Yang saya rasakan, yang saya lihat

Benk Widhiono

@benkwidhiono

November rain 11/11

Hari ini hari ke sebelas bulan sebelas.

Lagi-lagi tempat yang jauh dari kesan pendidikan jauh memberikan penjelasan. Warung lotek disebrang misalanya. Entah apa yang membawa seorang bapak paruh baya mampir memesan lotek dan segelas teh. Lapar. Itu jawaban yang paling mungkin terjawab. Tapi tak menutup kemungkinan ada jawaban lain. Entah racun apa yang beliau makan siang tadi. Ucapan-ucapannya membuat aku mengangguk-angguk. Ya, benar. Kata sempurna secara nalar manusia. Yang mungkin tak diajarkan oleh sekolah bahkan universitas manapun, yang lebih memaksa otak muridnya yang dinamis dan fleksibel menjadi kaku dan primitif oleh hafalan-hafalan.

"hidup harus berpolitik,
Tanpa politik kamu tak akan menikmati kopi. Tak akan tahu rasanya sayur. Minum air putih. Makan nasi putih, loh kok ga ada kuahnya?, kasih air putih. Bisa hidupkah orang seperti itu?, hidup tapi tak merasakan hidup", ucapnya kemudian tertawa.

Memang hidup dijaman ini tidaklah susah. Manusia-manusia diacak dengan pemikiran-pemikiran orang-orang yang mengaku penemu ilmu itu. Menjadi ajaran hafalan. Mana mungkin seseorang menemukan suatu ilmu diluar proses penghafalan menurunkan ilmu dengan hafalan. Itu hanya akan melahirkan manusia setengah robot. Hidup tapi mati. Mati tapi bernafas. Hanya menunggu proses penguraian oleh alam.

Sejatinya ilmu itu ada didalam jiwa manusia. Dann alam menerangkan semua. Alam lag mediasi. Makluk-makluk yang penuh taqwa. Tak mengeluh. Patuh terhadap titah sang Maha.

0 komentar:

Posting Komentar