma yang begitu memesona dari buih-biih pahitnya. Menjadikan kopi tak pernah tunduk pada siapapun. Barista-barista ternama pun ku rasa tak pernah selesai menerangkan tentang kopi. Kau ingat, Ben. Seorang tokoh dalam novel filosofi kopi karya Dee lestari. Iya, yang menciptakan Ben Perfecto, katanya. Susah payah iya menimbang takaran kopi yang akhirnya merasa kalah dengan kopi tiwus. Sebuah kopi yang di sajikan bukan oleh seorang Barista dari bar ternama. Lagi-lagi bubuk-bubuk pahit itu memberikan pelajaran pada hidup ini. Kata jodi, tak sempurna tapi indah begini adanya. Behitulah hidup.

Kopi minuman yang menurut tak bisa disajikan dengan apapun. Kopi itu bisa di katakan egois bisa juga dibilang murni. Mungkin yang bisa beriringan hanyalah rokok. Itupun dalam cita rasa tertentu. Sedikit yang ku tahu, nikmati setiap teguk pahitnya dalam suasana santai, disuatu tempat yang beraromakan alam. Barangkali hal itu juga yang membuat kopi tiwus mengalahkan Ben perfecto. Karena pertama Ben meminum di suatu tempat di pedasaan di dekat kebun kopi itu. Tentu suasana yang sangat jauh berbeda dengan suasana bar ataupun kedai kopi.

Bunga mangga nampak cerah kekuning-kuningan. Mengisyaratkan matahari mulai merangkak naik. Okey, baik-baik disana manisku,
Have nice day :)

20 September

Menjelang sepertiga akhir bulan September. Tepatnya, hari kedua puluh. Selamat pagi manisku, apa kabarmu?.

Selepas perayaan ke-2, pernikahan mas iud&mbak dian. Pagi ini aku mulai memacu adrenalin sepanjang jalan menuju Giribelah. Kau tahu doa apa yang tak mungkin dikabulkan di pagi ini?,jawabnya adalah ketika kau berdoa meminta jalan terbaik padahal kau melintas di jalanan Giriwoyo - Giribelah. Proyek yang masih belum rampung, dan kalau orang awam bilang masih mentah. Tapi, entah bagaimana dari pandangan orang teknik. O,ya. Sebelumnya ucapkan selamat untuk kedua mempelai. Semoga menjadi keluarga yang Sakinah mawadahwarohmah. Terima kasih untuk pestanya semalam. Untuk lagu-lagu Slank dari Solo Slank-nya.
Pertanyaan itu seperti disirami darah segar setelah hampir busuk. Bukan, ini tak ada kaitannya dengan acara atau teman-teman semalam. Ini adalah soal bentuk bumi. Bulat atau lempengan. Seseorang melempar pembicaraan itu dengan dalih yang keras. Katanya bumi itu lempengan berbentuk lingkaran yang di kelilingi tembok es. Kalau aku sih sebenarnya tak ambil pusing soal bentuk bumi. Lempengan atau bulatan tak masalah. Selama oksigen dan air masih legal. Yang menjadi soal aku didepat. Dan kau tahu, dalam kondisi tertentu aku akan memosisikan diri menjadi lawan srkalipun apa yang ku ucapkan menggambarkan pikiranku. Sebenar diskusi atau debat hanya mencari kepuasan pengakuan dan olah bahasa. Soal pemikkiran, adalah kemerdekaan mutlak setiap individu.

Aku katakan apakah kita akan mundur sekian ratus tahun, kembali pada keyakinan bumi datar dan langit disangga gunung-gunung?. Dia tertawa sebentar, "iya ya, kita akan mundur limaratus tahun, atau malah kita dibodohi selama lima ratus tahun?",ditertawa lagi.  Sebenarnya terserah, sekalipun bumi ini kubus, tak ada masalah. Karena dengan mengatakan "ya" atau "tidak" tak membuatku gratis dari biaya listrik, air dsb. Hanya saja tak puas dalam adu argumen itu, bukan hal yang menyenangkan.

Menurumutmu, bagaimana.manis?, bumi itu seperti apa?.

