kembali. cakrawala melukis wajahmu. ketika siluet mentari senja pecah pada kacamata yang basah. udara berhembus sejuk, segar. Hujan baru saja berlalu. Menghempas terik yang seharian.
Kopiku serupa mantra-mantra. Kembali. Mengundang arwah-arwah kerinduan. Merasuki hati. Mengundang bayang wajahmu pada langit-langit anganku. Tanpa rima, tanpa sajak. Segala tentangmu begitu indah adanya.
Seraya, semesta alam bertasbih atas nama Tuhannya. Memuja setelah senja men-jingga-kan semesta. Seberapa jauh kita berada, setiap tiba saat seperti ini, kurasa kita melihat warna senja yang sama. Bukankah kita begitu dekat, Manisku?. Tersenyumlah. Peluk erat rinduku dan jangan kau lepaskan. Jangan biarkan aku merindu, sendiri.
Seharian listrik padam. Nadi ekonomi yang tergantung padanya, mati sejenak. Tapi biarlah. Agar nafas bisa berarti tanpa melulu soal uang. Biar terang lilin menyinari penaku menulis rindu, padamu.
Wonogiri selatan,
Benk_wd
7/10/16
Filed Under : by tri widhiono
Selasa, 08 November 2016

0 komentar:
Posting Komentar