Masih banyak orang yang mudah terkecoh. Konsentrasi yang mudah digiring pada pokok masalah yang semu. Menyederhanakan masalah. Hingga saat diurai sebagaimana mestinya menjadi terasa dibesar-besarkan. Menganggap hal yang dianggapnya sepele menjadi sesuatu yang konpleks. Dramatis,overdosis. Padahal itu hanya hal yang sewajarnya. Masalah kompleks yang mereka sederhanakan. Masalah yang telah salah mereka persepsikan. Itulah yang salah dengan cara mereka memandang suatu masalah.
Lebih-lebih soal kepercayaan. Sesuatu yang teramat sangat disakralkan. Seharusnya semua pihak tahu, gejolak seperti apa yang akan timbul bila terjadi gesekan pihak manapun dengan kesakralan lahir-batin setiap orang. Mudah sekali dikecoh, ketika kaum mayoritas bersuara, isu sara, rasis ataupun etnis kerap kali muncul. Ketika kaum mayoritas bersuara, sering terlampoi sering di-versuskan dengan kaum minoritas yang sebenarnya tak ada sangkutannya. Kalau sudah begitu, siapa korban isu sara, rasis dan etnis yang sebenarnya?.
Tidak ada agama manapun yang diajar memusuhi agama lainnya. Begitupun dengan budaya dan etnis manapun. Apalagi dalam konteks kebhinekaan. Yang lebih kerap dinistakan dengan keluarnya kata "mayoritas" dan "minoritas" oleh orang-orang yang dianggap guru, pakar, atau tokoh-tokoh penting masyarakat.
Seseorang mengatakan segolongan orang fanatik pada kepercayaannya. Sedang dia sendiri mati-matian membela tokoh kebanggaannya. Menganggap tokohnya sebagai panutan yang mutlak terhadap kebenaran.
Apa yang seperti itu tak juga disebut fanatik?. Lalu kita sama-sama fanatik. Dan kefanatikan mana yang lebih berdasar?, pada satu tokoh yang hidup pada durasi yang hanya puluhan tahun, atau pada pemahaman pada suatu nilai yang sudah ada sejak ratusan tahun?.
Sejatinya tidak ada pembenaran dalam suatu perang. Baik secara perdebatan atau perlombaan penggiringan opini. Selama jalan damai masih ada.
Empat Nopember dua ribu enam belas. Diberitakan terjadi demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Katanya. Menuntut Sang Gubernur di usut tuntas tentang kecurigaan telah terjadi penistaan agama. Dan yang perlu ditegaskan, ini bukanlah masalah antara agama ini dengan agama itu. Melainkan antara pihak yang merasa dilecehkan, pihak berwenang, dan sang Gubernur. Bukan antara agama dan etnis manapun. Dan demonstrasi seperti ini adalah hal yang biasa pada sistem demokrasi. Tak perlulah dianggap sebagai sesuatu yang najis atau dilebih-lebihkan. Biasa saja kok. Tak perlu juga banyak dibicarakan sebagai pemicu kericuhan. Bukankah kita punya pihak keamanan yang bertugas untuk antisipasi. Percayakan saja.
Menurut saya, mungkin ada baiknya sang Gubernur tak bicara soal agama dalam atmosfer politik, apalagi soal agama orang lain. Tak perlulah. Tak perlulah juga simpatisan sang Gubernur melancarkan serangan opini terhadap pihak-pihak yang tersinggung atas pernyataan Gubernur. Lebih-lebih pada guru-guru yang "digugu lan ditiru" oleh ribuan bahkan lebih pengikutnya.
Tidak masalah fanatik pada sesuatu. Yang tak perlu adalah mengukur kekuatan kefanatikan. Fanatik tak harus selalu dierat hubungkan dengan intoleran.
Kesetian, pendalaman makna, pandangan hidup yang konsisten.
Filed Under :
Jumat, 04 November 2016
0 komentar:
Posting Komentar