17 september

selamat malam kekasih, apa kabar?.

hari ke-tujuh belas bilan september. Bertepatan dengan yang dianggap baik di bulan Besar yang di anggap baik dalam perhitungan penanggalan jawa. Entah hari yang keberapa. Tanggalan masehi lebih akrab di kehidupan kita ketimbang penanggalan arab yang kemudian digubah sultan Agung ke penanggalan jawa.

Hari yang baik. Benar saja, berapa puluh pasang pengantin yang menandatangani kontrak seumur hidup mereka. Lalu kita kapan?. Sebuah pertanyaan klise baik dari sudut pandang satu ataupun dua. Sebuah pertanyaan yang tak cukup di jawab dengan tanggal bulan tahun saja. Ya, tak semudah itu.

Gemercik mendung yang gugur menimpa dedaunan di Pacitan barat. Menjadi teman selain asap tembakau dan bubuk-bubuk kopi dan juga wajahmu. Udara sejuk yang kemudian dingin. Hening, hanya menyisakan sedikit saja suara kodok dam jangkrik dalam  audio semesta. Menjadi jeda yang sebentar dalam ke gaduhan materi, sosial serta politik yang penuh intrik.  sebelum ahad yang akan datang seperti apa. Aku tak tahu.

Dunia sudah begitu kotor. Terkontaminasi dengan kemunafikan. Menerobos jalan-jalan larangan, serta memutar-mutar petunjuk sesuka hati. Serta kenaifan bocah-bocah yang baru belajar sedikit tentang hidup. Merasai pintar lalu menggurui. Memaparkan istilah tentang cinta mengumbar birahi,anarki dan liberalisasi. Menuntut bebas tanpa ada tekanan. Menuntut merdeka tanpa penjajahan, menuntut hak tanpa menperhatikan kewajiban. Konyol memang. Dan kita hidup dalam dunia yang konyol. Sekonyol-konyolnya. 

Harusnya malam ini terang bulan. Tapi, seperti yang kau lihat. Awan-awan pekat menyelimuti semesta. Ringankan pikiranmu, dan lemaskan katup matamu. Selamat malam manis, istirahatlah. Mungkin esok kita bisa ligat bulan sempurna dan bertukar penilaian tentangnya. Have a nice night.

Dunia Bilang : "Naif"

Bagaimana mudah menjadi saya. Kita teelahir sebagai manusia. Datang di dunia dan besar dengan proses yang disebut belajar, bukannya tertanam harddisc yang berisi progam-progam prosedur kehidupan. Hidup itu fleksibel, dinamis. Bukan rek tunggal atau koridor-koridor yang penuh sensor. Sejak kecil kita belajar meniru. Manipulasi, identifikasi, imitasi. Dalam jiwa tertanam kakasi-kakasi yang kuat. Kita selalu mencoba menjadi orang lain,selalu. Sampai pada suatu hari yang begitu membosankan. Menjadi oposisi dari serangkaian disiplin prosedural yang telah para pendahuku ciptakan. Membrontak, sampai kita temui sosok yang lain. Dan kita mengulangi lagi siklus yang sama. Hingga tahap-tahap dengan angka yang semakin besar. Begitu dan berulang. Kita ini palsu, kamuflase pada setiap musim yang berubah-ubah demi menyandang predikat "lumrah".

Terlalu naif jika kita tak berhati cermin. Putih, namun seketika meniru apa yang ada di depan kita. Kanan kita bang kiri. Begitukah manis?.

Sejak kematian Bintang, sory, maksutku kepergian. Sejak kepergian Bintang yang memilih untuk tidak singgah, ada semacam keputus asaan yang nyaris sama praBintang. Orang seperti Bintang itu hanya diciptakan beberapa dan dalam kurun waktu yang lama didunia ini. Saat kau berada di dekat Bibtang, kau akan dapati super ketenangan, kesejukan dan alasan-alasan untuk lisanmu menggugurkan tasbihmu. Tapi kau pun tak akan dapat apa-apa jika kau lebih suka dan terkontaminasi wanita jalanan. Ibarat terrendahnya, jika "Bercinta" sekali saja kau sudah tak mengingankannya lagi. Selebihnya, waktumu hanya akan kau habiskan untuk menemaninya, berdiskusi tentang hidup atau menciptakan puisi-puisi sekelas chairil, khalil gilbran, ataupun wiji thukul. Mungkin lebih.

