selamat malam kekasih, apa kabar?.
hari ke-tujuh belas bilan september. Bertepatan dengan yang dianggap baik di bulan Besar yang di anggap baik dalam perhitungan penanggalan jawa. Entah hari yang keberapa. Tanggalan masehi lebih akrab di kehidupan kita ketimbang penanggalan arab yang kemudian digubah sultan Agung ke penanggalan jawa.
Hari yang baik. Benar saja, berapa puluh pasang pengantin yang menandatangani kontrak seumur hidup mereka. Lalu kita kapan?. Sebuah pertanyaan klise baik dari sudut pandang satu ataupun dua. Sebuah pertanyaan yang tak cukup di jawab dengan tanggal bulan tahun saja. Ya, tak semudah itu.
Gemercik mendung yang gugur menimpa dedaunan di Pacitan barat. Menjadi teman selain asap tembakau dan bubuk-bubuk kopi dan juga wajahmu. Udara sejuk yang kemudian dingin. Hening, hanya menyisakan sedikit saja suara kodok dam jangkrik dalam audio semesta. Menjadi jeda yang sebentar dalam ke gaduhan materi, sosial serta politik yang penuh intrik. sebelum ahad yang akan datang seperti apa. Aku tak tahu.
Dunia sudah begitu kotor. Terkontaminasi dengan kemunafikan. Menerobos jalan-jalan larangan, serta memutar-mutar petunjuk sesuka hati. Serta kenaifan bocah-bocah yang baru belajar sedikit tentang hidup. Merasai pintar lalu menggurui. Memaparkan istilah tentang cinta mengumbar birahi,anarki dan liberalisasi. Menuntut bebas tanpa ada tekanan. Menuntut merdeka tanpa penjajahan, menuntut hak tanpa menperhatikan kewajiban. Konyol memang. Dan kita hidup dalam dunia yang konyol. Sekonyol-konyolnya.
Harusnya malam ini terang bulan. Tapi, seperti yang kau lihat. Awan-awan pekat menyelimuti semesta. Ringankan pikiranmu, dan lemaskan katup matamu. Selamat malam manis, istirahatlah. Mungkin esok kita bisa ligat bulan sempurna dan bertukar penilaian tentangnya. Have a nice night.
Filed Under : by tri widhiono
Sabtu, 17 September 2016
0 komentar:
Posting Komentar