Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

Belukar tetaplah belukar

Ketika kita sudah mendeklarasikan sebagai suatu hal yang struktural, kitapun harus siap dengan serangkaian disiplin prosedur. Mengusung pandangan hidup yang sama. Berslogan, prinsip dan kritis pada suatu hal yang sama. Mulailah kita mengikuti kewajiban dan konskwensinya. Ibarat kendaraan, kita menjadi kereta api. Berjalan pada rel dengan posisi yang teratur. Tak bisa lagi zig-zag  tak bisa lagi selip sana sini. Kaku, tegas, tak pandang bulu. Begitulah kereta api. Harus ekstra sabar dan patuh terhadap aturan.

Sudahkah kita siap melangkah dengan kaki yang sama sahabatku?, "kanan-kiri, kanan-kiri". Tak sekedar nampak indah, juga agar tak terjadi cross.

Bagiku, ada baiknya aku mengenalmu sebagai individu. Dan sebaliknya. Sebab berkelompok akan membuat kita kembali pada jalan-jalan primitif. Berpotensi rasis, fasis. Itu hal biasa dalam suatu kelompok. Rentan dan sensitif. Belukar tak akan mudah ditata dan dirata. Sekalipun kita bukan tokoh utama, tapi ingatlah, belukarlah yang membuat jati yang dijaga enggan ditumbangkan. Dan sebelum jati tumbang belukar lah yang harus ditumbangkan dahulu. Belukar kuat karena pribadi yang liar kemudian saling mengenal. Tak seperti jati, tumbuh besar karena sendiri. Karena daunnya yang lebar menutupi sinar matahari pada daun belukar.

Belukar tetaplah belukar. Musim tak mampu membatasi dimana kau tumbuh menjalar dan mengakar.

0 komentar:

Posting Komentar