Tapi bagiku sudah selesai,selesai semuanya. Tak akan ku kejar Bintang yang sudah berpasang. Atau sekedar mencari Bintang yang lain. Dihadapku, kau memenuhi seisi pandangku. Sudut-sudut yang tak menjadi kosong. Mungkin, Sang Maha Cinta masih merahasiakanmu. Memang kau adalah kau dan Bintang adalah Bintang. Kau tak perlu menjadi Bintang, karena, satu hal yang menarik Bintang dia tetep menjadu Bintang kala langit menjadi festival meteor.

Sang Maha Cinta masih membutakan mata ini akanmu. Tapi, hati tak butuh apa-apa. Dengan atau tanpa udara sekalipun dia tetap akan merasa.

Jadi, aku rasa, kau  tersenyum dibalik kabut kehidupan ini. Menantiku, untuk sekedar bergandeng menuju alam keabadian. Hati tak pernah salah, hanya saja dia menginginkan sahwat dunia yang palsu.

Selamat Hari Raya

Hari-hari kita jelang. Itu yang kurasakan di Hari Raya ini. Takbir yang sejak semalam sudah diujung durasi. Hanya menyisakan sesekali saja namun dimana-mana. Setelah gerimis yang sebentar, kumudian sinar-sinar matahari menerobos membawa kehangatan, kedamaian dan harapan untuk beberapa detik lalu dan setelahnya. Bersamamu, aku genggam harapan untuk hari esok dan setelahnya. Itu yang kuharap.

Manis, selamat pagi. Selamat Hari Raya Idhul adha... Semoga kita menjadikan perasaan kita sebagai qurban. Taqobalallohuminawamingkum, Taqobalyakarim. Barakalloh.

Belukar tetaplah belukar

Ketika kita sudah mendeklarasikan sebagai suatu hal yang struktural, kitapun harus siap dengan serangkaian disiplin prosedur. Mengusung pandangan hidup yang sama. Berslogan, prinsip dan kritis pada suatu hal yang sama. Mulailah kita mengikuti kewajiban dan konskwensinya. Ibarat kendaraan, kita menjadi kereta api. Berjalan pada rel dengan posisi yang teratur. Tak bisa lagi zig-zag  tak bisa lagi selip sana sini. Kaku, tegas, tak pandang bulu. Begitulah kereta api. Harus ekstra sabar dan patuh terhadap aturan.

Sudahkah kita siap melangkah dengan kaki yang sama sahabatku?, "kanan-kiri, kanan-kiri". Tak sekedar nampak indah, juga agar tak terjadi cross.

Bagiku, ada baiknya aku mengenalmu sebagai individu. Dan sebaliknya. Sebab berkelompok akan membuat kita kembali pada jalan-jalan primitif. Berpotensi rasis, fasis. Itu hal biasa dalam suatu kelompok. Rentan dan sensitif. Belukar tak akan mudah ditata dan dirata. Sekalipun kita bukan tokoh utama, tapi ingatlah, belukarlah yang membuat jati yang dijaga enggan ditumbangkan. Dan sebelum jati tumbang belukar lah yang harus ditumbangkan dahulu. Belukar kuat karena pribadi yang liar kemudian saling mengenal. Tak seperti jati, tumbuh besar karena sendiri. Karena daunnya yang lebar menutupi sinar matahari pada daun belukar.

Belukar tetaplah belukar. Musim tak mampu membatasi dimana kau tumbuh menjalar dan mengakar.

09/09

Mendekati hari raya. Dimana para pejantan dikawinkan untuk terakhir kali sebelum di qurbankan di hari raya nanti. Tahun ini, kebetulan bebarengan dengan hari-hari yang baik sekitar hari raya. O, ya selamat Bunga.

08 September

Seperti biasa, semut akan selalu datang pada setiap apapun yang berbau manis. Sebelumnya, tak nampak hinggap, pesimis bahwa dari dekapan mancung ada rasa manis. Sampai nira-nira itu menetes mereka masih remeh. Tapi, setelah benar adanya gula, kerumunan riuh tak berjarak. Mengambil bagian yang sudah terlanjur manis.

