Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Dunia Bilang : "Naif"

Bagaimana mudah menjadi saya. Kita teelahir sebagai manusia. Datang di dunia dan besar dengan proses yang disebut belajar, bukannya tertanam harddisc yang berisi progam-progam prosedur kehidupan. Hidup itu fleksibel, dinamis. Bukan rek tunggal atau koridor-koridor yang penuh sensor. Sejak kecil kita belajar meniru. Manipulasi, identifikasi, imitasi. Dalam jiwa tertanam kakasi-kakasi yang kuat. Kita selalu mencoba menjadi orang lain,selalu. Sampai pada suatu hari yang begitu membosankan. Menjadi oposisi dari serangkaian disiplin prosedural yang telah para pendahuku ciptakan. Membrontak, sampai kita temui sosok yang lain. Dan kita mengulangi lagi siklus yang sama. Hingga tahap-tahap dengan angka yang semakin besar. Begitu dan berulang. Kita ini palsu, kamuflase pada setiap musim yang berubah-ubah demi menyandang predikat "lumrah".

Terlalu naif jika kita tak berhati cermin. Putih, namun seketika meniru apa yang ada di depan kita. Kanan kita bang kiri. Begitukah manis?.

Sejak kematian Bintang, sory, maksutku kepergian. Sejak kepergian Bintang yang memilih untuk tidak singgah, ada semacam keputus asaan yang nyaris sama praBintang. Orang seperti Bintang itu hanya diciptakan beberapa dan dalam kurun waktu yang lama didunia ini. Saat kau berada di dekat Bibtang, kau akan dapati super ketenangan, kesejukan dan alasan-alasan untuk lisanmu menggugurkan tasbihmu. Tapi kau pun tak akan dapat apa-apa jika kau lebih suka dan terkontaminasi wanita jalanan. Ibarat terrendahnya, jika "Bercinta" sekali saja kau sudah tak mengingankannya lagi. Selebihnya, waktumu hanya akan kau habiskan untuk menemaninya, berdiskusi tentang hidup atau menciptakan puisi-puisi sekelas chairil, khalil gilbran, ataupun wiji thukul. Mungkin lebih.

Tapi bagiku sudah selesai,selesai semuanya. Tak akan ku kejar Bintang yang sudah berpasang. Atau sekedar mencari Bintang yang lain. Dihadapku, kau memenuhi seisi pandangku. Sudut-sudut yang tak menjadi kosong. Mungkin, Sang Maha Cinta masih merahasiakanmu. Memang kau adalah kau dan Bintang adalah Bintang. Kau tak perlu menjadi Bintang, karena, satu hal yang menarik Bintang dia tetep menjadu Bintang kala langit menjadi festival meteor.

Sang Maha Cinta masih membutakan mata ini akanmu. Tapi, hati tak butuh apa-apa. Dengan atau tanpa udara sekalipun dia tetap akan merasa.

Jadi, aku rasa, kau  tersenyum dibalik kabut kehidupan ini. Menantiku, untuk sekedar bergandeng menuju alam keabadian. Hati tak pernah salah, hanya saja dia menginginkan sahwat dunia yang palsu.

0 komentar:

Posting Komentar