Yang mereka anggap kecil dulu, sekarang sudah menjadi besar. Bisa saja menjadi ancaman untuk bersebrangan. Memang tak ada cara selain merasuk, menjadi kawan sebelum menguasai. Mengambil alih kendali garis besar dari rel sederhana yang sudah ada. Memang, mulanya tak bertujuan pasti. Hanya berjalan pelan kearah manapun. Bisa saja, setelah ini, rel-rel permanen menuju satu titik, dengan kecepatan dan keangkuhan ambisi.

05 september

Malam, manis.
Apa kabar?, bagaimana hari-hari mu disana?, menyenangkan?. Ya, pokoknya harus semangat dan ceria selalu ya.
O,ya. Sudah makan malamkah?, lekaslah.

Hari ke-5 bulan September. Siang tadi, cuaca disini lumayan panas. Sebelum akhirnya hujan deras membersikan debu di langit-langit Giritontro. Memang, belakangan jalan jalan di sini berantakan. Proyek pengerjaan jalan Giriwoyo - Duet masih belum memberi sinyal akan segera usai. Material dan berat berserakan. Menata pondasi lintasan aspal yang baru. Kadang, males juga melintas di antara proyek pengerjaan jalan. Selain material dan alat berat, ada juga beberapa pengguna jalan yang arogan. Tahu ga, tuh rasanya ingin ku tabrakan saja setiap kali ketumu orang-orang seperti itu.
Iya, deh iya. Kan itu cuma mau. Iya, aku akan baik-baik deh sini. Kamu tak usah khawatir. Aku kan udah gede, bentar lagi juga bakalan ngelamar kamu lagi, heehee.

Benar gak sih kalau golongan darah membentuj karakter seseorang?. Ya semacam garis besar kepribadian gitu. Golongan darah mu apa? A,B,atau A minor, heehee

Hallo September

Hari pertama bulan september.

Sudah sejak pagi buta sosial media memuat postingan menyambut September. Sebuah ritual biasa pada setiap awal bulan agar mereka tetap hits. September ceria. Begitu katanya. Entah kapan pertama kalinya "September Ceria" itu dianakan. Dan menjadi trend berkepanjangan hingga hari ini. Entah pula apa yang membuat ceria di bulan September. Katanya "pembrontakan PKI " juga terjadi di bulan september, Runtuhnya WTC, dan drama-drama lainnya. Dan tahun ini apa lagi yang akan dicatat sejarah?, Gerhana matahari cincin yang katanya akan terjadi sore nanti?, atau ada hal lain yang lebih spektakuler lagi. Atau polemik soal DKI1 yang malah akan mencatatkan diri. Belakangan media membuat DKI jadi sorotan. Mulai dari kontroversi, kualisi, hingga manufer aksi tak berhenti di perbincangkan. Media Nasional yang memang berumah di DKI bisa saja kebanjiran bintang penyiaran dengan adanya gejolak di DKI. Sementara, petani-petani ladang kering di Pacitan barat yang turut menyaksikan berita ini, hanya bisa mengatakan sianu begok si itu begok. Ahok, Sandiagauno, atau bila perlu Risma jadi atau siapapun yang jadi Gubernur pun tak akan memberi dampak apa-apa pada ladang-ladang kering di Pacitan barat.  Oww ya, ngomong-omong ada yang tahu kapan dan bagaimana presiden SBY akan merayakan hari lahirnya?,

Buatku, September tahun ini pun masih tanda tanya besar bagiku. Kondisi keuangan sampai awal bulan ini belum menunjukan ihtikat baiknya. Itusih maklum, usaha yang baru berumur tidak lebih dari tiga bulan ini memang penuh kata "proses" sebagai adiktif. Aku masih enjoy sajalah. Tak tahu seperti apa akhirnya, berusaha disaat jaman yang tak lagi mudah memang butuh ketlatenan.

Satu hal lagi yang menyinggung september tahun ini. Setelah sekian lama entah kemana, semalam "gadis kuning" itu muncul dalam mimpi. Entah bagaimana mulanya, semalam mimpi mendramakan kami menjadi sepasang suami istri. Haahaa lucu sih,

Entah apa yang akan sejarah catat di September tahun ini. Semoga sebuah cerita yang tak butuh sensor untuk diceritakan pada generasi.

Semoga